User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini Hari Ini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 12,145.00 12,165.00
SGD 9,340.10 9,371.50
JPY 102.90 103.52
MYR 3,612.89 3,651.49
CNY 1,974.60 1,986.55
THB 368.38 372.89
HKD 1,565.70 1,569.25
EUR 15,136.35 15,186.85
AUD 10,364.55 10,407.25
GBP 19,071.35 19,128.35
Last update: 26 Nov 2014 09:00 WIB
UKM
Selasa, 23 Apr 2013 08:20 WIB - http://mdn.biz.id/n/25318/ - Dibaca: 897 kali
Dari Tukang Sapu Menjadi Pengusaha Sukses
MedanBisnis - Medan. Tidak ada yang tidak mungkin, semua impian dan cita-cita pasti bisa diraih asal kita tekun dan bersungguh-sungguh. Itulah kata-kata yang selalu diyakini Tri Sumono, berprofesi sebagai tukang sapu jalanan tidak mengurangi cita-cita dan impian Tri untuk menjadi seorang pengusaha sukses.
Walaupun demi menggapai impiannya, harus melawan panas terik sinar matahari setiap hari, untuk mencari uang demi keluarga. Tidak terbayangkan saat orang seperti Tri yang hanya seorang tukang sapu, sekarang menjadi pengusaha sukses, mempunyai pendapatan per bulan hingga ratusan juta.

Kita pasti salut dan kagum dengan perjuangannya demi menggapai mimpi. CV 3 Jaya yang dirintisnya, serta usaha lain seperti peternakan burung, jahe dan pertanian padi, dan masih banyak lagi yang lain berkembang pesat. Omzet yang diterima Tri saat ini mencapai Rp 500 juta per bulan.

Seperti dukutip dari situs ciputraentrepreneurship, kemarin, semua itu berawal pada tahun 1993, Tri merantau ke Ibukota, berbekal ijazah SMA dan tidak mempunyai keahlian. Tri memberanikan diri untuk mencari pekerjaan di Jakarta. Pria asli Gunung Kidul ini, mengaku untuk mempertahankan hidup di Ibukota tak pernah pilih-pilih soal pekerjaan, apapun dijalaninya.

Mulai dari kuli bangunan, hingga tukang sapu di sebuah kantor. Semua pekerjaan dilakukan dengan tekun dan sungguh-sungguh. Melihat kesungguhan dalam bekerja, akhirnya kantor mengangkat Tri menjadi office boy. Beberapa lama bekerja menjadi office boy, Tri kemudian diangkat menjadi tenaga pasar, hingga penanggung jawab masalah gudang.

Di tahun 1995, Tri berkeluarga dan mempunyai dua anak. Kebutuhan semakin besar, mau tidak mau Tri harus mencari penghasilan tambahan. Dari situ Tri mencoba berpikir mencari tambahan penghasilan. Mulailah usaha berjualan aksesori di Stadion GBK dilakoninya. Ikat rambut, kalung, produk aksesori semua dijual demi menghidupi kebutuhan keluarga. Pelan-pelan, dari situ mental dan jiwa Tri untuk membuka usaha semakin kuat.

Selama dua tahun Tri menjalankan usahanya sekaligus bekerja di kantor, kemudian Tri berpikir, lebih enak membuka usaha sendiri daripada ikut orang karena melihat pendapatannya yang selalu pas-pasan. Di tahun 1997, Tri akhirnya mengundurkan diri dari pekerjaan dan lebih memilih mengembangkan usaha jualannya.

Dari bekal usaha jualan aksesoris, Tri akhirnya membeli kios sederhana di daerah Mal Graha Cijantung. Tak disangka, bisnis aksesorisnya berkembang pesat. Lalu di tahun 1999 kios dan usahanya ditawar oleh seseorang dengan harga yang cukup tinggi. Sempat berpikir, akhirnya Tri melepas kios tersebut beserta usahanya. Kemudian Tri membeli rumah di Bekasi Utara, hasil dari penjualan kiosnya.

Setelah selesai berjualan aksesoris, Tri merintis usaha kontrakan dan toko sembako. Pengalaman berjualan aksesoris membuat naluri bisnis Tri terasah, dia melihat peluang toko sembako lumayan menjanjikan. Tetapi pada saat itu kondisi sekitar toko sembakonya masih sepi.

Ide cemerlang muncul dalam benak Tri, agar kawasan di sekitar tempat tinggalnya ramai, Tri lalu membuat 10 rumah kontrakan. Harga yang ditawarkan sangat murah. Memang kontrakan itu ditujukan untuk kalangan menengah ke bawah seperti penjual siomai, bakso dll. Pada akhirnya para pedagang yang ada di kontrakan Tri menjadi pelanggan tokok sembakonya.

Sesudah mempunyai bisnis toko sembako dan kontrakan, tidak membuat Tri berhenti melebarkan sayap bisnisnya. Di tahun 2006, Ia mencoba merintis usaha minuman sari kelapa. Dimulai dari pasar lalu dijual ke perusahaan minuman, namun hal itu tidak bertahan lama. Karena banyak perusahaan yang komplain terhadap kualitas produk sari kelapa Tri, akhirnya sementara produksi minuman sari kelapa dihentikan.

Pak Tri tidak patah semangat. Ia memutuskan mencari tahu bagaimana cara membuat minuman sari kelapa agar kualitasnya bagus. Dengan mendatangi kampus IPB, Tri bertanya kepada dosen yang saat itu enggan memberi tahu lantaran Tri tidak bisa memahami dengan cepat. Tetapi karena kesungguhan yang ditunjukkan Tri, si dosen akhirnya mau memberi privat selama dua bulan.

Berawal dari situlah skill serta kemampuan Tri meningkat, hingga bulan ke-3 Tri kembali merintis usaha minuman sari kelapanya. Hasilnya, 10.000 nampan atau seharga Rp 70 juta berhasil diproduksi oleh Tri dan banyak perusahaan yang menggunakan produk sari kelapa Tri. Sampai saat ini, bisnis Tri masih berjalan dan terus berkembang. (cec)
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
BERITA TERKAIT
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook