User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
Ex. JK
 
Berita Terkini Hari Ini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 12,050.00 12,080.00
SGD 9,434.00 9,434.00
JPY 111.45 11,204.00
MYR 366,289.00 370,187.00
CNY 1,963.70 1,977.40
THB 37,002.00 37,454.00
HKD 1,552.80 1,557.65
EUR 15,237.25 15,300.55
AUD 10,525.75 110,577.35
GBP 19,307.75 19,381.25
Last update: 24 Okt 2014 09:00 WIB
Wacana
Jumat, 25 Apr 2014 08:30 WIB - http://mdn.biz.id/n/91980/ - Dibaca: 252 kali
Mencari Sosok Budayawan untuk Soal Bahasa Indonesia
Skretarias Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Teuku Ramli Zakaria, dalam pemberitaan di Harian MedanBisnis, Selasa, 15 April 2014, berjudul "Jokowi Muncul dalam Soal Ujian Nasional" menjelaskan, soal Ujian Nasional (UN) dibuat oleh banyak guru dari sejumlah daerah.
Naskah kemudian dicek di tingkat pusat oleh para guru senior dan dosen perguruan tinggi. Salah satu kriteria pembuatan soal adalah tak ada nuansa politik. Bahan soal bahasa Indonesia biasanya diambil dari bacaan di koran, majalah, ataupun buku. Bisa jadi naskah soal tentang Jokowi tersebut berasal dari bahan-bahan itu.

Ramli membantah anggapan munculnya nama Jokowi dalam soal UN tingkat sekolah menengah atas (SMA) merupakan bentuk kampanye calon presiden (capres). Dia bahkan mantap mengatakan, kalaupun nama Jokowi muncul, itu tak disengaja. "Tak ada kaitannya dengan kampanye," katanya.

Masih dalam berita yang sama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh, mengaku tak tahu ihwal kemunculan nama Jokowi dalam soal UN.
Membaca isi berita berjudul "Jokowi Muncul dalam Soal Ujian Nasional", orang awam saja akan berpikiran, sangat tidak logis soal untuk UN Sekretaris BSNP tidak mengetahuinya dan jika Mendikbud mengaku tidak tahu adanya nama Jokowi di dalam soal UN masih bias dipahami masyarakat awam.

Logika berpikirnya, kurang tepat bila pihak BSNP tidak menilai soal-soal UN yang bakal diujikan kepada para siswa. Padahal, BSNP memiliki hak untuk menilai soal yang dibuat oleh sejumla pihak, menilai layak atau tidaknya soal-soal yang telah dibuat itu untuk diujikan kepada peserta UN. Layak atau tidaknya soal-soal itu diujikan pada UN memiliki banyak kriteria, di antaranya soal harus sudah bersifat nasional dan bebas dari unsur politik.

Tidak mudah membuat soal-soal UN, karena harus memenuhi persyaratan, meskipun dibenarkan bahan soal UN diambil dari koran, majalah dan buku. Bahan-bahan dari koran dan majalah, boleh saja dan dinilai tidak salah selama sifatnya nasional dan bebas dari unsur politik. Ketika soal UN menyebutkan nama Jokowi, bisa menjadi bias atau masuk pada unsur politik, karena Jokowi merupakan seorang capres dari banyak capres yang akan diusung dalam pemilihan presiden mendatang.

Harus diakui tidak mudah membuat soal ujian, apalagi soal untuk UN. BSNP harus memiliki perhitungan yang cerdas dengan berpikir secara nasional, meskipun tidak masalah bahan UN diambil dari berita di koran, majalah dan buku pelajaran, selama persyaratan dipenuhi. Bila persyaratan tidak dipenuhi maka akan bermasalah seperti tahun ini dan memang pelaksanaan UN selalu saja diwarnai beragam bermasalah. Akibatnya, UN tidak pernah sepi dari kritikan berbagai pihak.

Soal Ujian Bahasa Indonesia
Soal UN untuk mata pelajaran bahasa Indonesia harus bersifat nasional dan harus teruji, terukur, sehingga bisa diterima semua pihak tanpa terkecuali.

Selain bisa memenuhi capaian dalam menguji kemampuan siswa, maka bahan UN harus mampu menguji kemampuan siswa secara nasional atau secara universal.

