Jumat, 20 Sep 2019 10:30 WIB  •  Dilihat 519 kali  •  http://www.mdn.biz.id/o/87100/
ARTIKEL Ir Immanuel Otto Siahaan
Sesar Sumatra pada Ruas Jalan Batu Jomba-Aek Latong
Dalam beberapa tahun belakangan ini perhatian pemerintah terhadap infrastruktur jaringan jalan sangat tinggi, baik dalam bidang preservasi jalan maupun pembangunan ruas-ruas jalan baru. Salah satu ruas jalan nasional yang sering menjadi perhatian di Sumatra Utara adalah jalan Tarutung-Sipirok, terutama di sekitar Batu Jomba-Aek Latong, yang berada di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan. Di lokasi ini terdapat beberapa titik yang sering mengalami kerusakan akibat fenomena geologi yang disebut sesar aktif Sumatra, yaitu suatu jalur patahan di Pulau Sumatra, di mana terjadi pergeseran lempeng India Australia relatif terhadap lempeng Eurasia.

Menurut Buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 (ISBN 978-602-5489-01-3), besaran pergeseran lempeng (sliprate) di lokasi ini berkisar antara 24 – 26 mm/yr.

Di sekitar Batu Jomba saja dalam radius 2 km terdapat setidaknya 6 lokasi kerusakan (penuh selebar badan jalan) berupa patahan melintang dan memanjang yang diduga kuat diakibatkan oleh pergerakan tanah, yaitu di Aek Latong (arah ke Sipirok) sebanyak 3 titik dan di Sihoru-horu (arah ke batas Kabupatan Taput) juga 3 titik. Berdasarkan pengamatan kami, di lokasi ini (termasuk di Batu Jomba) patahan sesar aktif Sumatera telah mengakibatkan kerusakan struktur maupun geometri (terutama pada alinyemen vertikal) badan jalan.

Pada patahan Sihoru-horu (2 titik patahan yang berada sekitar 100 dan 150 meter dari jembatan Sihoru-horu), misalnya, terjadi penurunan badan jalan yang menerus sepanjang 50 m dengan besaran penurunan antara 60 - 100 cm. Menurut warga yang tinggal di lokasi tersebut (marga Siregar), penurunan badan jalan ini mulai terjadi sejak tahun 2016-2017, di mana sebelumnya kondisi badan jalan masih rata dan mulus.

Jalan Sibual-buali

Menurut seorang tua warga Sipirok (juga marga Siregar gelar Pak Kancil), setelah dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda dan kemudian sering mengalami kerusakan akibat fenomena patahan geologi, ruas jalan Tarutung - Sipirok ini tidak lagi diperhatikan atau dirawat. Padahal ruas jalan ini merupakan jalur vital penghubung kota Tarutung dengan kota Sipirok.

Untuk memenuhi kebutuhan transportasi masyarakat pada waktu itu, akhirnya sebuah perusahaan pengangkutan (PO Sibual-buali) berinisiatif untuk melakukan perawatan ruas jalan ini supaya bisa terus beroperasi melayani pengangkutan penumpang dan barang dari Tarutung ke Sipirok dan sebaliknya. Itulah sebabnya (menurut Pak Kancil) ruas jalan Tarutung - Sipirok ini sempat disebut sebagai Jalan Sibual-buali.

Dilema penanganan

Sekarang ruas jalan Tarutung - Sipirok berstatus jalan nasional yang terus mendapat perhatian pemerintah. Anggaran tetap dikucurkan untuk pekerjaan rekonstruksi maupun pemeliharaan rutin di ruas jalan ini. Namun akibat letak geografisnya yang berada di jalur patahan sesar aktif Sumatera, penanganan untuk ruas jalan ini menjadi dilematis.

Meskipun anggaran untuk rekonstruksi jalan terus dikucurkan, kekhawatiran tetap ada bahwa sepanjang masa konstruksi ataupun masa pemeliharaannya badan jalan tetap akan mengalami kerusakan yang bukan disebabkan oleh faktor pembebanan sesuai norma perencanaan teknis jalan, melainkan oleh faktor alam, yaitu akibat patahan sesar aktif Sumatra. Di sisi lain, apabila kerusakan badan jalan akibat patahan ini tidak ditangani, maka target kondisi ruas jalan yang mantap secara menyeluruh tidak akan tercapai.

Saran dan Alternatif

Pergerakan tanah pada jalur sesar aktif Sumatra yang mengakibatkan kerusakan badan jalan di sekitar Batu Jomba- Aek Latong merupakan fenomena alam yang sulit diatasi. Oleh sebab itu, untuk memenuhi kebutuhan prasarana jalan penghubung Kota Tarutung-Sipirok yang aman dan nyaman, maka perbaikan kerusakan-kerusakan badan jalan yang diakibatkan oleh patahan ini sebaiknya ditangani dengan pekerjaan holding, yaitu suatu jenis pekerjaan yang bertujuan untuk mempertahankan kondisi jalan supaya tetap sama dengan kondisi sekitarnya, sekaligus untuk mempertahankan fungsional jalan.

Dengan anggaran yang lebih besar, supaya bisa mendapatkan kondisi jalan yang betul-betul mantap dengan kapasitas yang memadai, maka yang dapat dilakukan adalah :

1. Meningkatkan kapasitas dan status jalan alternatif Tarutung-Pangaribuan-Arse-Sipirok.

2. Membangun trase jalan baru yang aman terhadap patahan sesar aktif Sumatra.

Dalam pemindahan jalur jalan Tarutung-Sipirok ini (alternatif 1 dan 2) perlu juga dilakukan kajian nonteknis, yaitu kajian terhadap dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat di sekitar Pahae, Simangumban, Hutaimbaru, Batu Jomba dan Aek Latong.


*Penulis adalah anggota Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia. Tulisan ini disarikembangkan dari sebagian kajian teknis yang disusun penulis untuk satu paket pekerjaan jalan di Sumatera Utara.

====

medanbisnisdaily.com menerima tulisan (artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya . Tulisan hendaknya orisinal, belum pernah dimuat dan tidak akan dimuat di media lain, disertai dengan identitas atau biodata diri singkat (dalam satu-dua kalimat untuk dicantumkan ketika tulisan tersebut dimuat). Panjang tulisan 4.000-5.000 karakter. Kirimkan tulisan dan foto (minimal 700 px) Anda ke [email protected]

Penulis Artikel
IR IMMANUEL OTTO SIAHAAN
Editor
SASLI PRANOTO SIMARMATA
Sumber: AirVisual.com
Reaksi Anda
Senang
13.96%
Bangga
14.53%
Lucu
15.38%
Terkejut
13.39%
Sedih
14.81%
Takut
13.11%
Marah
14.81%
 
Berita Terkait
Senin, 11 Nov 2019 09:39 WIB
Senin, 11 Nov 2019 09:13 WIB
Jumat, 08 Nov 2019 07:39 WIB
Senin, 04 Nov 2019 11:35 WIB
Senin, 04 Nov 2019 07:41 WIB
Jumat, 01 Nov 2019 06:40 WIB
Minggu, 20 Okt 2019 07:15 WIB
Fokus Berita
Komentar Anda