User ID Password  
HOME   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
 
 
Berita Terkini Hari Ini
BERITA TERKINI SELENGKAPNYA
E-paper
Efek Pencetak Laba (RPH)
GGRM 1,200 1.83%
RDTX 1,100 14.86%
PLIN 760 18.91%
Last update: 30 Mar 2017
Efek Pencetak Rugi (RPH)
AMFG -350 -5%
BBNI -225 -3.41%
SMGR -225 -2.48%
Last update: 30 Mar 2017
Volume Terbesar
SRIL 3,450,991,872
MYRX 2,166,923,520
BKSL 418,262,400
Last update: 30 Mar 2017
Transaksi Tertinggi
SRIL 1,205,523,931,000
BBCA 324,086,035,000
ASII 324,029,582,500
Last update: 30 Mar 2017
Efek Teraktif
SRIL 53,180 Freq
TRAM 10,505 Freq
KBLI 9,623 Freq
Last update: 30 Mar 2017
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 13,249.00 13,383.00
SGD 9,486.61 9,588.05
JPY 11,896.38 12,022.10
MYR 2,995.48 3,029.20
CNY 1,923.24 1,942.69
THB 383.92 388.03
HKD 1,704.97 1,722.24
EUR 14,237.38 14,386.73
AUD 10,150.06 10,254.05
GBP 16,481.76 16,649.79
Last update: 30 Mar 2017 11:20 WIB
Interaktif Bisnis
Senin, 09 Jan 2017 07:35 WIB - http://mdn.biz.id/n/277256/ - Dibaca: 145 kali
"Pemerintah Tarik Subsidi, Anak Kami Kurang Gizi"
Ketimpangan Sosial Suasana pemukiman padat penduduk di kawasan Kampung Melayu, Jakarta, kemarin. Berdasarkan data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), Indonesia masih berada pada peringkat ke-4 negara paling timpang di dunia. (antara foto/rosa panggabean)
Roni Inoki bertanya bagaimana mau menyelesaikan harga pangan kalau pemerintahnya enggak peduli. Bagaimana mungkin seorang menteri memberikan solusi tentang mahalnya harga cabai dengan menyuruh rakyat menanam cabai di halaman rumah masing-masing? Kalau solusi begitu yang dia berikan, sudah dari dulu rakyat mengerjakannya.
Jangan karena pemerintah takut kepada para mafia pengendali harga malah rakyat yang dikorbankan. Selama enggak ada keseriusan pemerintah dalam mengurus rakyat, maka kemiskinan di negeri ini akan terus bertambah.

Pemerintahan diisi oleh para pejabat yang mengaku pintar dan bertitel tinggi tapi enggak ada yang mau mengeluarkan kebijakan dan program yang prorakyat.

Isna Ini yakin upah murah menjadi salah satu penyumbang kemiskinan, banyak para kapitalis (pemilik modal) yang mempekerjakan buruh dengan upah murah. Padahal sang pemodal menjual barangnya dengan harga tinggi, sehingga pemodal semakin kaya dan jaya raya, buruh cuma hidup seadanya.

Pegawai negeri sipil (PNS) yang dalam benerapa tahun ini mulai ditingkatkan penghasilannya dengan menaikkan gaji pokok beserta tunjangan yang banyak ditambahkan, tidak berkontribusi banyak dalam mengedarkan uang di tengah-tengah masyarakat. Mereka banyak menumpuk uangnya dalam bentuk investasi.
Pemodal yang untung besar tentu akan berekspansi dan menguasai aset nasional.

Para pemodal terlalu serakah dengan memberi upah buruh yang murah sehingga buruh tidak sanggup membeli barang mahal. Ini berdampak pada harga kebutuhan pokok lainnya yang juga tidak bisa dijual mahal karena konsumen tidak mampu membelinya.

"Dengan demikian maka petani pun hanya mendapatkan untung sekadarnya saja akibat harga jual mereka tidak bisa dijual mahal," papar Isna Ini.

Askar Marlindo
melihat meningkatnya jumlah penduduk yang tidak dibarengi dengan tersedianya lapangan kerja yang memadai, mengakibatkan jumlah pengangguran semakin banyak. Hal ini disebabkan karena kurangnya lapangan pekerjaan. Lapangan pekerjaan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perekonomian masyarakat.

Sedangkan perekonomian menjadi faktor terjadinya ketimpangan sosial. Salahsatu karakteristik tenaga kerja di Indonesia adalah laju pertumbuhan tenaga kerja lebih tinggi ketimbang laju pertumbuhan lapangan kerja. Berbeda dengan negara-negara di Eropa dan Amerika, di mana lapangan pekerjaan masih berlebih.

Sebenarnya Indonesia mampu menjadi negara yang maju dan menjadi negara yang mampu menyejahterakan masyarakatnya. Karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat kaya dan melimpah tetapi mengapa masih terjadi ketimpangan sosial yang sangat mencolok. Ini menjadi pertanyaan besar yang perlu adanya jawaban dan titik terang.

"Hal ini merupakan tugas bagi pemerintah untuk bisa lebih menyejahterakan masyarakat serta meminimalisir ketimpangan sosial di negara ini," ujar Askar Malindo.

Menurut Putra Aguan Al Fayyed, kesenjangan sosial yang terjadi di sebuah negara merupakan mimpi buruk bagi masyarakatnya dan PR (Pekerjaan Rumah) yang harus diselesaikan oleh penguasa yang memerintah. Tak terkecuali dengan negeri kita, Indonesia ini yang katanya subur, makmur, gemah ripah loh jenawi. Itu cuma "katanya".

Tetapi buktinya di lapangan masih banyak ketimpangan sosial yang terlihat antara si kaya dan si miskin. Yang kaya makin kaya yang miskin makin melarat. Si kaya dengan mudahnya berada di puncak rantai kehidupan tanpa perduli bahwa masih banyak orang di bawahnya yang melarat. Segala cara dilakukan tanpa pandang haram atau halal.

Tujuannya agar mereka bisa kaya dan lebih kaya lagi. Namun di satu sisi ratusan juta orang miskin di negeri ini melarat dan bahkan melewati tidur malamnya dengan kelaparan. Di mana amanat sila kelima yang katanya memberikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Apakah mereka yang miskin-miskin itu bukan bagian dari rakyat Indonesia?

"Sehingga yang makmur hanya mereka-mereka yang kaya saja. Saya rasa jawabannya harus dijawab sendiri oleh pemerintah Indonesia karena merekalah yang bertanggungjawab besar atas ketimpangan ini. Sekian!" tegas Putra Aguan Al Fayyed.
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
Informasi pemasangan barrier gate, jual barrier gate dan Barrier Gate Otomatis, hubungi NICE Automatic Gate sekarang juga! Terima kasih!
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!