User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
Ex. PNS
 
Berita Terkini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 11,720.00 11,750.00
SGD 9,355.80 9,396.35
JPY 111.77 112.39
MYR 3,695.21 3,736.19
CNY 1,902.90 1,916.00
THB 364.44 368.59
HKD 1,512.00 1,516.45
EUR 15,366.15 15,430.15
AUD 10,906.65 10,959.35
GBP 19,430.65 19,505.05
Last update: 02 Sep 2014 09:00 WIB
Headline News
Sabtu, 09 Nov 2013 06:28 WIB - http://mdn.biz.id/n/60795/ - Dibaca: 425 kali
Importir Tahan Harga Kedelai Mahal
KEDELAI - Pekerja merapikan tumpukan stok kacang kedelai di gudang penyimpanan di Jalan Setiabudi Medan. Dewan Kedelai Nasional (DKN) mengatakan alasan utama yang menyebabkan mahalnya harga kedelai adalah ulah permainan para importir yang sengaja menahan harga untuk mendapatkan untung besar. (medanbisnis/hermansyah)
MedanBisnis - Jakarta. Dewan Kedelai Nasional (DKN) angkat suara soal tingginya harga Kedelai impor yang masih Rp 9.500/Kg di tingkat perajin padahal normalnya Rp 6.500-7.000/Kg. Ketua DKN Benny Kusbini mengatakan,alasan utama yang menyebabkan mahalnya harga Kedelai ulah permainan para importir yang ambil untung besar.
"Sebagian besar kebutuhan kedelai kita kan berasal dari impor. Begini, bisa jadi di sana (negara produsen kedelai) harganya sudah turun tetapi yang beli ini (importir) sengaja bilang harganya masih tinggi dan perajin mau tidak mau beli karena butuh seperti aksi profit taking (ambil untung)," kata Benny, Jumat (8/11).

Menurutnya, aksi semacam ini sering dilakukan apalagi kebutuhan kedelai di dalam negeri cukup tinggi. Per tahun kebutuhan kedelai di Indonesia diperkirakan 2,2 juta hingga 2,5 juta ton/tahun. Sedangkan produksi kedelai di dalam negeri hanya 750.000 hingga 800.000 ton/tahun.

"Jadi memang dengan banyaknya permintaan kebutuhan kedelai di dalam negeri sedangkan produksi kedelai kita minim cara permainan seperti ini rentan sekali dilakukan. Indonesia kalau tidak mempunyai cadangan stok rentan terjadi food crime trade," imbuhnya.

Dia meminta pemerintah lebih serius untuk menangani masalah kedelai ke depan. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan membuat rancana strategis produksi kedelai nasional dan menyediakan cadangan stok kedelai untuk 3 bulan."Pemerintah harus punya blueprint yang konkret tentang pengadaaan pangan terutama kedelai di dalam negeri agar kasus semacam ini tidak terjadi lagi," cetusnya.

Perajin Komplain
Harga kedelai di tingkat perajin tahu dan tempe memang masih tinggi yaitu Rp 9.500/Kg saat ini. Padahal pemerintah telah menghapus bea masuk impor kedelai dari 5% menjadi 0% sejak 3 Oktober 2013."Harga kedelai masih kita beli dari distributor kedelai dengan harga Rp 9.500/kg atau tidak ada perubahan sama sekali," kata Rejeh seorang perajin tahu tempe di Jakarta Utara.

Rejeh mengatakan, tingginya harga kedelai sudah terjadi sejak 3 sampai 4 bulan terakhir. Bahkan pada saat itu, para perajin rela melakukan mogok produksi selama 3 hari. Hal itu dilakukan sesuai arahan surat yang diberikan Gabungan Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Gakoptindo)."Harga kedelai sudah tinggi sejak 3 sampai 4 bulan terakhir ini. Malah saat itu kita demo dan mogok produksi selama 3 hari. Normalnya harga kedelai itu biasanya ada di kisaran Rp 6.500/kg hingga Rp 7.000/kg," imbuhnya.

Sementara perajin tahu, Mukhrom, mengatakan, selain harga kedelai yang tinggi, kualitas kedelai saat ini dinilai kurang bagus. Padahal seharusnya dengan harga Rp 9.500/kg bisa mendapatkan kedelai dengan kualitas super."Kualitas kedelainya jelek sekali harganya masih Rp 9.500/kg. Biasanya dengan harga segitu, para perajin sudah bisa mendapatkan kedelai dengan kualitas bagus atau kelas supernya," katanya.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Bachrul Chairi mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan harga kedelai impor di dalam negeri masih tinggi. Salah satunya adalah masih melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS."Jadi informasi yang terakhir kita lihat depresiasi nilai tukar rupiah sudah 15% lebih bahkan sampai 20% ini juga menjadi pengganjal," katanya.

Sedangkan faktor lainnya yang menjadi pemicu tingginya harga kedelai di dalam negeri adalah minimnya hasil panen di pusat sentra produksi kedelai di Amerika Serikat. "Sekarang di Amerika belum panen, jadi stok masih menipis dan harga akan meningkat, kalau begitu panen raya harga akan turun kembali. Pada saat sekarang ini koridor waktu yang tidak mendukung sama sekali harga yang kompetitif. Dolar masih bertengger Rp 11.400. Jadi kalau dibandingkan sebelum ada kenaikan sudah pasti turun. Jadi inilah perdagangan ini terkait dengan eksternal seperti itu," imbuhnya.

Bachrul menjelaskan secara detil stok kedelai di dalam negeri hingga akhir November 2013 sebesar 125.000 ton. Jumlah ini akan terus bertambah hingga akhir tahun karena kembali akan masuk kedelai impor sebesar 260.000 ton."Stok nasional sampai dengan akhir bulan ini (November 2013) sudah sekitar 150.000 ton itu yang sudah masuk kemudian dikurangi konsumsi jadi sekitar 120.000 ton. akhir November ini diperkirakan naik 125.000 ton (tambahan 5.000 ton). Nanti sampai Desember akan masuk 260.000 ton. Jadi sudah normal dan stok tidak menyebabkan pengaruh yang gonjang ganjing. Eksternal faktor itu sekarang ngabisin stok dan harga naik," jelasnya. (dtf)
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
BERITA TERKAIT
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook