User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
Ex. JK
 
 
 
Berita Terkini Hari Ini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 12,050.00 12,080.00
SGD 9,434.00 9,434.00
JPY 111.45 11,204.00
MYR 366,289.00 370,187.00
CNY 1,963.70 1,977.40
THB 37,002.00 37,454.00
HKD 1,552.80 1,557.65
EUR 15,237.25 15,300.55
AUD 10,525.75 110,577.35
GBP 19,307.75 19,381.25
Last update: 24 Okt 2014 09:00 WIB
Berita Terkini
Selasa, 17 Jun 2014 15:09 WIB - http://mdn.biz.id/n/101184/ - Dibaca: 6,819 kali
Survei Indo Barometer
5 Sebab Prabowo Sulit Menyalip Jokowi
MedanBisnis - Jakarta. Survei Indo Baromter menunjukkan selisih elektabilitas Jokowi dan Prabowo terpaut sekitar 13,5%. Apa sebab Prabowo sulit mengejar ketertinggalannya?
"Pertanyaannya memang mengapa pasangan Jokowi-JK masih unggul dan sebaliknya, Prabowo-Hatta belum dapat mengejar ketertinggalannya? Di titik-titik mana saja kelebihan dan kekurangan masing-masing kandidat?" kata Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, dalam rilis survei Indo Barometer di Rarampa Resto, Jl Mahakam I No 1, Jakarta, Selasa (17/6).

Survei Indo Barometer mencatat lima alasan kekuatan calon belum berubah. Yang pertama karena aspirasi publik tentang memilih capres belum berubah.

"Secara umum tampak 'pasar' pemilih capres saat ini didominasi oleh empat kelompok pemilih, yakni yang menginginkan pemimpin yang dekat dengan rakyat, tegas, sederhana dan berwibawa. Jokowi tetap unggul karena segmen 'dekat dengan rakyat' masih jadi pemilih terbesar. Keunggulan Jokowi mungkin akan diambil alih Prabowo apabila segmen 'tegas' menjadi pemilih terbesar dalam satu bulan ini," kata Qodari.

Faktor kedua adalah sebagian besar publik masih kesulitan membedakan program kerja capres-cawapres. "Tampaknya, hanya sepertiga (38%) pemilih yang merasa calon presiden memiliki program yang spesifik diperjuangkan. Sepertiga lagi (37%) merasa capres memiliki program yang mirip. Bahkan sekitar 24% pemilih tidak tahu atau tidak menjawab," terang Qodari.

"Yang menarik, untuk pemillih yang merasa bahwa program calon sama saja dan yang tidak tahu/tidak menjawab, keunggulan Jokowi-JK makin lebar terhadap Prabowo-Hatta," imbuhnya.

Berikutnya adalah eksposure capres kepada pemilih masih sama kuat. Secara umum tampak bahwa sampai dengan awal masa kampanye resmi, kekuatan atau daya jangkau Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK melalui tiga jalur di atas relatif sama kuat. Akibatnya, selisih antara keduanya belum berubah banyak.

"Keempat, mesin politik koalisi Prabowo-Hatta belum bekerja maksimal. Tampaknya, dukungan maksimal dari partai pendukung Prabowo-Hatta yang maksimal baru dari Gerindra. Sementara dukungan dari Partai Golkar yang salah satu anggota koalisi terbesar yang belum melewati angka 50%," terang Qodari.

Yang terakhir karena isu agama belum bekerja maksimal. Salah satu aspek yang banyak diserang dan dipertanyakan dari Jokowi adalah ke-Islam-annya. Hal ini dianggap salah satu titik yang bisa menurunkan elektabilitasnya. Apalagi di saat yang sama, jumlah partai berbasis massa Islam di Prabowo-Hatta lebih banyak daripada di Jokowi-JK.

"Namun, sampai dengan sebelum kampanye resmi dimulai, ternyata posisi pemilih Islam mayoritas masih ke Jokowi-JK (49,9%) dibanding Prabowo-Hatta (37,4%)," pungkasnya. (dtc)
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
BERITA TERKAIT
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook