User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
Ex. Banjir
 
Berita Terkini Hari Ini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 12,070.00 12,100.00
SGD 9,476.30 9,516.45
JPY 111.56 112.17
MYR 370,318.00 374,280.00
CNY 1,969.90 1,983.65
THB 37,248.00 37,670.00
HKD 1,555.80 1,560.65
EUR 15,361.55 15,425.15
AUD 10,703.75 10,754.55
GBP 19,458.05 19,531.95
Last update: 30 Okt 2014 09:00 WIB
Wacana
Jumat, 10 Mei 2013 06:48 WIB - http://mdn.biz.id/n/28348/ - Dibaca: 565 kali
Ketika Rumah Sakit Hanya untuk Orang Berduit
Peristiwa memilukan terkait nasib orang miskin yang meregang nyawa karena ketidakmampuannya membiayai perobatan di rumah sakit, kembali terjadi di tanah air. Seorang warga di Jakarta, belum lama ini, meninggal sia-sia karena tidak mendapat layanan rumah sakit. Dari delapan rumah sakit yang didatanginya, menolak merawat anaknya yang baru berumur seminggu. Penolakan diduga karena ketidakmampuannya menyediakan dana biaya perobatan anaknya.
Peristiwa tragis itu dialami pasangan Elyas Setya Nugroho (20) dengan Lisa Darawati (20), warga Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Keluarga muda ini harus kehilangan buah hati mereka karena gagal meyakinkan rumah sakit merawat anaknya yang bernama Dera Nur Anggaini. Bayi mungil kelahiran 10 Februari 2013 di RS Zahira, Jagakarsa itu, meninggal Sabtu (16/2) karena mengalami gangguan pencernaan. Dera dilahirkan kembar bersama Dara Nur Anggraini.

Keduanya lahir prematur dengan berat badan Dera 1 Kg serta Dara 1,45 Kg. Mengapa RS tega menolak pasien yang membutuhkan pertolongan segera? Bahkan, ada RS yang didatangi orangtua Dera, meminta uang muka sampai puluhan juta.

Kasus tewasnya Dera sungguh sangat ironis. Sebab, layanan kesehatan merupakan salah satu program utama Gubernur DKI Joko Widodo atau Jokowi. Dengan program unggulan Kartu Jakarta Sehat (KJS), dia berharap masyarakat miskin di Jakarta bisa mendapat layanan kesehatan secara cuma-cuma.

Belajar dari kasus Dera, Jokowi berjanji segera menambah fasilitas pendukung RS seperti Neonatal Intensive Care Unit (NICU), kamar inap, alat-alat media, juga sumber daya manusia (SDM). Janjikan Jokowi tentu patut diapresiasi. Kebijakan ini tak lain demi melayani kepentingan orang banyak, khususnya dalam bidang kesehatan. Namun, satu hal yang mungkin perlu digarisbawahi mengenai SDM pengelola RS. Sebagai lembaga penyedia jasa, RS berbeda dengan institusi-institusi lainnya.

Misi Kemanusiaan
Sebab, selain kepentingan bisnis, mereka mengemban misi kemanusiaan, yakni melayani kesehatan masyarakat. Semestinya, unsur ini diutamakan. Kualitas pelayanan bukan terletak pada ruangan, kelengkapan medis, tetapi lebih pada SDM, terutama dokter dan perawat yang mengerti melayani dengan empati, tidak feodalistik dan tidak mengutamakan unsur bisnis. Itu baru dari satu sisi, belum lagi unsur-unsur lainnya yang menyangkut buruknya SDM yang tak ramah, dokter malas memeriksa pasien. Tak heran dalam daftar 1.000 RS terbaik di dunia, tak satu pun rumah sakit Indonesia di dalamnya.

Bahkan, berdasarkan rilis Webometrics Ranking of World Hospitals, yang memuat peringkat RS terbaik di seantero dunia per edisi Juli 2012, tak satu pun rumah sakit di Indonesia masuk daftar 100 RS terbaik di Asia.

Peringkat yang disusun 6 bulan sekali itu masih menempatkan sejumlah RS di AS dan Eropa sebagai peringkat teratas. Dari Asia peringkat tertinggi diraih King Chulalongkorn Memorial Hospital Faculty of Medicine Chulalongkorn University, Thailand (11), Buddhist Tzu Chi General Hospital Taiwan (18), Taipei Veteran Hospital (29), Tabriz University Hospital Iran (33), Asahikawa Medical College Hospital Jepang (44).

Kriteria yang dipakai untuk penentuan ranking ini memang bukan dengan mengaudit secara langsung mutu layanan, tapi "potret lengkap" RS yang dituangkan ke dalam website yang dikelola secara independen.

Dia secara tidak langsung menggambarkan fasilitas dan kualitas RS bersangkutan. Walaupun hanya menganalisis website, kenyataannya yang muncul dalam 1.000 terbaik yang disusun Webometrics itu tak meleset. Terlepas dari penentuan ranking itu, sudah semestinya pengelola RS membenahi layanannya baik fasilitas, peralatan,kebersihan, keamanan, kenyamanan, maupun SDM.

Bekerja di RS berurusan dengan manusia yang butuh pertolongan dan perawatan. Jadi, unsur kemanusiaan inilah yang mesti didulukan. Namun hal ini sangat jarang diterapkan pihak rumah sakit. Bahkan dalam praktiknya, pihak rumah sakit bukannya melakukan pertolongan terlebih dahulu bagi pasien yang sekarat, mereka malah menanyakan kemampuan pasien untuk membayar biaya pengobatan.

Kejadian seperti itu masih banyak dialami masyarakat ketika berurusan dengan rumah sakit. Karena itu, bukan hal aneh jika Dera akhirnya meninggal karena tidak mendapatkan perawatan dari rumah sakit.

Sepuluh rumah sakit yang didatangi adalah RSCM, RS Fatmawati, RS Harapan Kita, RS Harapan Bunda Pasar Rebo, RS Asri, RS Carolus, RS Budhi Asih, RS ria Dipa, RS JMC Buncit, dan RS Pusat Pertamina. Dari 10 rumah sakit yang didatangi tidak satu pun yang bersedia menerima karena alasan tidak ada ruangan. Harus diakui bahwa pascaadanya jaminan kesehatan bagi semua warga masyarakat dari Pemda DKI, jumlah pasien yang harus dilayani oleh rumah sakit baik swasta maupun pemerintah memang meningkat cukup signifikan.

Namun adanya kejadian warga miskin yang meninggal tidak dirawat karena alasan tidak ada ruangan jelas menyisakan kisah yang sangat memilukan.

Benarkah karena tidak ada ruangan atau karena faktor lain? Hal itu tentu saja tergantung kejujuran masing-masing rumah sakit. Masih adakah rasa kemanusiaan di rumah-rumah sakit sehingga faktor komersialisasi yang dikedepankan? Pelayanan rumah sakit terhadap masyarakat sekarang ini memang masih patut kita pertanyakan.

Apakah rumah sakit hanya diperuntukkan bagi kalangan berduit?. Apakah rumah sakit hanya akan menerapkan nilai kemanusiaan yang diembannya bagi mereka-mereka yang mampu membayar pelayanan rumah sakit?.

Sejumlah pertanyaan ini sangat patut dimunculkan mengingat kinerja rumah sakit belakangan ini yang sudah semakin menonjolkan sisi bisnisnya dibanding sisi kemanusiaannya. (Oleh :Tumiur Aritonang)

Penulis Kordinator Aliansi Masyarakat Pemerhati Pembangunan Indonesia (AMPibi)

Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
BERITA TERKAIT
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook