User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini Hari Ini
E-paper
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 12,460.00 12,510.00
SGD 9,477.40 9,531.55
JPY 104.59 105.46
MYR 3,597.70 3,637.10
CNY 1,998.10 2,014.75
THB 379.31 383.36
HKD 1,606.20 1,613.65
EUR 15,290.95 15,378.55
AUD 10,179.85 10,247.05
GBP 19,502.45 19,607.05
Last update: 19 Des 2014 09:00 WIB
Graha
Minggu, 09 Jun 2013 10:09 WIB - http://mdn.biz.id/n/33704/ - Dibaca: 1,302 kali
Perabotan Bekas Bisa Jadi Berkelas
medanbisnis/sri mahyuni
Kotor, penuh kuman, dan menjijikkan. Kalimat itulah yang sering diungkapkan orang untuk menggambarkan sebuah sampah. Tapi jangan sepele dengan sampah, karena pada kenyataannya sampah bisa memberikan suatu manfaat yang tidak terpikirkan kita sebelumnya. Salah satunya adalah sampah kayu dan Perabotan rumah. Perabotan bekas bisa jadi Perabotan berkelas kalau pandai merenovasi ulang. Dan bagi Anda yang suka dengan Perabotan bekas, mesti pandai-pandai pula memilih model dan bentuk yang sesuai dengan ruangan di rumah Anda. Kalau pintar-pintar memilih, boleh jadi Perabotan bekas yang Anda beli teerlihat apik dan unik menghias rumah Anda.
Toko perabotan bekas sendiri, meski jumlahnya tak banyak tapi masih bisa dijumpai satu dua di Medan. Kalau lagi beruntung, malah kita bisa mendapat perabotan dengan kualitas yang bagus. Seperti salah satu toko perabotan bekas di Jalan Halat Medan.

Di teriknya matahari, pria berusia 55 tahun ini duduk di atas dipan kayu usang. Tepat dibelakangnya tampak tumpukan perabot bekas yang hampir tidak bisa digunakan lagi. Ternyata perabotan tersebut dijual, dan ini merupakan usahanya, menjual perabotan bekas.

M Ikhsan, begitu namanya, menggeluti usaha ini bersama anak laki-lakinya yang kerap membantu sepulang sekolah. Ini adalah usaha satu-satunya untuk menyekolahkan kelima anaknya yang masih mengecap pendidikan. Setelah tak lagi mampu menjadi seorang pekerja kasar, 6 tahun lalu dia memutuskan membuka usaha menjual perabotan bekas seperti lemari, tempat tidur, meja, dan kursi.

Melihat bisnis ini, sepertinya mudah dan menghasilkan untung yang banyak. Namun pada kenyataannya tidak. Meski semua orang menginginkan rumahnya dilengkapi perabotan yang indah, tapi tidak semua orang pula yang gemar ganti-ganti perabotan, apalagi yang mau menggunakan perabotan bekas.

"Biasanya ramai pembeli itu pas mau Lebaran dan Tahun Baru. Di situ baru banyak keluar barang. Tapi kalau sekarang-sekarang ini sepi. Dari pagi saya duduk di sini, tidak satu pun ada yang datang membeli. Jangankan beli, yang lihat-lihat pun nggak ada," katanya kepada MedanBisnis beberapa waktu lalu saat ditemui di tempat usahanya, Jalan Halat No 78 Medan.

Perabotan bekas ini, lanjutnya, tidak dijual dalam keadaan rusak. Sebelum M Ikhsan, dibantu anak laki-lakinya, memperbaiki bagian-bagian yang rusak, lalu memolesnya hingga tampak baru. Setelah itu barulah dijualnya ke pasaran untuk meraup untung. Di sinilah permainan bisnis harus jeli dilakoninya. Sebab sebelum pasang harga, terlebih dulu dia harus memperhitungkan pengeluarannya guna membeli perabotan bekas dan bahan-gahan yang digunakannya untuk perbaikan.

Tidak seperti yang dibayangkan, perabotan bekas ini tidak didapatnya dengan cuma-cuma seperti mengutip sampah di pinggir jalan. Dia membelinya dari orang yang memang ingin menjual perabotan karena berbagai alasan. Mulai dari karena pindah hingga karena rusak.

Untuk itu dia memakai trik hati-hati dan waspada, takut barang yang dibelinya adalah barang curian hingga dia menjadi seorang penadah. "Biasanya saya yang ambil langsung ke rumahnya. Saya tidak pernah terima perabotan bekas dari orang yang langsung datang bawa barangnya. Saya harus tahu di mana rumahnya dan alasan dia jual barangnya," ujarnya menjelaskan.

Jika perabotan yang ditawarkan padanya terbilang masih bagus, dia akan membelinya dengan harga Rp 400 ribu hingga Rp 600 ribu. Itu pun untuk bahan kayu biasa. Apabila kursi bekas tersebut bagus, masih lengkap busa dan banyak kainnya, maka M Ikhsan berani membelinya dengan harga Rp 1 juta.

Soalnya dia tidak perlu lagi banyak melakukan perbaikan dan penambahan. Cukup sekedar memperbaiki yang rusak. Kalau pun harus diganti, setidaknya kain dan busa kursi tersebut bisa dimanfaatkannya untuk hal yang lain. Akan tetapi M Ikhsan tidak akan membeli perabotan bekas berbahan Jepara, karena modal yang akan dikeluarkannya sangatlah besar. Untuk satu kursi Jepara bekas, dia harus membeli dengan harga Rp 1 juta lebih, dan itu pun belum tentu laku cepat.

Biaya yang harus dikeluarkannya tidak hanya untuk membeli perabotan bekas, tapi juga untuk bahan-bahan perbaikan seperti kayu, paku, busa, kain, dan sebagainya. Itu sebabnya M Ikhsan mengatakan bahwa bisnis ini memerlukan modal besar, namun untungnya kecil.
Bagaimana tidak. Untuk satu perabotan yang dijualnya, M Ikhsan hanya mengambil keuntungan Rp. 200 ribu. Saat menjelang Lebaran, dia bisa menjual 3 perabotan setiap harinya sehingga penghasilan yang didapatnya cukup besar. Tapi saat pasaran sepi, M Ikhsan sama sekali tidak memiliki penghasilan.

"Setiap ada perabotan bekas yang masuk, langsung diperbaiki. sementara yang beli belum tentu ada. Jadi bukan ada yang pesan dulu baru diperbaiki," tuturnya yang juga menerima panggilan untuk memperbaiki perabotan yang rusak.

Karena modal yang dibutuhkannya lumayan besar, maka M Ikhsan bisanya hanya membeli perabotan bekas yang banyak diminati konsumennya, yaitu kursi. Dari berbagai macam perabotan bekas yag ditawarkannya, kursi adalah item yang paling laris dan mudah dijual.
Kebanyakan orang lebih memilih mengganti kursi baru daripada lemari atau tempat tidur baru. Membeli di toko, tentu harganya mahal, sementara rumah ingin terlihat menawan. Itu sebabnya mereka memilih alternative kedua, membeli perabotan bekas yang harganya "miring". Meski bekas namun terlihat seperti baru.

Tidak ada yang akan menduga bahwa kursi di ruang tamu adalah perabotan bekas. Soalnya M Ikhsan memperbaiki perabotan tersebut sesuai dengan keahlian yang dimilikinya, menyulap barang bekas menjadi tampak baru.

"Saya terima semua jenis parebotan, tapi yang berbahan kayu. Kalau lemari belajar, biasanya saya tidak mau ambil karena jarang ada yang mau beli. Tiga bulan belum tentu laku," ucapnya sembari menambahkan bahwa pelanggannya kebanyakan berasal dari luar kota seperti Binjai, Kisaran, Siantar, Belawan, dan masih banyak lagi. (sri mahyuni)
Advertisement
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook