User ID Password  
HOME   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini Hari Ini
BERITA TERKINI SELENGKAPNYA
E-paper
Foto Berita
Efek Pencetak Laba (RPH)
LPPF 550 3.58%
TCID 500 3.03%
INAF 490 14.33%
Last update: 22 Mei 2017
Efek Pencetak Rugi (RPH)
GGRM -2,250 -2.94%
UNVR -1,300 -2.67%
ITMG -575 -3.65%
Last update: 22 Mei 2017
Volume Terbesar
MYRX 826,170,880
BUMI 522,063,392
RIMO 350,266,304
Last update: 22 Mei 2017
Transaksi Tertinggi
BBRI 479,685,655,000
ASII 445,684,635,000
TLKM 422,033,268,000
Last update: 22 Mei 2017
Efek Teraktif
KOBX 26,558 Freq
PGAS 13,898 Freq
BNLI 12,233 Freq
Last update: 22 Mei 2017
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 13,245.00 13,379.00
SGD 9,572.16 9,672.50
JPY 11,895.99 12,018.51
MYR 3,100.42 3,133.99
CNY 1,928.00 1,947.51
THB 388.64 392.81
HKD 1,699.45 1,716.69
EUR 14,789.37 14,943.01
AUD 9,864.88 9,966.02
GBP 16,976.12 17,149.20
Last update: 29 Mei 2017 11:10 WIB
Berita Terkini
Jumat, 19 Mei 2017 22:05 WIB - http://mdn.biz.id/n/299743/ - Dibaca: 180 kali
Ini Alasan Kuasa Hukum Duga Pembunuhan Sepasang Kekasih di Cirebon Rekayasa
MedanBisnis - Cirebon. Kuasa hukum ketujuh terdakwa kasus dugaan perkosaan dan pembunuhan terhadap sepasang kekasih di Kota Cirebon menganggap kasus tersebut adalah sebuah rekayasa dan dipaksakan.

"Dalam kasus ini kami mencium adanya rekayasa penanganan kasus yang berujung pada pemaksaan untuk disidangkan," jelas salah seorang kuasa hukum ketujuh terdakwa, Jogi Nainggolan, usai persidangan yang digelar tertutup di PN Kota Cirebon, Jumat (19/5/2017) sore.

Keganjilan pertama adalah pengungkapan kasus ini hanya bersumber pada keterangan saksi yang tidak melihat langsung kejadian dan juga tidak adanya alat bukti yang kuat untuk menjerat ketujuh terdakwa ke persidangan. Terlebih penangkapan ketujuh terdakwa dilakukan oleh ayah kandung korban yang saat itu bertugas di Satres Narkoba Polresta Cirebon.

Menurut Jogi, sebagai polisi yang profesional seharusnya tidak melakukan 'arogansi' dengan melakukan penangkapan yang seharusnya menjdai kewenangan penyidik Satreskrim Polresta Cirebon. Sehingga tindakan orang tua korban dianggap tidak profesional dan melanggar prosedural.

"Bilangnya tertangkap tangan. Tapi masa tertangkap tangan tiga hari setelah kejadian. Untuk hal itu sudah dilaporkan ke Propam Polda Jabar, dan katanya sudah ada vonis sidang disiplinnya. Tapi saya tidak tahu sejauh mana," katanya.

Kedua, kata Jogi, ketujuh terdakwa saat ditangkap mendapat perlakuan tidak manusiawi dan mendapat tekanan dari penyidik. Bahkan dalam pembuatan BAP dilakukan oleh penyidik pada pukul tiga dinihari saat kondisi mereka sudah kelelahan dan luka-luka akibat disiksa penyidik. Hinnga akhirnya kasus ketujuh terdakwa ditarik ke Ditreskrimum Polda Jabar.

"Di persidangan penyidik tidak mengakui adanya penyiksaan yang dilakukan di ruang Satres Narkoba Cirebon. Padahal saksi penyidik dari Polda membenarkan mereka mendapat limpahan terdakwa sudah dalam kondisi seperti itu (bekas siksaan)," ucapnya.

Selanjutnya adalah mengenai minimnya saksi dan fakta di lapangan yang menyebut jika kedua korban tewas karena kecelakaan. Dari hasil olah tkp ditemukan goresan pada motor korban dengan median jalan yang permanen, bahkan cat pun masih menempel. Sementara korban perempuan saat kejdaian terpental menghantam PJU hingga ada serpihan daging yang tersisa di baut bagian bawah.

"Itu kecelakaan lalu lintas. Tapi ini seolah direkayasa menjadi pembunuhan," sebut Jogi.

Soal dugaan perkosaan Jogi pun tetap keukeuh menolak. Pasalnya sampai saat ini tidak ada yang bisa membuktikan sperma siapa yang ada pada alat kelamin korban perempuan. "Masa penyidik kaku sekali melihat ada sperma tapi tidak tahu punya siapa. Sampai sekarang tidak ada lampiran ilmiah mengenai hal itu. Padahal kan bisa diuji untuk pembuktian itu sperma siapa, termasuk ceceran daging yang di PJU sekitar TKP," tuturnya.

Di tempat yang sama kuasa hukum terdakwa yang lain, Titin Prialianti membeberkan keganjilan terhadap kasus yang menimpa kliennya. Keganjilan pertama adalah terlalu singkatnya waktu dari mulai korban dan terdakwa bertemu dengan serentetan kejadian sehingga disimpulkan penyidik adanya perkosaan, penganiayaan, dan pembunuhan di tempat berbeda.

"Ada saksi yang menyebut pertama kali korban dan terdakwa bertemu adalah 27 Agustus 2016 pukul 21.15 WIB. Sementara korban ditemukan tergeletak pukul 22.00 WIB. Menurut kami untuk tiga lokasi tidak masuk logika kiranya terjadi penganiayaan, perkosaan, dan pembunuhan. Terlalu singkat hanya 45 menit," jelas Titin.

Paling mencolok, kata Titin, adalah kesaksian polisi yang menyebut ada luka tusukan di dada korban. Padahal faktanya hal itu tidak ada karena kaus korban tidak terdapat lubang bekas tusukan, dan hasil pemeriksaan dokter pun tidak ditemukan luka tusukan.

"Jadi sangat mustahil ini sebuah pembunuhan berencana," pungkas Titin. (dtc)

Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
Informasi pemasangan barrier gate, jual barrier gate dan Barrier Gate Otomatis, hubungi NICE Automatic Gate sekarang juga! Terima kasih!
BERITA TERKAIT
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!