Jumat, 08 Mar 2019 11:12 WIB  •  Dibaca: 224 kali
Salah Tangkap dan Dijebloskan ke Penjara
Hampir Sembilan Tahun Menunggu Rp 5 Juta
MedanBisnis - Semarang. Korban peradilan sesat, Sri Mulyati (43), akhirnya menerima uang Rp 5 juta dari negara sebagai wujud keadilan terhadap apa yang menimpanya. Tapi, apa memang uang sejumlah Rp 5 juta itu layak untuk menunjukkan keadilan?
"Suka, sih, tapi ada kecewanya karena hanya sejumlah itu, nunggunya hampir sembilan tahun," kata Sri saat ditemui, Rabu (6/3).

Kalimat itu mengawali ungkapan perasaan Sri saat ditanya sehubungan sudah cairnya ganti rugi dari negara kepadanya. Ia bercerita di warung kecil tempatnya bekerja menggoreng keripik peyek, sambil sesekali tersenyum berusaha menutupi kesedihannya dengan rasa syukur.

"Uangnya sudah habis buat bayar utang, terimanya kemarin (Selasa-red)," jelas ibu empat anak itu.

Perjuangannya memperoleh keadilan itu didampingi LBH Mawar Saron Semarang sejak awal. Sri mengaku berjuang karena nominal tersebut dirasanya tidak sedikit, namun yang lebih penting perjuangan keadilan untuk mendapat haknya.

"Sulitnya, kayak dipingpong, sampai ke Jakarta juga," ujarnya.
Nestapa yang menimpa Sri berawal 8 Juni 2011 saat dia dituduh melakukan perdagangan anak, yaitu mempekerjakan anak di bawah umur di sebuah tempat karaoke, padahal dia hanya seorang kasir di situ. Bahkan ia berada di rumah ketika polisi menggerebek tempat kerjanya dan diminta datang.

Dalam persidangan, PN Semarang menjatuhkan huuman delapan bulan penjara dan denda Rp 2 juta dengan subsider dua bulan kurungan. PT Semarang kemudian memperberat hukuman menjadi satu tahun dua bulan penjara dan denda Rp 2 juta.

LBH Mawar Saron mengajukan kasasi hingga akhirnya MA membebaskan Sri setelah 13 bulan dibui. Berbekal putusan bebas itu, pihak Sri menuntut ganti rugi ke negara, kemudian hakim menghukum negara membayar Rp 5 juta kepada Sri dan mengembalikan uang denda Rp 2 juta yang sudah dibayar Sri.

"Jadi Rp 5 juta itu dari negara, yang Rp 2 juta itu memang uang saya," jelas Sri.
Selesai? Belum! Karena dampak dia dibui sangat besar bagi keluarganya. Tiga dari empat anak perempuannya harus putus sekolah dan membantu mencari nafkah karena Sri adalah tulang punggung, sedangkan suaminya Hendra Wijaya hingga kini hanya bisa di rumah akibat diabetes.

"Yang sekolah hanya satu, sekarang SMK kelas tiga. Saya pertahankan itu," imbuh Sri.

Sri pun merelakan putri keduanya menikah di usia belia karena dia sangat lama mendekam di bui tanpa penghasilan. Setelah bebas dan memperjuangkan haknya, Sri lanjut pontang-panting memenuhi kebutuhan keluarga.

Saat ini Sri bekerja di tiga tempat sekaligus. Pukul 05.00-12.00 membantu di rumah makan, kemudian pindah membantu bersih-bersih di daerah Gombel sampai pukul 16.00, lantas ke warung di Jalan Cimanuk V untuk menggoreng peyek hingga pukul 21.00.

"Di rumah numpang tidur saja, haha. Ya, sampai rumah bersih-bersih sama bantu persiapan sekolah anak. Tidur paling dua sampai tiga jam. Pendapatan dari tiga tempat itu, total ya sekitar Rp 2,5 juta sebulan," ungkapnya.

Selain itu, Sri dan anak terkecilnya sedikit trauma pada polisi. "Masih trauma. Hari Senin (4/3-red) datang orang polres ke rumah, saya masih kerja, anak langsung telepon tanya ada apa lagi. Polisinya juga tidak menjelaskan, katanya saya sudah tahu," ujarnya.

Kepanikan itu mereda setelah Sri pulang dan menghubungi polisi yang datang ke rumahnya karena dia meninggalkan nomor telepon. Petugas itu datang untuk mengabarkan uang dari negara sudah cair. Dia minta didampingi LBH Mawar Saron sebagai saksi untuk menerima uang tersebut di Mapolrestabes Semarang.

"Ya, kalau dipikir, ya tidak adil sebenarnya. Dipenjara satu tahun, sehari misal bisa punya penghasilan Rp 100 ribu, kan banyak. Anak-anak jadi tidak sekolah, jadi berantakan," tutur Sri sambil berusaha menahan air mata. (ling-dtn)
 
Berita Hukum Lainnya
Rabu, 27 Mar 2019 11:57 WIB
Rabu, 27 Mar 2019 11:55 WIB
Selasa, 26 Mar 2019 11:37 WIB
Selasa, 26 Mar 2019 11:32 WIB
Selasa, 26 Mar 2019 11:31 WIB
Jumat, 22 Mar 2019 12:21 WIB
Jumat, 22 Mar 2019 12:20 WIB
Error Connection (2)