User ID Password  
HOME   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini Hari Ini
BERITA TERKINI SELENGKAPNYA
E-paper
Foto Berita
Efek Pencetak Laba (RPH)
TPIA 1,025 4.09%
PLIN 680 16.19%
MAPB 630 25%
Last update: 22 Jun 2017
Efek Pencetak Rugi (RPH)
ITMG -550 -3.08%
RDTX -325 -4.71%
INTP -250 -1.34%
Last update: 22 Jun 2017
Volume Terbesar
MYRX 765,811,584
IIKP 237,799,504
BUMI 234,360,992
Last update: 22 Jun 2017
Transaksi Tertinggi
BMRI 445,433,070,000
ASII 406,870,680,000
BBRI 393,311,260,000
Last update: 22 Jun 2017
Efek Teraktif
HOKI 9,692 Freq
PGAS 7,631 Freq
HOKI-W 7,008 Freq
Last update: 22 Jun 2017
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 13,252.00 13,386.00
SGD 9,540.68 9,640.62
JPY 11,938.74 12,062.72
MYR 3,092.65 3,126.84
CNY 1,943.19 1,962.84
THB 390.22 394.40
HKD 1,699.04 1,716.31
EUR 14,798.51 14,950.82
AUD 9,997.31 10,105.09
GBP 16,781.01 16,954.71
Last update: 23 Jun 2017 11:05 WIB
Agribisnis
Senin, 19 Jun 2017 07:30 WIB - http://mdn.biz.id/n/305581/ - Dibaca: 297 kali
Menilik Pengembangan Kopi Sumut
(Medanbisnis/elvidaris simamora)
Di Sumatera Utara (Sumut), tanaman kopi mempunyai arti penting dalam aspek kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Selain penghasil devisa, kopi juga menjadi "ladang" tenaga kerja dan sumber pendapatan utama petani. Ini pun kian terasa lekat terlihat di daerah-daerah yang dilabeli sentra kopi.
Sejarah kopi di Sumut sudah berumur sangat panjang. Jika melongok ke awal tahun 1990-an, kopi yang dihasilkan perkebunan yang dikelola Hindia Belanda hampir seluruhnya diekspor. Sementara yang berkualitas rendah diberikan pada buruh dan masyarakat sehingga memunculkan budaya (kebiasaan) minum kopi berkualitas rendah.

Tapi seiring dengan peningkatan taraf hidup, pergeseran gaya hidup masyarakat perkotaan telah mendorong terjadinya perubahan dalam pola konsumsi kopi khususnya para kaum muda.

Meskipun kaum muda lebih menyukai kopi instan sedangkan masyarakat pedesaan tetap setia pada kopi tubruk, tapi pergeseran pola konsumsi inilah yang "didapuk" menjadi salah satu pendorong kepopuleran kopi. Dan di banyak negara, sudah seperti candu.

Sebuah fakta yang tak terbantahkan tentunya. Karena jika merujuk ke Kota Medan sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara misalnya, kedai-kedai kopi sangat mudah dijumpai.

Menariknya, kedai kopi ini terlihat sangat beragam mulai dari lokasi dan bangunan, harga hingga jenis kopi yang ditawarkan.

Saban waktu, kedai-kedai kopi baru pun muncul. Tapi tetap saja bisa "unjuk gigi" dan menancapkan pesonanya pada para penikmat kopi.

Pola konsumsi semacam inilah yang membuat produksi kopi dunia tak lagi mampu memenuhi permintaan. Kekurangan pasokan terjadi karena tingkat konsumsinya yang terlampau tinggi.

Seperti Finlandia misalnya. Di dunia, tingkat konsumsi kopi Finlandia menjadi yang tertinggi dengan angka mencapai 11,4 kg per kapita per tahun, kemudian Norwegia sekitar 10,6 kg per kapita per tahun, Amerika Serikat sekitar 4,3 kg per kapita per tahun dan Jepang 3,4 kg per kapita per tahun.

Sedangkan tingkat konsumsi domestik saat ini sekitar 1,2 kg per kapita per tahun. Justru masih rendah bahkan jika dibandingkan negara produsen kopi lainnya seperti Brasil yang tingkat konsumsinya sekitar 3-4 kg per kapita per tahun.

