User ID Password  
HOME   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini Hari Ini
BERITA TERKINI SELENGKAPNYA
E-paper
Foto Berita
Efek Pencetak Laba (RPH)
TCID 1,200 7.84%
FORZ-W 327 32700%
INKP 240 13.04%
Last update: 28 Apr 2017
Efek Pencetak Rugi (RPH)
UNVR -1,250 -2.73%
JECC -700 -11.48%
ITMG -500 -2.55%
Last update: 28 Apr 2017
Volume Terbesar
MYRX 1,336,184,960
BUMI 482,200,512
BIPI 435,902,912
Last update: 28 Apr 2017
Transaksi Tertinggi
TLKM 547,736,630,000
ASII 261,678,960,000
INDY 248,406,638,000
Last update: 28 Apr 2017
Efek Teraktif
INDY 13,026 Freq
BUMI 8,233 Freq
DOID 6,268 Freq
Last update: 28 Apr 2017
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 13,260.00 13,394.00
SGD 9,496.53 9,594.56
JPY 11,929.82 12,051.47
MYR 3,048.28 3,081.21
CNY 1,923.66 1,943.10
THB 382.90 386.89
HKD 1,704.37 1,721.82
EUR 14,410.97 14,561.96
AUD 9,902.57 10,009.34
GBP 17,114.68 17,292.99
Last update: 28 Apr 2017 11:10 WIB
Politik
Kamis, 12 Jan 2017 07:46 WIB - http://mdn.biz.id/n/277865/ - Dibaca: 73 kali
Rudiantara: Banyak Media Online Tak Jelas
MedanBisnis - Medan. Keberadaan media online yang sudah tercatat di Dewan Pers kurang lebih sebanyak 43.000 media. Namun, media yang dinilai jelas atau sesuai dengan kaidah pers itu masih sangat sedikit.
Sehingga dikhawatirkan, keberadaan media seperti ini bukan malah mencerdaskan masyarakat, tapi malah memberikan informasi menyesatkan, apalagi jika sampai menyebarkan informasi hoax atapun hasut.

"Jadi dari data Dewan Pers itu ada sekitar 43.000 kategori media online atau yang menyatakan dirinya sebagai media online, tapi yang tersertifikasi sebagai badan usaha dan bertanggung jawab serta alamatnya jelas atau media yang sesuai menurut kaidah pers itu tidak lebih dari 300," ujar Menteri Komunikasi dan Informasi RI Rudiantara, di sela-sela Seminar Mengembalikan Kejayaan Perkebunan Sumut di Aula Martabe kantor Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Rabu (11/1).

Dijelaskannya, keberadaana media online yang tidak jelas ini tentu saja bisa meresahkan masyarakat, apalagi jika media tersebut memberikan informasi yang tidak benar atau hoax dan hasut kepada masyarakat. "Makanya menyongsong Hari Pers Nasional pada Februari nanti, Dewan Pers dan kita akan berusaha untuk menata media online yang seperti ini," terangnya.

Rudiantara juga menyatakan untuk mengantisipasi informasi hoax dan hasut yang beredar di media sosial maupun media online maka diharapkannya semua elemen harus bergerak, baik masyarakat, pemerintah dan komunitas.

"Paling penting untuk mengantisipasi berita hoax ini adalah harus dimulai dari diri kita sendiri, artinya kalau kita menerima informasi pastikan dulu informasi tersebut benar. Seperti dalam Islam ada istilah Tabayun, kita lihat dulu ini benar apa nggak. Kedua kita pikir dulu informasi ini bermanfaat apa tidak. Kalau tidak bermanfaat informasi itu akan menjadi ghibah kalau kita sebarkan dan kita yang menyebarkannya juga berdosa," jelasnya.

Dikatakannya, aparat hukum memang menjadi penegak terhadap situs maupun media sosial yang menyebarkan informasi hoax dan hasut, namun itu haruslah menjadi langkah terakhir, karena akan lebih baik antisipasi dilakukan dan dimulai dari diri sendiri.

Begitu pun, kata dia, Menkominfo sudah meluncurkan situs anti hoax sehingga masyarakat dapat mengunduh situs www.turnbackhoax.id tersebut untuk melihat kebenaran informasi yang tersebar di media sosial apakah benar atau hoax ataupun hasut. "Bisa langsung dibuka situs tersebut karena isinya beragam mengenai informasi yang beredar dan kita bandingkan dengan kebenaran apakah itu hoax, hasut atau asli," jelasnya.

Sekedar informasi berdasarkan pantauan di laman www.turnbackhoax.id, situs tersebut merupakan arsip dari hasil diskusi grup Forum Anti Fitnah, Hasut dan Hoax (FAFHH) di Facebook. Dalam situs tersebut setidaknya terdapat sebanyak 45 kategori informasi, seperti Ahok, 212, 412, Habib Rizieq, Palu Arit, hingga informasi hoax mengenai menapouse dini dan kanker serviks.

Di sisi lain, Rudiantara juga menyatakan pihaknya akan mengajak komunitas-komunitas anti hoax yang ada untuk menjadi komunitas yang dapat menyaring informasi di awal sebelum tersebar ke seluruh masyarakat.

"Semakin banyak komunitas ataupun masyarakat yang anti hoax itu tentu akan baik karena itu akan menjadi saringan pertama di masyarakat sendiri. Kalau kami lebih focus kepada konten atau isi yang disebarkan kalau kontenya itu melanggar aturan tentu akan kami lakukan penapisan (penyaringan)," jelasnya.

Rudiantara juga meminta kepada masyarakat agar setiap informasi lebih dulu sebaiknya dicek, bisa disitus anti hoax yang dikeluarkan pihaknya. Hal ini sangat penting sehingga tidak menjadi informasi yang menyesatkan bagi masyarakat.
"Masyarakat harus mengecek dulu, karena ada namanya Silent Majority, dimana masyarakat yang sebetulnya tidak tahu menjadi terbawa emosi karena informasi yang menyesatkan," katanya.

Di tempat yang sama, Ketua DPD RI, Mohammad Saleh mengatakan sekarang ini tantangan media ini sangat banyak soalnya sulit untuk membedakan mana berita yang benar dan mana yang tidak.

"Saya selalu menyampaikan kepada masyarakat agar berhati-hati memilah dan membaca berita," ujarnya, sembari mengatakan pemerintah juga harus memberikan supporting kepada media dengan mengambil bagian ataupun berkontribusi dalam pertumbuhan media. (irvan sugito)
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
Informasi pemasangan barrier gate, jual barrier gate dan Barrier Gate Otomatis, hubungi NICE Automatic Gate sekarang juga! Terima kasih!
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!