User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
Ex. JK
 
Berita Terkini Hari Ini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 12,050.00 12,080.00
SGD 9,434.00 9,434.00
JPY 111.45 11,204.00
MYR 366,289.00 370,187.00
CNY 1,963.70 1,977.40
THB 37,002.00 37,454.00
HKD 1,552.80 1,557.65
EUR 15,237.25 15,300.55
AUD 10,525.75 110,577.35
GBP 19,307.75 19,381.25
Last update: 24 Okt 2014 09:00 WIB
Keuangan & Perbankan
Rabu, 04 Des 2013 06:44 WIB - http://mdn.biz.id/n/65840/ - Dibaca: 1,485 kali
Less Cash Society, Evolusi Alat Pembayaran
CINDERAMATA Manager Departemen Penyelenggaraan Sistim Pembayaran (DPSP) Bank Indonesia, Agus Ponco Cahyono (kiri), menerima cinderamata dari Analis BI Sibolga, Marudut Butarbutar (tengah), disela kegiatan pengembangan wawasan ekonomi bagi sejumlah wartawan asal Sibolga. (medanbisnis/juniwan)
MedanBisnis - Sibolga. Era globalisasi dan informasi yang didukung pesatnya teknologi, berpengaruh sangat signifikan terhadap sistem pembayaran non tunai. Perkembangan teknologi informasi yang pesat, menuntut masyarakat bergerak cepat menyelesaikan berbagai urusan bisnis dan memeroleh kemudahan dalam pembayaran.
Maka, dibutuhkan instrumen atau alat pembayaran yang inovatif, praktis, aman dan efisien serta mudah digunakan masyarakat. Tren pembayaran non tunai akan meningkat pesat di masa depan, sehingga perlu dilakukan tindakan antisipatif oleh Bank Indonesia (BI) secara komprehensif. Selaku pemegang otoritas pelaksana sistem pembayaran nasional, BI harus siap menghadapi berbagai konsekuensi yang dapat timbul dari semakin pesatnya perkembangan teknologi tersebut.

"Sejalan dengan kemajuan itu, alat pembayaran di Indonesia mengalami evolusi dalam berbagai bentuk, umumnya berbasis kartu elektronik, di antaranya, kartu kredit, kartu ATM atau kartu debet, karena lebih praktis dan lebih mudah," ungkap Firdaus P Simatupang, Asisten Direktur Departemen Penyelenggaraan Sistim Pembayaran (DPSP) Bank Indonesia, didampingi Manager, Agus Ponco Cahyono, kepada wartawan yang mengikuti kegiatan pengembangan wawasan ekonomi, Kamis (28/11) lalu di Kantor BI Pusat di Jakarta.

Untuk memudahkan transfer uang dalam jumlah besar, BI menyelenggarakan sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS), dan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI). Transaksipun kelar dalam seketika itu juga.

Alat pembayaran terus berevolusi, inovasi pembayaran menggunakan kartu telah berkembang menjadi bentuk yang lebih praktis. Nilai uang disetorkan terlebih dahulu dan ditanamkan ke media kartu, bisa digunakan berbelanja dan tak butuh rekening untuk menyimpan uang tersebut.

"Ketika akan bertransaksi, instrumen (kartu-red) itu didekatkan ke alat baca elektronik yang dipasang di setiap merchant, kartu tersebut berlaku sebagai alat bayar.

Mekanisme itu disebut sebagai uang elektronik (e-money), salah satu inovasi teknologi pembayaran ritel," jelas Firdaus.

Artinya, selain menggunakan uang tunai (uang kartal-red), masyarakat saat ini sudah dapat bertransaksi bisnis secara non tunai menggunakan uang elektronik (e-money). BI menilai, penggunaannya lebih efisien, dan mampu menekan biaya pencetakan dan distribusi uang kartal (uang kertas dan uang logam-red).

Penggunaan e-money di masyarakat yang terus berkembang, mengindikasikan bahwa budaya less cash society, atau era sistem pembayaran secara non tunai, mengalami tren peningkatan. Sepak terjangnya, dimulai sejak akhir tahun 2005 dengan terbitnya Peraturan Bank Indonesia (PBI) nomor 7/59/DASP tanggal 30 Desember 2005, tentang tata cara penyelenggaraan kegiatan alat pembayaran dengan menggunakan kartu.

"Secara nasional, Bank Indonesia meluncurkan program berupa layanan pengiriman uang lintas operator seluler dan layanan keuangan melalui bank tanpa kantor cabang (branchless banking). Pada tanggal 15 Mei 2013, penggunaan e-money memasuki level baru melalui kerja sama sejumlah operator seluler di Indonesia, sehingga transfer uang sudah dapat dilakukan antar operator seluler," katanya.

Uang Kartal Masih Dominan

Pemakaian electronic money sebagai alternatif alat pembayaran non tunai, diakui memiliki kelebihan dan manfaat dibanding alat pembayaran tunai, bahkan dengan alat pembayaran non-tunai lainnya. Namun, hingga saat ini penggunaan uang kartal masih lebih dominan dan memegang peranan penting dalam mendukung kelancaran transaksi pembayaran di masyarakat. Hal itu tercermin dari pertumbuhan jumlah uang kartal yang diedarkan.

"Oleh karena itu, keberhasilan less cash society sangat tergantung pada landasan hukum yang jelas dan keamanan bertransaksi. Ini akan meyakinkan masyarakat dalam menggunakan berbagai alat pembayaran non tunai yang pada gilirannya mereka merasa nyaman dengan sendirinya. Selain itu, kondisi sosiologi dan budaya yang harus mulai diarahkan pada pengunaan instrumen non tunai. Peran ini tidak semata-mata menjadi tugas Bank Sentral, tapi harus secara bersama-sama, baik pemerintah, pihak swasta dan perbankan sebagai ujung tombak mengkampanyekan kegiatan less cash society," pungkasnya. ( juniwan)
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook