User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini Hari Ini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 12,140.00 12,170.00
SGD 9,545.50 9,586.55
JPY 11,162.00 112.21
MYR 3,690.51 3,731.04
CNY 1,972.70 1,986.50
THB 373.25 377.82
HKD 1,563.10 1,568.00
EUR 15,368.05 15,431.65
AUD 10,686.85 10,737.65
GBP 19,694.75 19,793.35
Last update: 02 Okt 2014 09:00 WIB
Kesehatan & Keluarga
Minggu, 31 Mar 2013 10:54 WIB - http://mdn.biz.id/n/20855/ - Dibaca: 567 kali
Familia
Rendahnya Kesadaran Ber-KB
Nilai-nilai keluarga kecil bahagia sejahtera yang berslogan "Dua Anak Cukup" tampaknya belum menjadi gaya hidup bagi sebagian masyarakat Indonesia, khususnya mereka-mereka yang memiliki tingkat sosial rendah, atau pun keluarga yang tingkat ekonominya lemah.
Tak dipungkiri, menginternalisasikan nilai-nilai keluarga kecil di tengah-tengah masyarakat bukanlah yang gampang. Ini bisa dimaklumi karena di antara masyarakat yang majemuk, setiap keluarga mempunyai nilai budaya dan kepercayaan sendiri-sendiri terhadap bentuk keluarga serta nilai anak yang terkadang kontra produktif terhadap norma keluarga kecil ini.

Apalagi masih banyak masyarakat yang tetap memegang prinsip "banyak anak banyak rezeki". Padahal di negara maju, kesadaran akan norma keluarga kecil, bahagia, sehat, dan sejahtera merupakan hal yang sangat mendasar. Sementara di Indonesia, kesadaran tersebut masih sangat rendah.

Menurut Emilia Ramadhani SSos SPsi, norma keluarga kecil bahagia bisa diwujudkan jika setiap keluarga memiliki kesadaran berupa motivasi menciptakan keluarga dengan fertilitas rendah, yang berujung pada terbentuknya keluarga kecil.

"Sebenarnya masyarakat Indonesia sudah menyadari dan sudah sadar akan pentingnya keluarga berencana. Hanya saja untuk sebagian masyarakat masih belum mengerti, atau sudah mengerti tapi belum menjalankannya," katanya kepada MedanBisnis beberapa waktu lalu.

Umumnya, lanjut Emilia, gagalnya program keluarga berencana ini lebih banyak di tingkat masyarakat yang berstatus sosial rendah dan masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah, meskipun sebagian dari mereka ada juga yang menjalankan program dari pemerintah ini.

Kegagalan program keluarga berencana atau norma keluarga kecil, bahagia, sehat, dan sejahtera di kalangan masyartakat kurang mampu disebabkan beberapa faktor, di mana faktor pendukungnya adalah aktivitas atau kegiatan seharian mereka yang tidak terlalu sibuk layaknya masyarakat yang memiliki tingkat sosial dan berekonomi tinggi atau menengah.

Keluarga yang memiliki jadwal aktivitas yang padat, mulai dari bekerja yang terkadang harus 24 jam, dinas keluar kota, luar daerah, atau luar negeri, hingga kegiatan-kegiatan sosial yang harus diikutinya, dengan sendirinya akan membentuk keluarga berencana. Karena dengan kegiatan mereka yang begitu padat, frekuensi pertemuan dengan keluarga atau pasangan pun akan semakin berkurang. Masyarakat dengan tingkat sosial dan ekonomi tinggi atau menengah ini juga biasanya lebih memikirkan aspek pendidikan serta kesehatan anak-anaknya.

Berbanding terbalik dengan masyarakat berekonomi lemah. Selain aktivitas yang memang tidak begitu padat, pendidikan yang rendah, dan rumah yang sempit juga menjadi faktor gagalnya program keluarga berencana.

"Penerimaan masyarakat akan pentingnya program keluarga berencana ini terkadang sulit diterima oleh mereka-mereka yang memilki tingkat sosial dan ekonomi rendah. Beberapa faktor penentunya mungkin adalah karena kurangnya informasi, tingkat pendidikan yang rendah, atau memang di keluarga tersebut masih memegang nilai budaya dan kepercayaan bahwa banyak anak banyak rezeki," tuturnya menjelaskan.

Kata Emilia, umumnya keluarga yang berekonomi rendah ini memiliki hubungan yang lebih dengan keluarga atau pasangannya. Ini disebabkan frekuensi pertemuan mereka yang tidak dibatasi oleh waktu dan kesibukan. Dengan begitu keharmonisan hubungan, ditambah kurangnya aktivitas atau kegiatan sehari-hari, memungkinkan mereka untuk lebih dominan memproduksi anak lebih banyak dari mereka-mereka yang memiliki tingkat sosial yang tinggi.

"Sayangnya, mungkin karena pendidikan mereka yang juga umumnya rendah sehingga informasi yang mereka dapatkan tidak banyak, dan keterbatasan materi serta ruang gerak, membuat mereka tidak bisa menekan angka kelahiran," katanya.(sri mahyuni)
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook