User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
Ex. PDIP
 
Berita Terkini Hari Ini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 12,035.00 12,065.00
SGD 9,445.10 9,485.20
JPY 112.09 112.70
MYR 370,254.00 374,196.00
CNY 1,959.70 1,973.60
THB 37,453.00 37,910.00
HKD 1,551.00 1,555.80
EUR 15,348.25 15,411.85
AUD 10,552.35 10,604.05
GBP 19,363.15 19,436.85
Last update: 20 Okt 2014 09:00 WIB
Industri
Jumat, 15 Feb 2013 08:29 WIB - http://mdn.biz.id/n/12865/ - Dibaca: 376 kali
Industri Lokal Keluhkan Serbuan Baja Murah China
MedanBisnis - Jakarta. Industri lokal mengeluhkan menyerbunya baja asal Cina di pasar domestik dengan harga lebih murah sebesar tiga sampai lima persen dari harga baja lokal.

Direktur PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk Gunato Gunawan, Kamis (14/2), mengatakan muncul dugaan murahnya harga baja tersebut lantaran produsen baja asal Cina melakukan praktik bisnis tak terpuji, dengan mengakali aturan bea masuk impor yang ditetapkan pemerintah.

"Modusnya pada dokumen baja asal Cina laporannya diklaim telah mengandung boron (bahan campuran baja untuk meningkatkan kekuatan baja berketebalan tipis). Padahal, setelah dicek kandungan Boronnya sangat kecil, hanya 0,008 persen saja," katanya.

Gunato mengatakan, hal ini dilakukan untuk menghindari bea masuk baja impor sebesar 5 persen yang ditetapkan pemerintah Indonesia. Selain itu, Pemerintah Cina juga memberikan pengembalian pajak ekspor sebesar 9 persen kepada eksportir baja Cina yang menambahkan kandungan Boron di bajanya. "Dengan keringanan pajak sebesar 14% tersebut sudah mampu menutupi biaya produksi baja yang dijual ke Indonesia," jelas Gunato.

Keluhan serupa juga disampaikan Presiden Direktur PT Gunung Raja Paksi Djamaluddin Tanoto. Pasalnya, derasnya baja impor asal Cina tersebut makin memberatkan produsen baja lokal. "Pada bulan ini, industri baja nasional terpaksa melakukan kenaikan harga produk baja berkisar 13 -15 persen dari harga lama," kata Djamaluddin.

Selain PT Gunung Raja Paksi, kenaikan harga produk baja juga akan dilakukan PT Krakatau Steel (persero) Tbk dan PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk. "Kenaikan harga jual tersebut tak bisa dihindari, dikarenakan berbagai bahan baku baja seperti scrap (besi bekas), iron ore pellet (bijih besi), dan slab (baja setengah jadi) yang sebagian besar masih diimpor, sejak awal 2013, mengalami kenaikan harga secara signifikan. Sehingga, kenaikan harga jual produk baja bukan untuk mencari untung besar, melainkan agar produsen baja domestik tetap dapat berproduksi," ujar Djamaluddin.

Sebagai contoh, harga scrap baja (besi bekas) sejak Januari 2013 telah mencapai 430 dolar AS per ton, meningkat 13 persen jika dibanding harga pada Oktober 2012 sebesar US$ 380 per ton. Begitupula harga bijih besi impor, telah naik 30% dari US$ 115 per ton menjadi US$ 150 per ton untuk periode yang sama.

Selain kedua bahan baku baja tersebut, kenaikan harga juga berlaku pada baja setengah jadi (slab) impor. Sejak awal tahun ini, harga slab telah mencapai US$ 540 per ton naik 1% dari US$ 470 per ton pada Oktober 2012.

Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel Tbk., Yerry menegaskan, Industri baja di Indonesia adalah yang terakhir melakukan kenaikan harga. Produsen baja di regional seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam bahkan telah menaikkan harga jual produk baja mereka sejak Januari 2013. Karena, kenaikan harga bahan baku baja juga dialami industri baja di tiga negara tersebut.
Salah satu terobosan yang dilakukan KS untuk menekan biaya dengan memasarkan langsung produk baja ke pelanggan besar di sektor konstruksi dan manufaktur tanpa melalui distributor.
Terobosan itu untuk meningkatkan volume penjualan, dan PT KS dapat menjual produk dengan harga yang lebih baik, sehingga dapat meningkatkan profitabilitas.

Kendati demikian, Yerry menegaskan KS tidak akan memutus total peran distributor. Hal itu karena distributor dapat menjual produk ke pembeli dengan volume kecil, seperti toko besi dan proyek kecil, dengan pembayaran yang fleksibel.

Andry Gandaputra Direktur PT Palisco Baja sebagai industri yang mengonsumsi produk KS, menyambut baik strategi pemasaran KS yang memasarkan baja secara langsung ke pengguna besar. Sistem penjualan tersebut membuat konsumen saat ini jauh lebih cepat dan mudah mendapat baja. "Dengan strategi penjualan baru tersebut, KS diharap dapat memenuhi seluruh pesanan konsumen. Hal itu berbeda ketika penjualan melalui jalur distributor, yang selama ini hanya mampu memenuhi 25% dari seluruh produk yang dipesan konsumen," papar Andry. (ant)
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook