User ID Password  
HOME   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini Hari Ini
BERITA TERKINI SELENGKAPNYA
E-paper
Efek Pencetak Laba (RPH)
TPIA 1,025 4.09%
PLIN 680 16.19%
MAPB 630 25%
Last update: 22 Jun 2017
Efek Pencetak Rugi (RPH)
ITMG -550 -3.08%
RDTX -325 -4.71%
INTP -250 -1.34%
Last update: 22 Jun 2017
Volume Terbesar
MYRX 765,811,584
IIKP 237,799,504
BUMI 234,360,992
Last update: 22 Jun 2017
Transaksi Tertinggi
BMRI 445,433,070,000
ASII 406,870,680,000
BBRI 393,311,260,000
Last update: 22 Jun 2017
Efek Teraktif
HOKI 9,692 Freq
PGAS 7,631 Freq
HOKI-W 7,008 Freq
Last update: 22 Jun 2017
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 13,252.00 13,386.00
SGD 9,540.68 9,640.62
JPY 11,938.74 12,062.72
MYR 3,092.65 3,126.84
CNY 1,943.19 1,962.84
THB 390.22 394.40
HKD 1,699.04 1,716.31
EUR 14,798.51 14,950.82
AUD 9,997.31 10,105.09
GBP 16,781.01 16,954.71
Last update: 23 Jun 2017 11:05 WIB
Art & Culture
Minggu, 06 Apr 2014 08:51 WIB - http://mdn.biz.id/n/88602/ - Dibaca: 1,176 kali
Oleh: T Agus Khaidir
Lenka: Ingar-Bingar Novel Keroyokan
Lenka
Satu novel lazimnya ditulis seorang penulis. Masih termaklumkan pula jika ternyata penulisnya lebih dari satu. Mungkin dua atau tiga, atau bahkan empat orang. Dapatkah Anda membayangkan satu novel ditulis bersama oleh 17 orang?
Heran, takjub, barangkali malah tertawa lantaran geli. Pastinya, sedikit banyak rasa penasaran akan muncul jika Anda membaca novel seperti Lenka. Bahkan boleh jadi rasa ini sudah mencuat saat Anda baru sekadar memegang bukunya. Lenka memang bukan novel biasa. Selain jumlah penulis, tema cerita dan alur yang diterapkan juga menabrak segenap metode penulisan konvensional.

SAYA membuka catatan Yusi Avianto Pareanom dan AS Laksana, dua editor Lenka, untuk mengetahui dari mana ketaklaziman ini bermula.
Saya menemukan dua paragraf yang juga tidak kalah ganjil.

"Dimulai dari Reno Fadillan Hakim (25) yang melompat dari lantai lima Senayan City pada awal bulan Desember 2009. Entah karena memang tuntutan hidup yang semakin tinggi, patah hati tak tertahankan, atau racun serangga sudah terlalu mahal, aksi lompat Reno kemudian diikuti banyak orang. Di hari yang sama, seorang perempuan bernama Ice lompat dari lantai lima West Mall Grand Indonesia. Lalu ada juga Richard Kurniawan (37) yang lompat dari lantai tujuh Mangga Dua Square."

Kalimat-kalimat dalam paragraf pertama ini dirangkai dari intisari pemberitaan di media massa perihal peristiwa bunuh diri dengan cara yang sama, yaitu melompat dari ketinggian.
"Bagaimana jika direka rangkaian cerita yang bermula dari satu kejadian: ada seorang gadis melompat dari lantai lima. Apa saja kemungkinannya? Bunuh diri? Didorong orang? Tergelincir? Siapa saja yang terlibat? Orang dekat? Musuh? Orang asing?"

Maka setelah Yusi Avianto Pareanom dan AS Laksana menulis paragraf pembuka novel 262 halaman ini dengan kalimat: "Pada sebuah acara penggalangan dana, seorang perempuan muda bergaun biru wisnu jatuh dari lantai lima. Namanya Magdalena, biasa dipanggil Lenka mengikuti kebiasaan orang Eropa Timur (neneknya orang Magyar, Hungaria), 22 tahun, mahasiswa dan model. Bunuh diri, kecelakaan, atau sengaja didorong oleh seseorang?", seluruh anggota bengkel penulisan yang mereka asuh (Sarekat Penulis Kuping Hitam) diberi hak yang sama untuk melakukan pengembangan sendiri-sendiri.

Ketika itu akhir 2009 dan draf pertama novel ini selesai sembilan bulan kemudian sebagai satu "mahluk" yang lebih mirip Frankestein. Monster! Seram namun menghadirkan sensasi imajinatif menggiurkan. Ada yang menggelindingkan kalimat tadi ke arah drama psikologis, action comedy, seks, bahkan horor dan mistik. Di sana-sini begitu banyak konflik bermunculan. Begitu pula tokoh-tokoh. Baik tokoh yang dimaksudkan untuk memiliki peran penting maupun tokoh sekadar melintas sekilas-pintas.

Setelah melalui proses "kurasi", dari sekian banyak nama akhirnya dipilih sekitar 20 nama unik (kalau tidak bisa dibilang aneh). Sebutlah Tiung Sukmajati, ayah Lenka yang berprofesi komposer. Lalu Luisa Bathory, istri Tiung asal Csongrad, Hongaria. Kemudian abang Lenka, Pandan Salas, pecatur jenius dengan sederet prestasi mengagumkan dan Meimei Pikatan, tunangannya.

Juga sederet nama lain seperti Amir Sambaliung (politisi yang sering mensponsori pagelaran-pagelaran musik Tiung Sukmajati), Liman Pamalayu (konglomerat yang dekat dengan keluarga Sukmajati), Danny Amsterdam (pemimpin agensi model Asia Jewel tempat Lenka bernaung), Komang Arwasanti (mantan model kenamaan yang dinikahi Liman), Jabar Kamus (wartawan Koran Metro Baru), Helong Lembata (fotografer), dan AKP Diah Maduratna, petugas kepolisian yang menanggungjawabi penyelidikan kasus kematian Lenka. Nama Lenka sendiri memang hanya alias. Ia dilahirkan sebagai Magdalena Anjani Sukmajati.

Satu yang nyaris seragam: tokoh-tokoh ini diciptakan dengan sifat dan sikap serba aneh nyeleneh, sadis, brutal, dan memiliki kepribadian menyimpang terutama dalam soal orientasi seksual. Helong Lembata, misalnya. Dia bukan fotografer "biasa". Dia lelaki yang terobsesi dengan luka dan menjadikannya sebagai premis untuk mendirikan aliran baru dalam fotografi yang ia sebut sebagai "Fotografi Pembebasan". Ia kerap memotret tubuh telanjang penuh luka, terutama tubuh perempuan, lantas memamerkannya untuk konsumsi manusia manusia sakit jiwa yang tergabung dalam komunitas underground bernama Ascetic Art.

Pandan Salas juga tidak kalah menghadirkan gidik. Sejak kecil telah terobsesi pada kekerasan dan mengidap sadomasokis tingkat akut lantaran kelewat dalam mencandui film porno kategori hard core. Ia memperkosa dan menghamili Lenka saat adiknya itu masih berusia 14. Janin ini kemudian digugurkan di satu klinik gelap di satu gang sempit di sudut Jakarta.

Konstruksi Rumit dan Kegaduhan Tak Utuh
Hamsad Rangkuti dan Sapardi Djoko Damono pernah mengemukakan pendapat mereka perihal kecenderungan gaya bercerita "penulis zaman sekarang". Hamsad memakai analogi akrobat. Sedangkan Sapardi menyebut ia kerap terpesona dan larut pada kecanggihan kata dan kerumitan konstruksi kalimat, namun nyaris selalu gagal memahami kisah apa yang sebenarnya sedang dipaparkan.

Lenka memamerkan kerumitan konstruksi serupa. Dari serangkaian kalimat yang menggambarkan peristiwa yang belum terjadi: "Lima belas menit lagi kepala indah Lenka akan menghantam lantai dasar Jakarta Art Exhibition Center. Bagian belakang tengkoraknya akan pecah dan darahnya menggenang seperti saus vla merah. Serpihan daging merah jambu dan otak putih keabu abuan akan bercampur dengan kepingan kecil mengkilap dari patung kristal yang pecah terhantam oleh tubuh Lenka yang meluncur dari lantai lima", biografi Lenka mengalir deras dalam pilinan-pilinan serba gaduh sepanjang 34 empat bab, dua interlude, dan satu apendiks yang berakhir pada kematian Jabar Kamus. Wartawan pelipus kasus kematian Lenka ini menemui ajal lewat cara tak kalah misterius.

Alur cerita bergerak liar melompati dimensi waktu dengan sentakan-sentakan yang kadangkala muncul tanpa aba-aba sama sekali. 'Sehari Setelah Malam Pesta', 'Tiga Puluh Tahun Sebelum Malam Pesta', 'Dua Puluh Lima Tahun Sebelum Malam Pesta', dan seterusnya. Tapi keliaran demi keliaran ini secara mengesankan selalu mampu kembali dan kembali lagi ke pusat penceritaan: Lenka dan kematiannya yang disebut sebagai "Malam Pesta".

Dua editor novel ini telah bekerja dengan sangat cermat. Terutama dalam menjaga kesetiaan pada lompatan dan sentakan di satu sisi, dan di lain sisi secara terus-menerus memiuhkan romantisme kengerian. Kadangkala kengerian ini dipandang sebagai lelucon atau malah digiring ke arah yang menjurus pada erotisme. Kedua pendekatan ini bahkan bisa muncul bersamaan dalam satu paragraf.

Contohnya ketika Dalpan, dokter yang menangani otopsi, terpancak mematung di depan tubuh Lenka. Ia menggumam pada dirinya sendiri: "Nikmati saja, berlama-lama juga boleh.

Sebab nikmat itu sesuatu yang tidak ada duanya. Tikam juga matamu, ke bagian mana pun yang kau suka, telusuri satu per satu... Kau juga boleh pelototi payudara Lenka yang berukuran 34 B. Payudara itu sepertinya sudah sering diremas dengan gemas-gemasnya. Lihat, sekarang sudah keras. Setidak-tidaknya dengan telunjukmu tekan putingnya. Jangan seperti menekan puding begitu."

Konsistensi lainnya adalah membuat banyak kegaduhan tak utuh selesai. Beberapa motif kegilaan melesat-lesat hilang kendali. Berbeda dengan metode kerja tokoh detektif (rekaan) macam Sherlock Holmes atau Hercule Poirot, dalam novel ini, semakin banyak data dipapar justru kian memperbesar tanda tanya. Kedua editor juga terkesan "membiarkan" pula sebagian besar tokoh "hidup" dalam lebih dari satu pribadi.

Lenka, misalnya, di bebarapa bagian digambarkan sebagai perempuan muda yang memiliki kepercayaan diri tinggi dan -tentu saja- waras. Tapi di bagian lain ia tampil sebagai perempuan ringkih. Kontradiksi juga menyeruak pada Helong. Ia kadang muncul sebagai lelaki ambisius, dingin, dan serba sadis, namun di lain waktu hadir dengan penuh rasa empati dan sentimentil pula. Barangkali ini disengaja. Barangkali tidak. Barangkali ini memang satu kealpaan, atau boleh jadi konsekuensi yang tak terhindarkan dari proses penciptaan satu gagasan yang dikerjakan dengan banyak kepala.

Judul Buku : Lenka
Penulis : Sarekat Penulis Kuping Hitam
Editor : A.S. Laksana dan Yusi Avianto Pareanom
Jumlah Halaman : 262
Ukuran : 14 x 21 cm
Cetakan : 1, Juli 2011
Penerbit : Banana
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
Automatic Gate Kualitas Eropa Automatic Gate Merek NICE
Pemasangan Sectional Door, hubungi kami sekarang juga. Sectional door kami merupakan produk buatan eropa.
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!