Bisa jadi soal bahasa Indonesia untuk UN SMA itu diambil dari koran atau majalah, namun jika persyaratan tidak diberlakukan akan menimbulkan masalah seperti satu paragraf dari soal UN bahasa Indonesia yang penulis kutip tertulis, "Sebagai tokoh seni dan budaya, beliau dikenal paling bersih dari korupsi. Namun demikian, usahanya di bidang upah minimum provinsi (UMP) mengalami kendala oleh tindakan buruh yang memanggil kembali perwakilannya saat sidang sedang berlangsung..."

Soal UN bahasa Indonesia yang diujikan itu sangat tidak tepat pada sebutan, "Sebagai tokoh seni dan budaya, beliau dikenal paling bersih dari korupsi." Beliau, maksudnya Joko Widodo (Jokowi), apakah sudah tepat dikatakan sebagai tokoh seni dan budaya? Belum lagi kalimat, "...beliau dikenal paling bersih dari korupsi."

Pemilihan tokoh harus tepat dan memang tokoh, bukan yang ditokoh-tokohkan. Apakah tidak ada lagi tokoh seni dan budaya di Indonesia sehingga harus Jokowi yang dikedepankan? Masih sangat banyak tokoh seni dan budaya di Indonesia, sedangkan Jokowi belum tepat karena masih banyak yang lebih tepat.

Pemilihan tokoh yang tepat dalam soal ujian mutlak dilakukan agar anak didik tidak bingung dalam menjawab. Sudah pasti bingung, sebab anak didik yang cerdas tentu tahu siapa tokoh seni dan budaya di Indonesia. Tapi, ketika UN justru tokoh seni dan budaya yang disodorkan kepadanya tidak sesuai dengan yang dipelajarinya sebelum ujian.

Selain itu, soal yang diujikan harus sesuai dengan kemampuan siswa dan sebelumnya sudah diajarkan oleh guru di sekolah. Dalam membuat soal ujian, bila bahan belum diajarkan kepada siswa sehingga siswa tidak mampu menjawabnya maka gurulah yang salah.

Harus Memiliki Dasar Soal
Soal mata pelajaran bahasa Indonesia untuk UN SMA itu sangat tidak fokus dan membingungkan siswa untuk menjawabnya. Apa dasarnya mengatakan Jokowi dikenal paling bersih dari korupsi tidak disebutkan, begitu juga sebagai tokoh seni dan budaya. Referensi untuk itu tidak ada, sehingga sulit diterima logika siswa yang akan menjawab.

Begitu banyaknya tokoh seni dan budaya nasional di Indonesia dan tentunya guru-guru mata pelajaran bahasa Indonesia telah menjelaskannya. Apakah para guru SLTA untuk mata pelajaran bahasa Indonesia itu juga ada menjelaskan tentang Jokowi sebagai tokoh seni dan budaya? Agaknya kurang tepat. Tapi bila Jokowi disebut sebagai tokoh wiraswasta yang juga pejabat atau orang yang berkecimpung di dunia politik akan lebih tepat.

Bahan ujian, apabila yang diujikan belum mewakili atau belum tepat maka capaian dari ujian itu akan sulit dipenuhi. Jelasnya, tidak mudah membuat soal ujian untuk para siswa karena dari soal itu harus mampu menguji kemampuan siswa. Membuat soal ujian harus memiliki dasar yang kuat dan sudah teruji, tidak hanya opini atau anggapan dari pembuat soal ujian sendiri. Untuk mendapatkan soal ujian yang telah teruji, dibutuhkan tim pembuat soal sehingga kebenaran soal ujian itu bisa diuji.

Tujuan dilaksanakannya ujian agar tingkat kecerdasan para siswa diketahui.
Sedangkan bagi guru, bisa mengetahui apakah materi pelajaran yang diajarkannya telah dikuasai para siswa. Soal UN tingkat SLTA untuk pelajaran Bahasa Indonesia berdasarkan data Kemendikbud diujikan kepada 3.031.623 siswa yang sudah tentu tidak sedikit jumlahnya, maka materi soal harus tepat, teruji, sehingga mampu menguji para siswa.

UN tingkat SMA sederajat untuk pelajaran bahasa Indonesia kali ini belum mampu mencari sosok budayawan yang sesungguhnya di Indonesia. Hal ini sangat disayangkan dan jangan terulang lagi.

(Oleh: Fadmin Prihatin Malau, Penulis dosen Fakultas Pertanian UMSU)
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook