Jumat, 29 Mar 2019 10:50 WIB  •  Dibaca: 8,112 kali
Kredit Bank Tumbuh 12,13 %
Pinjaman Online Naik 605%
MedanBisnis –Jakarta. Financial technology (fintech) tercatat menyalurkan pinjaman sebesar Rp 7,05 triliun pada Februari 2019. Angka ini tumbuh 605% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy) sebesar Rp 1 triliun.
"Total pinjaman outstanding termasuk yang sudah dilunasi Rp 7,05 triliun. Tumbuh 600% tinggi sekali," kata Deputi Komisioner Stabilitas Sistem Keuangan OJK Santoso Wibowo di kantor OJK Kompleks Bank Indonesia (BI), Jakarta Pusat, Kamis (28/3).

Outstanding penyaluran pinjaman fintech terus meningkat setiap bulannya. Berdasarkan data OJK penyaluran pinjaman fintech pada Agustus 2017 sebesar Rp 480 miliar. Angkanya kemudian terus naik menjadi Rp 3,04 triliun pada Agustus 2018 dan mencapai puncaknya pada Februari 2019 Rp 7,05 triliun.

Akan tetapi, rasio pinjaman yang macet mengalami peningkatan. OJK mencatat rasio pinjaman tidak lancar (30-90 hari) sebesar 3,175% dan rasio pinjaman macet (>90 hari) 3,18%."Cukup tinggi dibandingkan bank," tambahnya.

Hingga saat ini, ada 99 fintech terdaftar di OJK dengan rincian 96 fintech konvensional dan 3 syariah. Berdasarkan lokasinya, 95 fintech berada di Jabodetabek sedangkan sisanya berada di Bandung, Lampung dan Surabaya.

Pertumbuhan Kredit Bank

Sementara pertumbuhan kredit bank mencapai 12,13% year on year (yoy) di Februari 2019. Sedangkan jika dibandingkan dengan Januari 2019 (month to month/mtm) mengalami pertumbuhan 11,9%. "Pertumbuhan kredit Februari 12,13%," kata Santoso Wibowo.

Pertumbuhan kredit tersebut didorong oleh kredit investasi dan modal kerja. Sedangkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) mencapai 6,57% yoy atau 6,39% mtm."Kredit investasi dan modal kerja membuat multiplier lebih bagus," ujarnya.

Piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan tumbuh 4,61% yoy. Pertumbuhan pembiayaan didorong oleh tingginya pembiayaan untuk kegiatan investasi, memberikan harapan peningkatan aktivitas ekonomi ke depan.

Sementara asuransi jiwa dan asuransi umum/reasuransi berhasil menghimpun premi masing-masing sebesar Rp 15,4 triliun dan Rp 8,5 triliun pada Februari 2019. Di pasar modal, korporasi berhasil menghimpun dana Rp 13,4 triliun di sepanjang Februari 2019, dengan jumlah emiten baru dua perusahaan. Dana kelolaan investasi tercatat sebesar Rp 767triliun, meningkat 5,68% dibandingkan posisi yang sama tahun 2018.

Selanjutnya, rasio kredit bermasalah bank (non performing loan/NPL) gross tercatat sebesar 2,59%. Sementara itu, rasio non performing financing (NPF) perusahaan pembiayaan stabil pada level 2,70%. Risiko pasar perbankan juga berada pada level yang rendah, dengan rasio Posisi Devisa Neto (PDN) perbankan sebesar 1,92%, di bawah ambang batas ketentuan.

Pertumbuhan intermediasi juga didukung likuiditas perbankan yang memadai, tercermin dari liquidity coverage ratio dan rasio alat likuid/non-core deposit masing-masing sebesar 218,45% dan 107,25%. Jumlah total aset likuid perbankan yang mencapai sebesar Rp 1.162 triliun pada akhir Februari 2019, dinilai berada pada level yang memadai untuk mendukung pertumbuhan kredit ke depan.

Selain itu, pertumbuhan industri jasa keuangan juga didukung oleh permodalan yang kuat. Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan meningkat menjadi sebesar 23,86% pada Februari 2019. Sementara itu, risk-based capital industri asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 316% dan 442%, jauh di atas ambang batas ketentuan (dtf)
 
Berita Terkait
Kamis, 24 Jan 2019 10:25 WIB
Senin, 10 Sep 2018 10:38 WIB
Selasa, 20 Mar 2018 10:46 WIB
Rabu, 31 Jan 2018 08:15 WIB
Jumat, 31 Mar 2017 08:05 WIB