User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
Ex. Menteri
 
 
 
Berita Terkini Hari Ini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 12,050.00 12,080.00
SGD 9,434.00 9,434.00
JPY 111.45 11,204.00
MYR 366,289.00 370,187.00
CNY 1,963.70 1,977.40
THB 37,002.00 37,454.00
HKD 1,552.80 1,557.65
EUR 15,237.25 15,300.55
AUD 10,525.75 110,577.35
GBP 19,307.75 19,381.25
Last update: 24 Okt 2014 09:00 WIB
Berita Terkini
Kamis, 22 Agt 2013 19:15 WIB - http://mdn.biz.id/n/46424/ - Dibaca: 222 kali
Krisis Moneter 1998 Bisa Terulang Jika Pemerintah Diam Saja
MedanBisnis - Jakarta. Krisis ekonomi yang pernah terjadi di tahun 1998 silam kemungkinan bisa terjadi lagi jika pemerintah tidak segera memberikan solusi kebijakan atas pelemahan kondisi ekonomi saat ini.
Terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merupakan salah satu indikasi keterpurukan ekonomi Indonesia akan terulang.

"Apakah artinya krisis 1998 akan terulang kembali? Kalau kebijakan nggak hati-hati, bisa. Untuk menghindari itulah (krisis) macam-macam kebijakannya," kata Pakar Ekonomi Global Asian Development Bank (ADB) Iwan Jaya Azis saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (22/8/2013).

Namun, kata Iwan, pelemahan rupiah ini masih dibilang lebih baik dari pada nilai tukar rupee, India yang jauh lebih buruk sehingga rupiah bisa kembali stabil jika pengambilan kebijakan pemerintah tepat.

"Sebetulnya semua negara kena, negara Asia kena. Jadi Indonesia nggak sendirianlah. Itu saya lihat semua sama, negara-negara lain juga sama, negara-negara lain juga kena, dari nilai tukar juga sama, rupee India lebih parah dibanding rupiah," katanya.

Terkait itu, Iwan menegaskan, apa pun antisipasinya, pelemahan ekonomi Indonesia saat ini tidak bisa dihindari jika kondisi global memang sedang tidak kondusif.

"Kalau soal dampak, nggak bisa dihindari karena sekarang itu dunia makin terkait kalau satu sakit semua kena," ujar Iwan.

Akibatnya, Iwan menambahkan, pertumbuhan ekonomi di negara-negara Asia terus melambat tak terkecuali Indonesia.

"Ini gara-gara gonjang-ganjing sektor keuangan, terutama yang paling besar di Asia ya China. Itu melambat," ujarnya.

Pada akhirnya, semua akan kembali menunggu pemulihan kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Eropa sebagai 'kiblat' perekonomian negara-negara di Asia termasuk Indonesia.

"Semua tergatung Amerika membalik kebijakannya kan ini semua bersumber kemungkinan membaliknya di Amerika," kata Iwan.

Jumat besok, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berencana mengumumkan paket kebijakan pemerintah baru dalam menanggapi situasi perekonomian Indonesia terkini. (dtf)
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook