User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
 
 
Berita Terkini Hari Ini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 12,145.00 12,165.00
SGD 9,340.10 9,371.50
JPY 102.90 103.52
MYR 3,612.89 3,651.49
CNY 1,974.60 1,986.55
THB 368.38 372.89
HKD 1,565.70 1,569.25
EUR 15,136.35 15,186.85
AUD 10,364.55 10,407.25
GBP 19,071.35 19,128.35
Last update: 26 Nov 2014 09:00 WIB
Headline News
Senin, 12 Mei 2014 06:58 WIB - http://mdn.biz.id/n/94959/ - Dibaca: 434 kali
Sumut Kian Tekor Dagang dengan Singapura
NERACA PERDAGANGAN SUMUT-SINGAPURA - Dua truk pengangkut peti kemas berpapasan saat melintas di areal Belawan International Container Terminal, Medan, Sumut. Defisit neraca perdagangan Sumut dengan Singapura terus menunjukkan tren peningkatan. (medanbisnis/roemono)
MedanBisnis - Medan. Defisit neraca perdagangan Sumatera Utara (Sumut) dengan Singapura terus menunjukkan tren peningkatan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sepanjang kuartal I tahun ini, Sumut mengalami tekor senilai US$310,63 juta berdagang dengan Singapura. Angka tersebut naik signifikan mencapai 27,3% dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencatat defisit US$244,01 juta.

Pengamat ekonomi Sumut, M Ishak, mengungkapkan, semakin tingginya defisit neraca perdangangan itu karena Sumut masih banyak tergantung terhadap barang-barang dari Singapura. "Kita masih tergantung terhadap barang-barang impor dari sana, khususnya bahan baku dan migas," katanya kepada MedanBisnis, Minggu (11/5).

Sepanjang Januari hingga Maret 2014, nilai impor Sumut dari Singapura mencapai angka US$343,65 juta, meningkat 19,88% dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai angka US$286,66 juta. Tingginya nilai impor tersebut tak diikuti dengan peningkatan nilai ekspor yang hanya mencapai nilai US$33,02 juta. Tak pelak, defisit neraca perdagangan pun kian besar.
Menurut Ishak, defisit Sumut dengan Singapura disebabkan ketergantungan industri Sumut terhadap bahan baku impor. "Sumut menjadi pasar potensial bagi Singapura, padahal kita tidak dijadikan sebagai pasar tujuan oleh negara tersebut. Jadi, kita rugi karena terjadi capital outflow ke Singapura," ucapnya.

Hal senada juga diungkapkan pengamat ekonomi lainnya, Parulian Simanjutak. Diungkapkannya, selain ketergantungan terhadap barang impor, defisit itu juga terjadi lantaran pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya tak serius menggarap pasar ekspor ke negara itu. "Pemerintah belum sepenuhnya membantu penguatan produk lokal yang saat ini bisa dijadikan salah satu andalan," ungkapnya.

Menurutnya, jika pemerintah membantu menggenjot peningkatan ekspor terus menerus setiap bulannya dengan catatan harus mendorong pengembangan industri hilir, kemungkinan surplus dengan Singapura bisa terjadi. Sektor industri hilir sudah seharusnya menjadi andalan karena selain bernilai ekonomi lebih tinggi, juga karena produk-produk industri hilir memiliki peluang yang lebih besar untuk merangsek ke pasar Singapura.

Selain Singapura, Sumut juga tekor berdagang dengan sejumlah negara antara lain Malaysia sebesar US$122,58 juta, Australia senilai US$53,62 juta, Argentina senilai US$36,56 juta dan Thailand senilai US$22,74 juta. "Beruntung secara total neraca perdagangan kita masih surplus karena kita banyak mengekspor barang ke Tiongkok, Jepang dan Amerika," kata Kepala BPS Sumut, Wien Kusdiatmono. (daniel pekuwali)
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
BERITA TERKAIT
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook