User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
Ex. Autisme
 
 
 
Berita Terkini Hari Ini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 12,460.00 12,510.00
SGD 9,477.40 9,531.55
JPY 104.59 105.46
MYR 3,597.70 3,637.10
CNY 1,998.10 2,014.75
THB 379.31 383.36
HKD 1,606.20 1,613.65
EUR 15,290.95 15,378.55
AUD 10,179.85 10,247.05
GBP 19,502.45 19,607.05
Last update: 19 Des 2014 09:00 WIB
Headline News
Kamis, 07 Feb 2013 07:31 WIB - http://mdn.biz.id/n/11310/ - Dibaca: 601 kali
Operasional KNIA Tanpa Cargo
KNIA TANPA CARGO Pekerja menyelesaikan pekerjaan di lokasi pembangunan Bandara Internasional Kuala Namu, Deliserdang. Operasional KNIA yang dijadwalkan pada akhir Maret atau awal April 2013 dipastikan tanpa angkutan cargo, karena masih terdapat sejumlah masalah, baik teknis maupun nonteknis di cargo.(medanbisnis/ariandi)
MedanBisnis - Medan. Kuala Namu International Airport (KNIA) yang dijadwalkan mulai beroperasi pada akhir Maret atau awal April 2013 dipastikan tanpa angkutan cargo. Berbagai masalah di cargo, di antaranya belum ada kepastian mengenai bentuk kerja sama, standard operating procedure (SOP), sistem maupun patokan tarif hingga bangunan sebagai sarana penunjang.
Informasi yang dihimpun MedanBisnis, Rabu (6/2), hingga saat ini PT Angkasa Pura (AP) II Cabang Medan belum menentukan sikap mengenai sistem pengelolaan cargo dan gudang (warehouse) di Bandara KNIA. Selama ini, pengerjaan proyek Kualanamu dikebut dan hanya terfokus pada terminal kedatangan dan keberangkatan penumpang serta runway pesawat saja. Sementara cargo dan gudang sama sekali terbengkalai. Akibatnya, saat ini pihak pengelola pun bingung.

Seorang pengusaha pengelola gudang di Bandara Polonia Medan yang meminta dirahasiakan nama dan identitas perusahaannya mengaku sistem yang ditetapkan AP II di Bandara KNIA akan mematikan usahanya.

Sebab, menurut informasi yang sudah diperolehnya dari pihak terkait, PT AP II akan mematok tarif sewa space (tempat lokasi) di warehouse sebesar Rp 350.000 hingga Rp 500.000 per meter per bulan.

Atas dasar tarif sebesar itu, jika saat ini pihaknya menggunakan space di warehouse Bandara Polonia Medan seluas 10 meter kali 20 meter atau 200 meter persegi. Maka pihaknya wajib membayar Rp 100 juta per bulan kepada AP II untuk space yang sama di warehouse Bandara KNIA yang digunakannya yakni 200 meter persegi. Biaya tersebut sangat mahal dibanding Bandara Polonia Medan, tarif sewa warehouse hanya berkisar Rp 50.000 sampai Rp 100.000 per meter per segi per bulan.

"Tarif itu sangat mahal dan mencekik leher. Kami pengelola warehouse hanya mengambil untung tipis dari setiap kilogram kiriman barang yang kami terima. Karena, sebelum masuk ke gudang cargo dan ke pesawat, barang kiriman dari perusahaan jasa kiriman ekspres akan masuk ke warehouse terlebih dahulu. Jika, harga sewa space warehouse mahal, maka sama saja dengan membunuh banyak orang. Banyak pihak yang merasakan dampaknya," kata sumber kepada MedanBisnis di Gudang Cargo Bandara Polonia Medan, kemarin.

Sumber mengatakan informasi itu didapatkannya dari internal AP II. Meskipun saat ini belum ada ketetapan maupun pengumuman secara resmi dari AP II.

Disebutkan sumber tadi, jika tarif sebesar itu diberlakukan maka akan membuka peluang menjamurnya gudang di luar areal KNIA. Selain tarif yang mahal, faktor lain seperti belum adanya pembangunan warehouse di KNIA semakin menguatkan bahwa pengelola lama di Bandara Polonia akan dibuang oleh PT AP II.

"Itu sama saja membuka peluang untuk menjamurnya gudang di luar areal bandara. Apalagi nantinya, sistem yang digunakan akan menerapkan sistem regulated agent (RA). Maka akan semakin membuka peluang RA dan gudang baru di luar bandara. Selain biaya sewa yang mahal, pembangunan fisik warehouse dekat Terminal Cargo Bandara Kualanamu juga baru mulai dibangun," ujarnya.

Dia menilai pembangunan fisik warehouse tidak akan bisa rampung pada Maret atau awal bulan April 2013 seperti rencana operasional KNIA. Tidak hanya masalah warehouse, untuk izin Tempat Penimbunan Sementara (TPS) dari Pabean Bea Cukai juga harus mengurus izin baru karena lokasinya berbeda ataupun pindah yakni dari Polonia ke Kualanamu.

"Lokasi gudang untuk kiriman barang ke luar negeri dipindah, jadi harus urus izin TPS Pabean baru. Urus izin TPS Pabean baru itu butuh waktu 3 sampai 4 bulan. Saat ini sudah Februari, rencana operasional Kualanamu di akhir bulan Maret atau awal April. Sudah pasti tidak tercapai (terkejar). Operasional Kualanamu (sudah pasti) tanpa cargo. Masalah ini yang tidak disadari oleh AP II meskipun sudah kita sampaikan," jelasnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Jasa Kiriman Ekspres Indonesia (Asperindo) Wilayah Sumut M Eka Tarigan mengaku sudah mendengar keluhan dari pengelola warehouse di Bandara Polonia Medan. Namun, Eka mengaku hingga saat ini belum mengetahui tentang ketetapan dan rencana resmi dari AP II. Sebab, segala hal mengenai Kualanamu, diatur langsung oleh AP II Pusat.

"Saya baru hadiri undangan coffee morning dengan AP II di Kantor AP II Medan. Berbagai masalah mengenai warehouse, cargo dan sistem pengelolaan kiriman barang di Bandara Kualanamu hingga saat ini PT AP II Cabang Medan belum tahu. AP II Medan hanya sebagai pengawas, seluruh kebijakan diatur oleh pusat. AP II Cabang Medan belum bisa memberikan jawaban atas masalah-masalah yang kita sampaikan. Karena seluruh kebijakan di Kualanamu diatur AP II Pusat," ungkap Eka.

Eka menegaskan pihaknya secara lembaga juga sudah mengajukan pertanyaan resmi pada AP II Cabang Medan, termasuk mengenai apakah sistem warehouse di Bandara Polonia sama dengan di KNIA. Hal itu pun belum terjawab pihak AP II Medan. Namun, meski diatur oleh AP II Pusat seluruhnya, dia sudah menyatakan pada AP II Medan untuk tidak memberatkan pengusaha.

"Kita sudah sampaikan agar tidak memberatkan pengusaha. Jika benar sistem itu diterapkan, maka akan membunuh banyak pihak. Karena jarak tempuh ke Kualanamu pun cukup jauh. Kita minta pada AP II Medan agar pengusaha lokal diperhatikan dan tidak dibunuh perlahan-lahan. Kita sudah sampaikan kekhawatiran pengelola warehouse itu ke AP II," tegasnya.

Pihak AP II Cabang Medan belum ada yang bersedia dikonfirmasi oleh MedanBisnis. Humas AP II Polonia Medan Firdaus enggan menjawab telepon dan SMS yang dikirimkan oleh MedanBisnis hingga tadi malam.(sulaiman achmad)
Advertisement
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook