User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
Ex. Jokowi
 
Berita Terkini Hari Ini
E-paper
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 12,035.00 12,065.00
SGD 9,445.10 9,485.20
JPY 112.09 112.70
MYR 370,254.00 374,196.00
CNY 1,959.70 1,973.60
THB 37,453.00 37,910.00
HKD 1,551.00 1,555.80
EUR 15,348.25 15,411.85
AUD 10,552.35 10,604.05
GBP 19,363.15 19,436.85
Last update: 20 Okt 2014 09:00 WIB
Karya Belia
Minggu, 01 Jun 2014 10:02 WIB - http://mdn.biz.id/n/98153/ - Dibaca: 158 kali
Tiket Kepulangan
MedanBisnis/David Siagian
Balutan jaket tebal mendekapmu dalam dingin salju senja kala itu. Perlahan langkahmu mendekat, menghampiriku di sebuah rumah makan khas masakan Indonesia. Senja ini sungguh dingin bahkan terlalu dingin, terlebih untukku yang tak pernah hidup di musim ini. Negaraku hanya memiliki dua musim. Hujan dan kemarau. Itulah Indonesia tanah air tercinta.
Dinginnya senja berganti kehangatan ketika senyum indah terukir pada paras gadisku. Penghuni hati yang menemani siang dan malam meski berbatas jarak. Indonesia- Inggris. Pekerjaan adalah penyebabnya.

" Aku telah memutuskan agar kita menyudahi hubungan ini". Ujarmu tanpa sebuah basa-basih.

" Lantas kita harus mengalah pada mereka? Mengorbankan perasaan untuk orang-orang yang tidak pernah paham perasaan kita? Bagaimana dengan mimpi-mimpi kita? Tentang pernikahan kita? Bagaimana dengan tiket, gedung, baju pengantin?".

" Diko, aku paham semua ini berat buat kita. Tapi kita berbicara tentang nyawa, bukankah sumpahmu sebagai seorang dokter akan menyelamatkan setiap manusia yang membutuhkan? Ibunya Maya mengharapkanmu menjadi menantunya, kehadiranmu mungkin akan membangkitkan semangat hidupnya. Pulihkan dia, selamatkan beliau".

" Maksudmu? Kau meminta aku menikahinya? Hidup dengan wanita yang tidak pernah aku cintai? Kau kejam, sungguh kejam Dina".
***
Rencana pernikahan batal. Dina yang selama ini disisi perlahan menghindar, menjauh bahkan menghilang. Telpon singkat yang diterimanya dua bulan lalu, merubah komitmen hidup. Berdua selamanya.

Dia adalah Maya, perempuan yang merupakan anak dari adik laki-laki ibuku. Diam-diam ia memiliki rasa cinta terhadap diriku, berkali-kali telah ia coba nyatakan. Namun sayang hati dan cintaku telah tertambat pada Dina. Wanita yang kukenal sejak masa kuliah dan kini menetap di Inggris karena pekerjaan.

Ibunya Maya dua tahun terakhir divonis mengidap penyakit kanker paru-paru stadium akhir. Keadaan ini membuatnya bolak-balik rumah sakit menjalani perawatan. Bahkan dokter yang menangani pun telah menyerah dan hanya berpengharapan pada keajaiban.

Entah pikiran apa yang tengah menghantui perasaannya, hingga akhirnya memintaku menjaga putri bungsunya dan hidup bersama hingga ajal memisah. Tatkala permintaan ini menguras emosi, akalku tertuju pada Dina. Bagaimana dengannya jika hal ini terjadi?

Jauh sebelum itu, mereka telah meminta Dina meninggalkanku. Informasi ini kudapat dari ibuku. Wanita yang juga tidak setuju dengan permintaan keluarga Maya. Pikiranku tak sedetikpun lepas dari Dina. Membayangkan air mata yang akan terurai dari mata indahnya, goresan luka yang menyayat hatinya.
***
Tak banyak yang dapat kulakukan sejak Dina lebih memilih mundur, dari pada berjuang dan mempertahankan segalanya bersamaku. Ibarat kerbau yang dicucuk hidungnya, aku pun menurut atas apa permintaan keluarga besar. Tanpa melupakan Dina yang pernah menghiasi keseharianku.

Pertunangan menjadi simbol awal perjalanan hubungan kami. Hubungan yang berjalanan tanpa berlandaskan cinta. Rentetan acara yang terlampaui tak terlepas dari bayang-bayang Dina. Wanita yang kini bukan siapa-siapa ku lagi. Yah, Dina. Aku sengaja tak memberitahu pertunangan ini, tak ingin menambah luka dalam palungan hati. Kudengar dari adik perempuannya yang juga merupakan teman sekantor adikku, bahwa Dina sungguh terpuruk oleh keadaan ini. Entahlah, aku tak ingin ia menderita.

Sejenak kucuri waktu, menyendiri disudut keramaian pesta, mencari sesuatu yang entah apa. Kugerakkan tangan mengambil ponsel, mengecek pesan yang masuk melalui akun sosial yang kumiliki. Tertera pesan dari Dina dideretan paling atas.

"Dalam segala perkara, Tuhan punya rencana yang lebih besar dari yang terpikirkan, percayalah. Jika hari ini Tuhan boleh ijinkan kau dan dia bersatu dalam sebuah ikatan pertunangan yang suci, maka terimalah. Selamat atas pertunangan ini, semoga segala sesuatunya berjalan lancar sampai hari pernikahan. Doaku senantiasa melingkupi hari-hari indah kalian kedepan. Happy engagement party, dear."
***
Minggu ini ia kembali, seperti jadwal penerbangan yang seharusnya menjadi saksi pengukuhan cinta kami. Ingat benar dalam memori tepat pukul 19.00wib pesawat yang ditumpanginya akan berangkat dari Inggris menuju tanah air.
Ada rasa bahagia bercampur sedih beroles penasaran akan sosoknya yang enam bulan belakangan tanpa berita. Rotasi waktu seakan begitu lambat, ada rasa tak sabar menantikan kehadirannya. Seolah kedatangannya untuk diriku.

Terbersit kesedihan dalam benak, mengingat maksud kepulangan yang seharusnya. Menyatakan kesiapan untuk menjadi satu dalam ikatan pernikahan, namun sayang semua hanya sebatas angan semata.
***
Air mata mengalir deras seakan tak tahu henti, ketika kabar duka menjamah telinga. Pesawat yang ditumpanginya jatuh. Dina meninggal. Syaraf-syaraf ditubuh seakan lepas dan tak terkendali. Tangis histerisku pecah, tak mampu menerima kenyataan yang terjadi.

Rumah duka itu dibanjiri ratusan manusia yang mengenal Dina, baik keluarga, teman, kerabat, maupun handai taulan. Sedikit sulit untukku masuk dan langsung melihat raganya yang telah terbujur kaku. Terlihat jiwa-jiwa yang tak kalah terpukul dari diriku, ayah, ibu, abang, dan kakaknya.

Orang-orang yang tentunya menantikan kepulangannya seperti diriku.
Sekujur tubuh telah menjadi hitam terpanggang bersama bangkai pesawat, terkecuali wajahnya. Inilah yang menjadi identitas bahwa mayat ini adalah Dina.

Kudekatkan wajahku dengan wajahnya membisikkan kata-kata yang kuharap menjadi keajaiban. Tapi Tuhan berkata lain.

" Kenapa kau gunakan tiket itu? Kenapa tidak kau buang bersama mimpi-mimpi kita? Kenapa kau harus pulang? Dina jawab, jawab aku. Kenapa kau tidak membuangnya, sayang? Tuhan, kenapa harus Dina? Kenapa tidak yang lain?" teriakku didepan raga yang kini telah menjadi mayat.

" Diko, dengar mama nak...".
" Dia sudah terlalu menderita, ma. Menderita karena aku. Dia rela berkorban demi orang-orang yang tak sekalipun pernah mengerti perasaannya, kenapa harus dia yang mengalami semua ini? Kenapa ma, kenapa?".

Sebuah cahaya perlahan mendekat ke wajahku, sebuah ponsel diberikan abangnya. Kulirik sejenak terlihat akun sosial milik Dina dilayar ponsel tersebut. Terdapat beberapa postingan yang seolah menggambarkan perasaannya kala itu. Betapa sesungguhnya ia mencoba berdamai dengan kehidupan dan segala masalah yang mengikuti.

"Saat kenyataan didepanku mengecewakan perasaanku kumenutup mata memandang-Mu. Sebab tak kutahu kapan akan kembali kepada-Mu, entah hari ini atau mungkin esok. Namun yang kutahu, aku harus bersyukur atas orang-orang yang telah hadir dalam kehidupan ini, baik sejenak atau sampai kumenutup mata. Aku pulang". (Oops, Medan Mei 2014).
(Oleh: Akdesia Oidiana Pangaribuan)
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
BERITA TERKAIT
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook