User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini Hari Ini
E-paper
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 11,900.00 11,930.00
SGD 9,424.20 9,463.85
JPY 110.88 111.48
MYR 3,669.97 3,709.46
CNY 1,931.90 1,945.15
THB 366.77 370.95
HKD 1,535.10 1,539.50
EUR 15,404.55 15,468.55
AUD 10,783.75 10,834.95
GBP 19,339.95 19,413.75
Last update: 17 Sep 2014 09:00 WIB
Spektrum
Minggu, 07 Jul 2013 08:53 WIB - http://mdn.biz.id/n/38937/ - Dibaca: 1,516 kali
Agency Model
Merekrut Talent, Merangkul Klien
Agency Model
Jalur bisnis di dunia entertainment cukup menjanjikan bila jago bermain. Seperti halnya bisnis agency model. Selain cukup mudah dijalankan dan tidak memakan waktu lama, juga yang pastinya bisa diandalkan menjadi pundi-pundi penghasil uang yang cukup lumayan. Dengan merekrut talent-talent seperti model, usher, atau pun sales promotion girl (SPG), pergerakan agency model di zaman sekarang tidak lagi terbilang sulit dalam merangkul klien.
Karakter bisnis agency kini berbeda-beda, tergantung apa yang digarap owner-nya. Umumnya agency model memang kerap melahirkan talenta-telenta baru di dunia hiburan. Namun sekarang tidak melulu seperti itu, justru kebanyakan lebih kepada media penyuplai "pekerja part time" untuk event-event hiburan maupun acara sejenis pameran.

Bonbon Society Agency misalnya. Agency yang berdiri 1 Januari 2013 itu lebih dominan sebagai penyuplai wanita-wanita berprofesi sales promotion girl/SPG, usher/penerima tamu, atau model untuk bekerja part time di event indoor maupun outdoor. Mereka yang ingin bergabung ke agency ini tidaklah sulit. Berparas cantik, tubuh ideal dengan tinggi di atas rata-rata plus memiliki komunikasi yang baik dan smart (pintar), sudah bisalah bergabung ke dalam manajemen Bonbon yang pemiliknya bernama Amri itu.

"Ambon tidak membuat syarat tertentu untuk bergabung di Bonbon Agency. Syarat utamanya adalah apa yang diutarakan pihak klien. Jadi klien memberitahu seperti apa kriteria yang diinginkannya, lalu kita cari dan menyuplainya. Intinya kita tetap berpatok kepada keinginan klien," kata Amri yang akrab disapa Ambon kepada MedanBisnis saat ditemui di kantornya, Jalan Sei Bahasa No.5, Kecamatan Medan Baru, beberapa waktu lalu.

Dijelaskannya, dalam dunia agency ada 3 profesi yang disewakan yakni SPG, usher dan model. SPG adalah wanita-wanita yang bersentuhan langsung dengan konsumen berdasarkan brand yang dibawanya. Fungsi SPG adalah melakukan personal selling atau berkomunikasi langsung (tatap muka) dengan calon pelanggan untuk memperkenalkan suatu produk dan membentuk pemahaman pelanggan terhadap produk tersebut sehingga mereka akan mencoba dan membelinya.

"Sedangkan usher (penerima tamu), baik tingkatan dan fee-nya lebih besar dari pada SPG. Usher lebih berfungsi pada representative produk. Jadi sebuah produk menggunakan si usher sebagai image produknya. Usher tidak perlu menjual produk atau one to one dengan customer. Usher lebih kepada pencitraan produk yang ditampilkan pada saat itu," terang Ambon.

Sementara model, sambungnya, levelnya lebih tinggi dari SPG dan usher. Model lebih digunakan klien sebagai gambaran atau pencitraan kepada customer-nya. Atau bisa dikatakan, si model merupakan brand ambassador nya sebuah produk sehingga penampilan si model tadi menjadi faktor penting pilihan klien. Tugasnya pun lebih simple, hanya untuk satu atau tiga hari.

Kriteria Talent
Ambon menjelaskan, penampilan seorang SPG/model/usher memang menjadi nilai lebih pada saat dilakukan screening agency untuk menentukan pilihan. Fokusnya lebih pada berpenampilan baik dan menarik, usia muda terutama yang baru tamat SMA dan tidak sedang kuliah, serta memiliki komunikasi yang baik dan smart (pintar).

Lalu seperti apa SPG/model/usher yang dipilih untuk dipekerjakan adalah hak mutlak si pemesan (klien). Permintaan klien, lanjutnya, biasanya berbeda-beda sehingga pihaknya selalu membuka screening sesuai permintaannya klien.

"Nah, ketika bertemu dengan klien barulah muncul syarat berikutnya. Misalnya, klien meminta model berwajah oriental, atau tingginya 170 cm ke atas, ada yang minta kulitnya harus putih, rambutnya panjang. Seperti inilah umumnya kriteria khusus yang diminta klien," sambung Ambon.
Pria 28 tahun itu merintis usaha ini berawal dari sekadar nge-sub SPG ke relasi-relasinya sejak dua tahun terakhir. Merekrut calon-calon tenaga SPG tersebut diakuinya tidaklah terlalu sulit.

Tidak seperti agency lain yang harus ikut audisi atau sekolah terlebih dahulu, di Bonbon Agency pihaknya hanya cukup mencetak flyer/brosur (sebagai media komunikasi antara pemilik informasi dengan konsumen), atau memasang iklan di radio dan broadcast Blakcberry Message (BBM) untuk mendatangkan gadis-gadis cantik tersebut. "Setelah di-screening dan cocok, maka sudah bisa bergabung dan selanjutnya langsung diberikan kerjaan dari klien," ucapnya lagi.

Status kerja SPG tersebut, lanjutnya, tidak terikat kontrak kerja dengan Bonbon. Umumnya agency di Medan memang tidak pernah menerapkan SPG/model/usher sebagai pekerja yang digaji tetap setiap bulannya. Ada job baru ada pekerjaan.

Artinya tanggungjawab agency tersebut hanya merekrut lalu memberi job yang didapat pada saat itu. "Begitu dapat job kita langsung screening," imbuhnya.

Perekrekrutan di Bonbon Agency memang tidak ada kepastian karena perhitungannya relatif. Apalagi saat ini Bonbon Agency sedang menangani program gawean dari sebuah brand rokok di Medan. Sebanyak 26 SPG plus 6 leader (pria) dari Bonbon Agency dikerahkan untuk menjalani program tersebut. Sehingga semua waktu difokuskan untuk itu. Jadi kalau ada job dari pihak lain terkadang harus ditahan dulu.

"Kalau menjalani program biasanya berlangsung lama, minimal sebulan sampai 3 bulan, atau bisa juga setahun mengikat kontrak kerja sama. Kecuali saya membuat tim lagi untuk menangani job/event yang masuk, tapi kan ribet dan menyiapkan hal itu tidaklah mudah," ungkap Ambon yang mengaku bisa menyiapkan 100 SPG di agency miliknya itu.

Bonbon Agency juga tidak mempermasalahkan SPG/usher/model yang sudah menikah. "Tidak masalah, selama penampilannya masih baik, ideal dan komit dengan jadwal job/event yang sedang berlangsung, ya It's Ok. Kita pun tidak membatasi usia," sebutnya.

Kehadiran agency menurut Ambon merupakan salah satu sarana pekerjaan bagi para SPG. Dari beberapa event yang diterima, kontraknya ada yang satu bulan, 3 bulan, bahkan setahun. "Ya memang mereka harus menunggu ada event untuk mendapat job. Tapi mereka juga bisa menerima job dari agency lain karena mereka tidak ada yang terikat," katanya lagi.

Yang jelas, terangnya, ketika pihaknya mendapat klien maka di awal harus sudah dipahami hak dan tanggung jawab masing-masing kedua belah pihak. Misalnya, kostum si SPG apakah ditanggung atau disiapkan pihak agency, apakah si SPG dijemput klien atau diantar agency, atau bagaimana konsumsinya selama berlangsung event, dan sebagainya. "Itu harus ada kesepakatannya dalam MoU yang dibuat. Tapi biasanya soal antar jemput itu dari agency, kalau konsumsi disediakan pihak klien," katanya.

Mendidik Bakat
Sementara agency lainnya, yakni Andika Management justru lebih menonjolkan sisi talent anak asuhnya dibanding sekadar menyuplai anak-anaknya kepada klien. "Kita bukan hanya sekadar agency tetapi merupakan tempat pelatihan multi talent. Bukan agency yang begitu merekrut langsung diperkerjakan, itu tidak. Sebelum diberi pekerjaan mereka terlebih dahulu disekolahkan di Andika Production. Setelah itu barulah penyaluran bakatnya di Andika Management," jelas owner Andika Management, Drs. Andi Rizki Siregar, kepada MedanBisnis, beberapa waktu lalu.

Pria yang sudah 17 tahun memimpin usahanya itu mengakui, dunia modeling saat ini sudah cukup meluas. Kalau biasanya model-model acap dapat dijumpai di atas catwalk, namun kini telah berubah frontal. Fungsi model lebih banyak pada jalur selling activity atau promotion produk (SPG), usher (penerima tamu), model foto dan lainnya. "Sifatnya lebih pada menonjolkan sisi kepribadian dan penampilannya," kata sosok yang akrab disapa Andika itu.

Untuk masuk ke Andika Management, terangnya, si model harus sekolah talent dulu di Andika Production. Masuk ke sekolah ini tidak terlalu banyak syarat, cukup hanya memiliki kemauan dan bakat (talent) dalam dirinya. "Kalau paras cantik itu relatif. Usia pun bebas, tidak ada tingkatan umur, hanya saja harus punya pendidikan karena itu jadi syarat mutlaknya. Sebab, apa jadinya kalau seorang model tidak punya pendidikan terus menjual sebuah brand (produk)?" kata lelaki yang menggeluti dunia hiburan berawal dari hobinya di seni teater.

Di Andika Production, si model diberikan bekal edukasi seperti acting, master ceremony (MC), tari, olah vocal, catwalk dan diarahkan kemana kemampuan talenta model tersebut. Setelah lulus dari Andika Production barulah si multi talent akan direkrut masuk ke Andika Management. Bila lolos ke sana, si model tidak lagi membayar namun akan dibayar bahkan mendapat salary rutin setiap bulannya. "Ya, baru manajemen kita yang berani berbuat seperti itu. Ada atau tidak ada job kita tetap memberi salary bulanan kepada model yang tergabung di Andika Management khususnya di kelas eksklusif," paparnya.

Tetapi bisa masuk ke Andika Management tentu tidak gampang. Perlu proses panjang dan kemauan dari si model. Syarat utama lolos ke manajemen itu harus smart (pintar), cantik dari dalam (inner beauty) dan memiliki kepribadian. "Istilahnya Tri B, yakni brain, beauty, dan behavior jadi syarat utamanya," ucap pria kelahiran Padangsidempuan itu.

Setelah memiliki bekal tadi dan setelah direkrut Andika Management, barulah si pemilik talent itu layak disalurkan untuk diperkerjakan, antara lain jadi SPG/usher/model, penari, penyanyi dan lainnya. (zulfadli siregar)
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook