User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini Hari Ini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 12,050.00 12,080.00
SGD 9,434.00 9,434.00
JPY 111.45 11,204.00
MYR 366,289.00 370,187.00
CNY 1,963.70 1,977.40
THB 37,002.00 37,454.00
HKD 1,552.80 1,557.65
EUR 15,237.25 15,300.55
AUD 10,525.75 110,577.35
GBP 19,307.75 19,381.25
Last update: 24 Okt 2014 09:00 WIB
Hukum
Selasa, 13 Mei 2014 08:24 WIB - http://mdn.biz.id/n/95221/ - Dibaca: 521 kali
Didakwa Korupsi Bersama Bendahara
Kepala UPT Laboratorium BLH Sampaikan Eksepsi
SIDANG EKSEPSI Terdakwa Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Laboratorium Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemprov Sumut Henny Nainggolan menjalani sidang dengan agenda eksepsi atas kasus dugaan penyelewengan dana pendapatan Tahun 2012 senilai Rp1,2 miliar di UPT Laboratorium BLH Pemprov Sumut, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Medan, Senin, 12 Mei 2014. ( medanbisnis/dewantoro)
MedanBisnis - Medan. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu), Henny Nainggolan, melalui kuasa hukumnya Marthin Simangunsong menyampaikan eksepsi dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Medan, Senin (12/5).
Henny Nainggolan bersama bendaharanya Ervina Sari, oleh jaksa penuntut umum (JPU) Ardiansyah didakwa korupsi dana pendapatan di UPT Laboratorium BLH Pemrovsu senilai Rp 1,2 miliar pada tahun 2012.

Melalui eksepsi yang disampaikan dalam persidangan dipimpin ketua majelis hakim Jonner Manik, Martin menegaskan, penetapan Henny sebagai terdakwa suatu kesalahan karena kliennya itu tidak memiliki keterkaitan dengan tugas-tugas bendahara dan bukan atasan langsung bendahara, sedangkan pengelola keuangan Hidayati selaku Kepala BLH Pemprovsu.

"Terkait tidak disetorkannya uang Rp 1,2 miliar ke kas daerah itu tidak ada kaitannya dengan Henny. Selaku kepala UPT laboratorium, Henny hanya melanjutkan tugas-tugas yang telah dikerjakan Hidayati," jelas Marthin.

Sementara itu, Marthin Simangunsong sempat marah kepada wartawan karena memotret kliennya seusai sidang. "Apa kalian foto-foto. Kalian belum tahu apa duduk perkaranya, suka-suka kalian saja mengambil foto," ujar Marthin. Marthin pun berusaha merebut kamera wartawan yang memotret Henny. "Jangan foto-foto lagi," katanya sambil menghalau wartawan.

Dalam dugaan korupsi itu, kerugian negara ditemukan pada dana pendapatan hasil pengujian laboratorium dari pihak ketiga namun tidak disetorkan ke kas daerah. Dana pendapatan itu diduga digunakan Kepala UPT Laboratorium BLH Pemprovsu, Henny Nainggolan dan bendaharanya Ervina Sari untuk kepentingan pribadi.

Keduanya membuat surat pertanggungjawaban fiktif atas biaya perjalanan dinas anggota UPT Laboratorium BLH Pemprovsu dan bukti-bukti pengeluaran uang itu dibuat seolah-olah ada yang menerima, padahal semuanya fiktif.

Perbuatan Henny Nainggolan dan Ervina Sari, oleh JPU Ardiansyah didakwa melanggar pasal 2, pasal 3 juncto pasal 18 UU No 31 Tahun 1999, sebagaimana diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dengan ancaman 20 tahun penjara.
Jika Henny Nainggolan sejak proses penyidikan hingga persidangan perkaranya tidak ditahan, bendaharanya Ervina Sari yang menggunakan jasa penasihat hukum Muslim Muis, sejak beberapa waktu lalu ditahan di blok A Rutan Tanjung Gusta. (dewantoro)
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook