User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
Ex. Makkah
 
Berita Terkini Hari Ini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 11,990.00 12,020.00
SGD 9,427.60 9,467.65
JPY 112.01 112.62
MYR 366,605.00 370,623.00
CNY 1,954.80 1,968.15
THB 36,978.00 37,430.00
HKD 1,545.40 1,550.25
EUR 15,210.55 15,273.85
AUD 10,516.45 10,568.05
GBP 19,228.35 19,303.05
Last update: 23 Okt 2014 09:00 WIB
Wacana
Senin, 11 Feb 2013 07:55 WIB - http://mdn.biz.id/n/11960/ - Dibaca: 524 kali
Buruh Anak Perempuan dan Kemiskinan
Di tengah kisruh antara tuntutan buruh dengan pemerintah untuk menetapkan kenaikan upah minimum propinsi (UMP), aksi demo yang dilakukan para buruh hampir di setiap daerah dengan harapan agar pemerintah segera menetapkan UMP 2013 minimal sebesar Rp 2,2 juta. Selain itu, juga tuntutan agar dihapus sistem outsourching (kerja alih daya), dinilai lebih merugikan para buruh ketimbang perusahaan yang mempekerjakan mereka.
Bagaimana nasib buruh sektor informal, yang tidak mendapat perlindungan hukum untuk tuntutan kenaikan upah? Padahal sektor infromal (lebih 60%) merupakan salah satu penggerak perekonomian negara dan memiliki jumlah yang cukup besar dibanding sektor formal. Seperti buruh anak atau pekerja anak yang masih persoalan, khususnya buruh anak perempuan.

Sektor informal merupakan pilihan yang mudah mereka dapatkan untuk bekerja. Sebab tanpa memiliki pendidikan mereka mampu melakukannya. Tetapi bagaimana nasib dan masa depan mereka? Apakah masalah ini tidak menjadi hal yang serius? Atau masalah buruh anak perempuan ini dianggap sebagai budaya yang biasa tidak perlu dipersoalkan?

Di antara ribuan pekerja anak di Indonesia banyak persoalan yang harus mereka hadapi. Tuntutan ekonomi keluarga karena kemiskinannya, rentan putus sekolah, tidak memiliki masa depan dan dapat tumbuhkembang sebagaimana mestinya dan rentan terhadap trafficking untuk dipekerjakan jasa seks. Hak-hak dan nasib mereka tidak diperdulikan dan terabaikan begitu saja, seakan itu bagian tersendiri bukan masalah bersama.

Di tengah gejolak gerakan buruh menuntut kenaikan upah dan menghapus praktik pekerjaan alih daya (outsourching), bagaimana nasib buruh anak tersebut? Kemana mereka menuntut hak pendidikan dan hak hidup layak sebagaimana hak asasi manusia anak? Padahal, persoalan buruh sektor informal lebih kompleks.

Data Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 2012 mengatakan, ada sekitar 1,7 juta sebagai pekerja anak. Sedang data ILO mengatakan, ada lebih dari 4 juta anak usia 5-17 tahun melakukan pekerjaan berbahaya. Sebagian besar menjadi pekerja seks anak, hal ini merupakan salah satu katagori pekerjaan berbahaya bagi anak. Jumlahnya diperkirakan mencapai 30% dari pekerja seks di Indonesia yang sebesar 180.000 orang. (Kontan.co.id,14/12/2012).

Kemiskinan merupakan alasan bagi anak menjadi buruh anak perempuan untuk bekerja hanya demi membantu perekonomian keluarga. Jika demikian, apakah pantas bahwa kemiskinan tidak menjadi persoalan serius bagi negara ini? Persoalan ini masih merupakan fenomena yang terjadi di hampir seluruh tempat di Indonesia. Bahkan dapat menjadi persoalan budaya dimana menciptakan budaya kemiskinan dan psikologi kemiskinan.

Persoalan kemiskinan ekonomi berkepanjangan melahirkan budaya kemiskinan. Sebab kemiskinan tidak menjadi persoalan karena sudah dianggap biasa dan tidak menyadari bahwa mereka hidup di garis atau di bawah garis kemiskinan. Budaya kemiskinan ini melahirkan psikologi kemiskinan. Sebab membentuk mentalitas sebagai orang miskin, dengan hidup ketergantungan pada bantuan dan belas kasihan dari orang lain.

Seharusnya pembangunan sosial melalui kebijakan dan program pengentasan kemiskinan saat ini menciptakan kemandirian masyarakat miskin agar memutus mata rantai kemiskinannya. Atau yang sebenarnya yang terjadi saat ini adalah salah kaprah dalam menilai dan mengartikan kemiskinan itu sendiri?

Penghapusan Buruh Anak Perempuan
ILO (International Labour Organization) mengkampanyekan menolak pekerja anak perempuan. Data ILO 2009 mengatakan, sebanyak 100 juta anak perempuan secara global terlibat dalam pekerja anak dan kebanyakan pekerjaaan berbahaya dimana hampir 2/3 populasi buta huruf di dunia adalah perempuan.

Kampanye isu bertajuk "Give Girls a Change: Tackling Child Labour, A Key To The Future" Buruh anak perempuan juga memiliki masa depan dengan memutus mata rantai kemiskinan yang membelenggu kehidupannya yaitu dengan meningkatkan ekonomi keluarga dan mendorong mereka menikmati kualitas pendidikan. Setiap anak memiliki cita-cita dan harapan menggapai masa depannya.

Buruh anak perempuan banyak juga dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga dan hal ini akan lebih mengarah pada perbudakan. Posisi anak perempuan ini menjadi tawar (bargaining position). Sebab masih menyisakan budaya saat ini mengatakan bahwa anak perempuan tidak perlu harus sekolah karena hanya bekerja mengurusi rumah tangga.

Pemberantasan kemiskinan masih terganjal budaya masyarakat. Buruh anak perempuan mempunyai hak yang sama sebagai manusia seutuhnya. Bukan berarti hidup mereka ditentukan dan tergantung dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Menempatkan buruh anak perempuan menjadi manusia sebagaimana seharusnya.

Sesuai dengan UU Perlindungan Anak Nomor 23 tahun 2002, bahwa hak anak untuk mendapatkan kehidupan layak, tumbuh kembang, hak yang terbaik bagi anak, tidak diskriminasi dan hak berpartisipasi dalam menyatakan pendapat. Kesejahteraan anak merupakan Hak Asasi Manusia yang melekat pada setiap anak-anak Indonesia.

Masa depan yang lebih baik dimiliki setiap anak, maka memberi hak pendidikan dan hak hidup layak itu merupakan suatu kewajiban. Bukan lantas mempekerjakan dan memanfaatkan buruh anak perempuan untuk kepentingan tertentu.*** (Oleh: Elmi Frida Purba)

Penulis mahasiswa S2 Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Fisipol UGM Yogyakarta
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook