User ID Password  
HOME   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini Hari Ini
BERITA TERKINI SELENGKAPNYA
E-paper
Efek Pencetak Laba (RPH)
TPIA 1,025 4.09%
PLIN 680 16.19%
MAPB 630 25%
Last update: 22 Jun 2017
Efek Pencetak Rugi (RPH)
ITMG -550 -3.08%
RDTX -325 -4.71%
INTP -250 -1.34%
Last update: 22 Jun 2017
Volume Terbesar
MYRX 765,811,584
IIKP 237,799,504
BUMI 234,360,992
Last update: 22 Jun 2017
Transaksi Tertinggi
BMRI 445,433,070,000
ASII 406,870,680,000
BBRI 393,311,260,000
Last update: 22 Jun 2017
Efek Teraktif
HOKI 9,692 Freq
PGAS 7,631 Freq
HOKI-W 7,008 Freq
Last update: 22 Jun 2017
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 13,252.00 13,386.00
SGD 9,540.68 9,640.62
JPY 11,938.74 12,062.72
MYR 3,092.65 3,126.84
CNY 1,943.19 1,962.84
THB 390.22 394.40
HKD 1,699.04 1,716.31
EUR 14,798.51 14,950.82
AUD 9,997.31 10,105.09
GBP 16,781.01 16,954.71
Last update: 23 Jun 2017 11:05 WIB
Interaktif Bisnis
Rabu, 04 Jan 2017 06:52 WIB - http://mdn.biz.id/n/276443/ - Dibaca: 216 kali
Guru Juga Butuh Pembinaan dan Latihan
Guru Tidak Lulus UTN Foto ilustrasi kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Sebanyak 73% atau 2.831 guru dari 3.598 guru di Sumatera Utara (Sumut) tidak lulus ujian tulis nasional (UTN). (medanbisnis/net)
Leo B Bukit SSos berpendapat, 2.831 guru dari 3.598 guru di Sumatera Utara yang tidak lulus Ujian Tulis Nasional (UTN) bisa saja cuek atau ujian tersebut dianggap para guru hanya formalitas saja. "Saya melihatnya para guru yang tidak lulus itu kecolongan tidak langsung mendapatkan akreditasi 2017," katanya.
Menurutnya, para guru yang belum lulus tersebut jangan langsung dikatakan sudah terlalu enak sehingga tidak mau belajar, tidak mengutamakan kualitas, para guru mengejar-ngejar sertifikasi, sementara tidak punya kemampuan dalam mengajar. "Seharusnya para guru yang belum lulus itu diberikan bimbingan dari pemerintah," ujarnya.

Sisi lain juga, banyak guru sudah mengajar sistem jam terbang, beri tugas ke siswa, lantas lari ke sekolah lain. Sekolah yang jadi tanggung jawabnya diabaikan. Jam mengajarnya pun kurang dari yang semestinya. "Itu kenapa terjadi? Lebih baik dicari kesalahannya dimana," pintanya. Ia apresiasi kepada pemerintah karena masih memberikan kesempatan mengulang bagi guru tidak lulus.

Sementara itu, menurut Herman guru-guru selama ini keenakan. Loh kok bisa? karena pembiaran, tidak melaksanakan kendali mutu (itu dengan asumsi Depkdikbud punya prosedur itu). Guru yang sudah punya kualitas keilmuan, skill mengajar banyak lalu juga lari cari job ke sekolah lain? Atau malah lari/dibajak oleh lembaga pendidikan swasta modal besar. Kenapa? Biasanya, mengejar kesejahteraan yang lebih baik.

Ini artinya ada problem kantong dan komponen kesejahteraan lain. Siapa yang tidak memikirkan hari tua, punya rumah layak tinggal? Ada tabungan pensiun yang cukup untuk hidup nyantai atau bisa buka usaha. Belum lagi memikirkan dana pendidikan anak-anak. Ini bukan cerita menjadi kaya, tetapi kalau menghendaki kasus ini ditekan maksimal, pikirkan kesejahteraan guru.

Apa kompensasi untuk mereka yang dituntut untuk memberikan yang terbaik demi memajukan pendidikan. Ini merupakan salah satu faktor. Faktor lain mungkin lembaga pendidikan Sekolah Pendidikan Guru atau perguruan tinggi pendidikan harus menyaring dengan lebih ketat. Produk guru/tenaga pengajar harus dikontrol kualitasnya secara berkala bahkan untuk swasta. "Bila tidak hasil pendidikan akan makin ngenes," tulisnya.

Namun menurut Anata Hrp, berbeda di lapangan dengan yang diuji. Guru tidak fokus lagi untuk diuji tapi fokus jadi mediator dalam mendidik. Kebijakan yang perlu di uji. Tahun 2015 target penilaian hanya 42 poin, tahun 2016 ini harus 80 poin. "Masa dalam setahun hampir 100 persen naiknya. Yang bukan guru formal, rasakan dulu jadi guru, biar tau pahitnya....hmmm," tulisnya.

Produk harusnya yang diuji, berhasil atau tidak mendidik itu. Kadang pintar dalam pengetahuan tapi tidak terampil dalam mengajar.

Hampir senada, Imran Purba SPdi mengatakan, jangan cuma menuntut saja bisanya. Sangat wajar nilai UTN guru rendah sebab selama ini hampir sangat minim pendidikan dan latihan (Diklat) yang diberikan pasca PLPG. Penerapan K-13 pun masih belum seluruh sekolah menerapkannya. "Buku Guru dan Buku Siswa serta perangkat perangkat K13 lainnya pun masih belum bisa dipenuhi," tulisnys.

Siti Arwah Nasution pun berpendapat demikian. Tidak elok menyudutkan guru karena tidak lulus UTN. Apalagi disebut-sebut guru yang kejar jam mengajar. Bisa disikapi lebih bijak. Materi UTN itu sendiri pernah tidak disosialisasikan kepada para guru yang sudah seabreg tugasnya ?.

Diminta membuat RPP dan format-format lain yang harus diisi. Rencana peningkatan kualitas guru itu benar, tapi akan lebih tepat bila guru diberi tahu sampai dimana materi yg harus dikuasainya. "Perkumpulan guru jangan sekedar makan-makan dan arisan," tulisnya.
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
Automatic Gate Kualitas Eropa Automatic Gate Merek NICE
Pemasangan Sectional Door, hubungi kami sekarang juga. Sectional door kami merupakan produk buatan eropa.
BERITA TERKAIT
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!