Selasa, 26 Mar 2019 10:21 WIB  •  Dibaca: 5,145 kali
Tarif Ojol Naik 20% Mulai 1 Mei
MedanBisnis - Jakarta. Tarif ojek online (Ojol) naik mulai 1 Mei 2019 mendatang. Khusus di Jabodetabek, tarif untuk 4 kilometer (km) pertama minimal Rp 8.000 hingga Rp 10.000 per km. Selanjutnya, tarif batas bawah per km sebesar Rp 2.000, sementara batas atasnya Rp 2.500.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Budi Setiyadi dalam paparannya menyebutkan, biaya jasa minimal merupakan biaya yang dibayarkan penumpang untuk jarak tempuh paling jauh 4 km. Dengan begitu, penumpang akan membayarkan Rp 8.000 untuk 4 km. Lalu, tarif  selanjutnya per km sebesar Rp 2.000.

Tapi ingat, biaya batas bawah, batas atas dan biaya minimal belum termasuk biaya jasa yang sudah mendapat potongan biaya tidak langsung berupa biaya sewa penggunaan aplikasi. Artinya, untuk aplikasi sendiri konsumen harus merogoh kocek lagi, maksimal 20%. Tambahan 20% merupakan komponen tarif tidak langsung yakni jasa aplikator.

"20% biaya tidak langsung itu hak aplikator, dia memelihara aplikasi, operasionalnya, dia kan juga punya pegawai," katanya di Kemenhub Jakarta, Senin (25/3).

Dia menjelaskan, tarif  baru ini sebenarnya mengakomodasi keinginan para driver soal kenaikan tarif. "Memang ada kenaikan (tarif) sedikit," katanya.

 Budi menerangkan jika tarif bersih (nett) atau tanpa potongan jasa aplikator saat ini sekitar Rp 1.600 - Rp 1.800, maka pada tarif yang baru terjadi kenaikan 10% hingga 20%, menjadi sekitar Rp 1.800 - Rp 2.100 per km untuk batas bawahnya. "Kalau misalnya penerapan nett-nya Rp 1.800 kita naikan Rp 2.000 berarti ada kenaikan Rp 200, sekitar 20% barang kali ya," ujarnya.

Meski begitu, Budi menyebutkan, tarif ini tidak bersifat tetap. Tarif itu akan dievaluasi setiap 3 bulan sekali.

"Dinamika tarif mengikuti bagaimana aspek ekonomi, sosial termasuk politis, kita menormakan surat keputusan ini 3 bulan sekali lakukan evaluasi," tuturnya.

Dia menambahkan, batas atas diterapkan untuk melindungi konsumen. Dengan demikian, konsumen tidak membayar tarif terlampau mahal."Kita kan dari batas bawah ke atas, up to, kalau batas atas kita ingin melindungi pengemudi dan masyarakatnya. Jangan sampai masyarakatnya bayar berlebihan," katanya.

Dia menerangkan, dalam kondisi tertentu tarif bisa saja naik. Sebab, hal itu berkaitan dengan ketersediaan dan permintaan."Kenapa harus ada batas atas, biasanya dikenakan saat malam hari, saat hujan, atau saat jam sibuk peak hour pagi itu antara supply dengan demand tidak seimbang, itu dikenakan seperti itu (batas atas)," ujarnya.

Dengan adanya batas atas ini, aplikator juga tidak bisa 'memainkan' harga sehingga tarifnya lebih dari Rp 2.500 per km."Itu Rp 2.500, nanti jangan dikenakan Rp 3.000 kan bisa saja, permainan aplikasi kan bisa seperti itu. Jadi kalau seperti ini, ini mengingat, artinya, aplikator tidak boleh memainkan batas atas saat di atas Rp 2.500," ujarnya.

Budi menyadari, keputusan ini tak akan menyenangkan semua pihak. Menurutnya, ada yang senang, ada juga yang tidak senang dengan keputusan ini."Saya kira, tadi saya sampaikan sebuah keputusan ada suka, ada tidak suka," katanya.

Meski demikian, Budi menerangkan, regulasi Ojol termasuk tarif di dalamnya tak lepas dari usulan pengemudi atau driver Ojol. Sebab itu, dia berharap driver mau menerima keputusan ini. "Ini adalah regulasi mengikuti tuntutan pengemudi," ujarnya.

Ketua Presidium Nasional Gabungan Roda Dua (Garda) Indonesia Igun Wicaksono menyebutkan tarif  Ojol tersebut masih di bawah usulan driver, di mana sebelumnya driver mengusulkan Rp 2.400 per km nett, atau gross sebesar Rp 3.000 km.

Menurutnya, usulan Rp 3.000 per km itu memasukkan potongan jasa untuk aplikator sebesar 20%. "Satu potongan jasa 20%, kedua perawatan kendaraan, terus penyusutan kendaraan, kami kan setiap bulan rata-rata mengangsur kendaraan," katanya. (dtf)
 
Berita Terkait
Selasa, 12 Mar 2019 10:13 WIB