Selasa, 26 Mar 2019 10:24 WIB  •  Dibaca: 1,699 kali
SEA of India:
"Soal Sawit, Lihatlah ke Kami, Abaikan Barat"
MedanBisnis - Medan. Para pengusaha India meminta pengusaha dan pemerintah Indonesia untuk mengabaikan kampanye negatif pihak Barat, dalam hal ini Eropa dan Amerika Serikat, terkait minyak sawit nasional Indonesia.
Pihak India berharap agar Indonesia fokus kepada pasar baru di luar Eropa dan Amerika Serikat yang hanya sedikit mengonsumsi minyak sawit Indonesia, yakni India, Pakistan, China, dan negara-negara lainnya.

"Ayo Indonesia, kalau soal sawit, abaikan  Barat. Lihatlah ke kami sebagai pasar potensial kalian. Lihatlah India, Pakistan, China, dan lainnya. Abaikan mereka (Barat)," ujar Presiden Direktur The Solvent Extractors' Association of India (SEA) Atul Chaturvedi di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Jalan Brigjen Katamso Medan, Senin (25/3).

Atul hadir di Medan bersama sejumlah koleganya yang tergabung dalam SEA of India, sebuah asosiasi bagi 850 perusahaan pengolahan minyak nabati India, untuk bertemua dengan para pengusaha sawit Indonesia.

Kedatangan mereka difasilitasi oleh Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) yang dipimpin oleh Derom Bangun dan Yayasan Solidaridad, sebuah NGO Indonesia yang concern dalam pemberdayaan petani sawit swadaya, yang dipimpin oleh Violace Putri selaku Koordinator Program.

Hadir dalam acara itu Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mustafa M Daulay, para peneliti senior PPKS seperti Donald Siahaan, Akmal Agustira, Soeroso Rahutomo, Edy Suprianto, dan lainnya. Kemudian, hadir juga Willistra Danny selaku Asisten Deputi Kementerian Koordinator Perekonomian bidang Perkebunan dan Holtikultura.

Kata Atul, sawit punya banyak nilai kebaikan yang sangat bermanfaat bagi manusia, termasuk bagi masyarakat India. Mereka sendiri setiap tahun membutuhkan tak kurang dari 9 juta ton minyak sawit, di mana 6 juta ton didatangkan dari Indonesia dan sisanya dari Malaysia. Secara nasional, mereka butuh 23,5 juta ton minyak nabati, di mana 15 juta di antaranya harus diimpor.

Kedatangan pihaknya ke Indonesia juga untuk belajar bagaimana mengelola perkebunan sawit secara benar. Ia mengatakan, saat ini India punya 300 ribu hektare (ha) sawit, terutama di India Selatan seperti di Goa, Andrapradesh, dan lainnya. Pihaknya berencana meningkatkan luasan lahan sawit India menjadi 3 juta ha dalam beberapa tahun ke depan.

Menanggapi hal itu, Willistra Danny selaku Asisten Deputi Kementerian Koordinator Perekonomian bidang Perkebunan dan Holtikultura mengungkapkan, sebagai negara timur, Indonesia mencoba berkomunikasi dengan cara yang manis dan baik untuk menghadapi setiap kampanye hitam pihak Eropa dan Amerika Serikat terhadap sawit nasional Indonesia.

Namun ia memastikan kebijakan komunikasi itu akan ditinggalkan. Kata dia, Indonesia akan menggunakan sikap yang keras dan tegas, apalagi sejak Parlemen Uni Eropa mengeluarkan kebijakan yang sangat diskriminatif terhadap sawit nasional Indonesia.

Derom Bangun dalam kesempatan itu mengatakan kedua belah pihak sepakat untuk mempromosikan sawit secara benar dan baik melalui berbagai media, baik kampanye di setiap stasiun teve di India dan Indonesia, atau pun menggelar berbagai seminar dan pertemuan. Kedua belah, kata Derom, juga sepakat untuk menguatkan pembangunan sawit yang berkelanjutan, baik dengan standar yang ada di Indonesia dan India, yakni ISPO dan IPOS (Indonesia Sustainable Palm Oil dan India Palm Oil Sustainable). (hendrik hutabarat)
 
Berita Ekonomi Lainnya
Jumat, 29 Mar 2019 10:53 WIB
Jumat, 29 Mar 2019 10:52 WIB
Rabu, 27 Mar 2019 10:32 WIB
Selasa, 26 Mar 2019 10:24 WIB
Selasa, 26 Mar 2019 10:23 WIB
Senin, 25 Mar 2019 11:24 WIB