Rabu, 26 Sep 2018 11:02 WIB  •  Dibaca: 180 kali
Memilah Informasi di Era Digital
Apakah benar bahwa derasnya arus informasi menjadi menjadi tanda kemajuan peradaban manusia? Belum tentu. Karena informasi-informasi yang beredar di tengah-tengah kita tidak semuanya membuat pikiran kita berkembang. Kadang kala infomrasi itu menyulut api permusuhan. Banyak oknum penyebar hoax/ informasi palsu yang justru meresahkan kehidupan masyarakat.
Kebudayaan dan perdaban manusia semakin bergerak mundur ketika penggunaan teknologi tidak diberangi dengan komitmen terhadap nilai-nilai luhur dan moralitas. Pantas saja sebagian masyarakat kita saling curiga, salin membenci, dan akhirnya timbullah benih-benih permusuhan yang disebabkan oleh penyebar informasi palsu. Dalam hal ini, warganet dihimbau untuk tidak mudah terpengaruh berita/ informasi yang belum jelas sumbernya.

Karena bisa jadi informasi tersebut disebarluaskan oleh oknum yang hendak memecah belah bangsa dan mengadu domba kita. Jika kita terpancing oleh ulah penyebar informasi tersebut, maka harga yang harus dibayar sangatlah mahal; yaitu bangsa ini akan tercerai berai. Tidak jarang para pembuat dan penyebar hoax tersebut menyudutkan salah satu tokoh lawan politiknya; semisal dengan cara menfitnah dan membongkar aib-aib sang tokoh. Padahal informasi semacam itu sama sekali tidak bermanfaat bagi kita; alias tidak penting. Kita bisa menyebutkan informasi semacam itu sebagai informasi ‘sampah’.

Ironinya, sebagian masyarakat kita mudah mempercayai dan meyakini informasi yang beredar melalui internet; tanpa mengecek validitas informasi tersebut. Padahal dari di zaman ledakan informasi seperti sekarang, yang namanya berita bohong beredar melalui banyak cara; termasuk juga dengan pesan berantai atau juga postingan yang diposting ulang dan dibagikan ulang. Kadang tidak sadar perbuatan gegabah semacam itu justru menimbulkan prasangka, kecurigaan, dan pikiran negatif warganet lainnya. Karena tidak mungkin semua warganet membenarkan infomasi yang kita bagikan.

Kondisi semacam  itu semakin diperparah oleh karena tingginya kepercayaan sebagian masyarakat terhadap informasi  yang beredar melalui internet. Hal itu dibuktikan oleh Survei Edelmen Trust Barometer 2015 di Indonesia; yang menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat pada online search engines mencapai 80 persen atau sama setahun sebelumnya.

Sementara itu, kepercayaan terhadap media tradisiojnal seperti koran dan televisi justru turun 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya hingga menyenetuh 72 persen atau paling rendah empat tahun terakhir. Kepercayaan pada media tradisional sebagai sumber informasi itu berbeda tipis dengan kepercayaan terhadap media sosial yang mencapai 71 persen.

Sebagian dari kita juga mudah menyebarkan dan membagikan berita-berita yang di dalamnya ada ujaran kebencian, fitnah, dan pencemaran naman baik tokoh-tokoh tertentu. Padahal sikap semacam itu membuat para provokator dan penyebar hoax semakin tertawa lebar karena kita secara sukarela menjadi perpanjangan tangan mereka.

Secara tidak langsung kita membantu para penyebar berita palsu tersebut menviralkan  hoax kepada khalayak ramai. Sehingga secara cepat informasi palsu itu diakses oleh semua kalangan; termasuk juga oleh sebagian emaja dan pemuda yang belum paham betul maksud dan tujuan di balik berita itu.

Di era digital sekarang, sebenarnya salah satu hal yang kita butuhkan adalah kemampuan memilah dan memilih mana informasi penting, kurang penting, dan tidak penting.

Kemampuan untuk mengkroscek validitas atau kebenaran berita yang sedang kita akses. Kita diharapkan mampu menyintesis atau memadukan informasi sehingga bisa dilihat benang merahnya. Howard Gardner dalam Five Minds the future (2007) telah mengingatkan bahwa salah satu kemampuan otak yang diperlukan di masa depan adalah menyintesis informasi. Di era tsunami digital, penting kiranya untuk bisa menyaring informasi melimpah dan menjadikannya pengetahuan yang berguna bagi dirinya.

Ledakan informasi yang sifatny massif menuntut kita agar cekatan, kritis, dan bisa memilah mana informasi yang hendak diakses. Karena bisa jadi informasi yang kita dibaca isinya hanyalah kotoran/ sampah yang bisa merusak jalan pikiran kita.  Mirra Noor Mirra, salah satu psikolog sosial UIN Sultan Syarif Kasim, pernah menyatakan bahwa kemampuan berpikir di era tsunami digital adalah berpikir rasional komperhensif; keputusan atau keseimbangan informasi juga diambil berdasarkan informasi yang lengkap dan mempertimbangkan banyak hal.

Selanjutnya, untuk berpikir rasional komperhensif dibutuhkan pikiran terbuka. Pikiran terbuka sangat dipengaruhi oleh pola interaksi, keluasan pergaulan, heterogenitas lingkungan, pengalaman hidup, hingga pola pendidikan keluarga dan sekolah sejak dini.

Jika ditelaah lebih lanjut lagi, di era digital sekarang, sebenarnya yang menjadi musuh paling nyata yang kita hadapi adalah pikiran kita sendiri. Karena dengan pikirannya manusia menafsirkan berita-berita yang beredar.

Taufiq, salah satu dosen Fakultas Kedokteran Unsrat dan pendiri Health and Sprituality UIN Sunan Kalijaga, pernah berujar bahwasanya musuh terbesar manusia adalah pikirannya. Pikiran bisa menafsirkan sesuatu sesuai apa yang dia mau.

Oleh sebab itu, kadang informasi yang jelas-jelas netral bisa jadi ditafsirkan secara keliru oleh pikiran kita sendiri. Jadi berdasarkan uraian di atas, saya selaku penulis berharap agar kita bisa semakin cerdas dan kritis dalam mengakses serta menyebarluaskan informasi. Bisa menyaring mana informasi yang jelas sumber dan validitasnya dengan yang tidak. Memang kita perlu mengupayakan sedari sekarang untuk berlatih rasional, kritis, dan logis.

Dan untuk memperoleh cara berpikir semacam itu salah satu jalan yang bisa menentukan adalah pendidikan. Pendidikan yang saya maksud tidak hanya di bangku sekolah; namun juga di luar kelas; seperti di masyarakat dan keluarga. Jadi teruslah belajar untuk semakin dewasa dan bijak dalam memilah informasi di era digital.

(Oleh: Muhammad Aufal Fresky) Penulis adalah Kolumnis/ Esais
 
Berita Wacana Lainnya
Jumat, 28 Sep 2018 11:36 WIB
Jumat, 28 Sep 2018 11:35 WIB
Jumat, 28 Sep 2018 11:34 WIB
Jumat, 28 Sep 2018 11:33 WIB
Rabu, 26 Sep 2018 11:12 WIB
Rabu, 26 Sep 2018 10:54 WIB
Selasa, 25 Sep 2018 13:14 WIB
Selasa, 25 Sep 2018 13:13 WIB
Selasa, 25 Sep 2018 13:12 WIB
Selasa, 25 Sep 2018 13:08 WIB