Selasa, 25 Sep 2018 13:13 WIB  •  Dibaca: 151 kali
Menebar Jurus Santun Demokrasi
Aksi saling peluk antara Jokowi dan Prabowo dengan atlet peraih medali emas di kancah Asian Games lalu menarik perhatian publik. Momen langka itu seakan membuat gunung es persaingan politik semakin mencair dan sejuk.
Dan tidak berlama berselang, aksi yang hampir serupa diulang kembali oleh Sandi kala bertempu dengan Erick Tohir. Dua orang sahabat saling berpelukan kendati berada dalam kubu yang berbeda.Potret di atas sejatinya adalah laku politik yang harus mendominasi dalam ruang berdemokrasi kita.

Pertarungan politik tidak harus diletakkan dalam perang yang saling” membunuh” dan “berdarah-darah” yang akhirnya meluluhlantakkan persaudaraan dan persatuan anak bangsa. Pertarungan politik mestilah diletakkan dalam koridor demokrasi yang penuh kontestasi, saling adu visi misi, demi kejayaan sebuah bangsa.

Hari ini kita menyaksikan bagaimana pemandangan berdemokrasi kita masih didominasi oleh laku-laku yang meruntuhkan kesantunan. Pemandangan itu kian terlihat nyata di dunia maya. Saling caci maki, saling tuduh dan merendahkan pihak lain menjadi bualan keseharian. Bahkan acapkali menebar berita hoax demi menjatuhkan lawan politik. Saling ejek itu sudah memiliki panggilan masing-masing.

Istilah “cebong” dan “kampret” malah seakan menjadi identitas pemisah antara dua kubu yang berlawanan. Bila perilaku ini yang menjadi identitas berdemokrasi di Tanah Air, kita khawatir bangsa ini akan semakin menanam dendam yang berkepanjangan. Dendam yang tidak akan hilang setelah perang berakhir.

Malahan berpotensi menjadi penyakit yang akan menyulitkan anak bangsa untuk duduk bersama, menjalin persatuan dan kesatuan bangsa. Bukankah dulu tanah ini begitu lama dijajah dan tidak bisa bangkit meraih kemerdekaan akibat diadu sesama anak bangsa dengan laku devide det impera penjajah.

Untuk itu, sudah saatnya anak bangsa meninggalkan jurus kasar berdemokrasi dan menggantinya dengan jurus-jurus santun.

Kendati bersaing dalam gelanggang politik, namun yang kalah tidak harus malu dan menutup muka, tapi masih bisa tersenyum, karena yang menang, menang dengan cara-cara bermartabat dan tidak menepuk dada, menganggap yang berbeda bukan musuh selamanya tapi bagian dari saudara sebangsa yang berbeda pilihan saja. Ibarat pepatah, menang tanpa melukai.

Anak bangsa harus belajar dari sejarah bangsa ini, keterbelahan yang kian akut dan tidak pernah surut pasca kontestasi demokrasi hanya akan membuat bangsa ini tidak bisa  berjalan cepat dan melecut dirinya untuk maju dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia yang telah mengorak langkah maju lebih dahulu. Sebab, persatuan dan gerak langkah serempak anak bangsa menjadi kunci dasar agar gerbong besar yang bernama Indonesia bisa berjalan dengan baik.

Kita tentu tidak ingin bangsa ini bergerak lambat, apalagi gerbongya terputus akibat perbalahan politik yang tiada akhir. Oleh karena itu menebar jurus santun dalam arena kontestasi demokrasi menjadi penting agar pertandingan itu berjalan fair tanpa meninggalkan luka yang mendalam.

Menebar jurus santun, bukanlah tugas mudah terutama dalam gelanggang politik di era teknologi informasi. Kendati demikian, juga bukan hal yang mustahil menebarkannya dalam gelanggang persaingan politik yang sengit dan kompetitif. Semuanya berkorelasi dengan regulasi, kebijakan yang adil dan contoh teladan dari elit politik dan dari pihak-pihak yang memiliki kuasa dan juga media-media mainstream.

Regulasi menjadi penentu agar jurus perang politik yang ditebar tidak liar dan menebar emosi yang tidak terkendali. Untuk itu peraturan yang jelas, tegas dan penegakan atas siapa saja yang melanggar menjadi keniscayaan.

Demikian juga dengan kebijakan pemerintah yang adil dan memandang semua rakyatnya sama kendati pilihan politiknya berbeda, serta perilaku elit politik yang menyuguhkan keteladan dalam ucapan dan tindakan.

Dan takkalah pentingnya bagaimana media memberikan ruang seimbang dalam pemberitaan. Bila laku-laku ini yang dominan dalam demokrasi kita, alamat pemandangan sejuk akan mewarnai kontestasi dan akan semakin memantik lahirnya jurus-jurus santun dalam berdemokrasi. Sudah saatnya bangsa ini dewasa dalam berdemokrasi dan tidak lagi menebar jurus-jurus kasar dalam gelanggang perang demokrasi.

(Oleh: Suhardi El-Behrouzy) Pemerhati Politik, Alumnus Pascasarjana UKM Malaysia
 
Berita Terkait
Sabtu, 15 Des 2018 10:19 WIB
Senin, 03 Des 2018 11:04 WIB