Begitupun, tingkat konsumsi dunia yang terus merangkak naik ini menjadi ladang uang bagi negara-negara produsen kopi seperti Brasil, Vietnam, Kolombia, termasuk Indonesia.

Dan Sumut, sebagai daerah yang memiliki unggulan dengan cita rasa speciality, tak ingin melewatkan kesempatan ini untuk bisa memperluas ekspor dan bahkan mengungguli produsen lainnya dengan membidik pasar (negara tujuan) baru.

Tentu jika ingin memenuhi kekurangan pasokan kopi dunia, produksi harus tersedia. Karenanya, berbagai upaya pun dilakukan untuk bisa menggenjot produktivitas ke angka satu ton per hektare dari saat ini baru rata-rata 980 kg per hektare.

Target ini salah satunya akan dicapai melalui program intensifikasi yang jika berjalan mulus akan bergulir di bulan Juli 2017 ini. Intensifikasi akan dilakukan di sentra tanaman kopi yakni Simalungun, Humbang Hasundutan, Mandailing Natal, Toba Samosir, Tapanuli Utara dan Dairi di lahan seluas 7.500 hektare.

Jika intensifikasi tak ada kendala, produksi tentu akan naik dari yang ada saat ini. Berdasarkan catatan Dinas Perkebunan Sumut, luas areal kopi arabika saat ini seluas 61.231,44 hektare dan menghasilkan produksi sebanyak 49.176,51 ton.

Sentranya ada di Mandailing Natal, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Samosir, Simalungun, Tapanuli Selatan, Dairi, dan Pakpak Bharat.

Sementara itu, areal kopi robusta seluas 21.663,81 hektare dengan produksi 9.663,52 ton. Daerah penghasil kopi robusta adalah Dairi, Tapanuli Selatan dan Deliserdang.

"Selain intensifikasi, peningkatan daya saing pelaku usaha/petani di daerah penghasil kopi juga dilakukan melalui pelatihan pengembangan kelembagaan, pelatihan kepemimpinan dan komunikasi, pelatihan teknis budidaya, panen dan pasca panen," ucap Kepala Dinas Perkebunan Sumut Herawati saat berbincang dengan MedanBisnis, belum lama ini di ruang kerjanya.

Salah satunya di kawasan Mandailing dan Lintong Nihuta yang memang telah berlangsung sejak zaman Belanda. Tapi seiring dengan adanya peningkatan permintaan kopi dunia, pengembangan, pelestarian, dan peningkatan daya saing Mandheling Coffee dan Lintong Coffee serta speciality coffee Sumatera lainnya dilakukan melalui kolaborasi dari para pemangku kepentingan yakni pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota, pelaku usaha (pengusaha dan petani), asosiasi dan stake holder lainnya.

Kolaborasi ini akan dilakukan secara berkelanjutan. Terlebih mengingat potensinya yang sangat besar dalam mengharumkan Sumut di pasar internasional serta bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat khususnya.

Sumut memang potensial dalam menggaet pembeli dunia dan mengerek nilai maupun volume ekspor. Daerah ini sudah didukung benih unggul lokal dengan varietas Sigararutang. Benih ini telah dilepas oleh Menteri Pertanian RI sebagai varietas unggul lokal tertanggal 12 April 2005.

Saat ini sumber benih juga sudah diperbanyak oleh penangkar kopi di Kabupaten Tapanuli Utara dengan potensi ketersediaan mencapai 3,88 juta butir benih per tahun.

Dan dilabeli benih unggul, benih kopi Sigararutang ini bahkan sudah ditanam di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur dan daerah lainnya di Indonesia.

Tentunya ini kabar baik bagi Sumut, ucap Herawati penuh keyakinan.

"Didukung benih unggul serta dibarengi berbagai upaya yang telah dilakukan sejauh ini, mimpi Sumut akan tercapai. Baik dalam melebarkan sayap di pasar ekspor maupun menggenjot produktivitas dari tanaman yang ada saat ini," ujarnya.

Tidak berhenti sampai di situ, langkah selanjutnya, Sumut akan mengoptimalkan pengembangan tanaman kopi di sekitar Danau Toba yakni di Tapanuli Utara, Samosir, Toba Samosir dan Humbang Hasundutan melalui dana APBN 2018. Luasannya kini sedang dalam tahapan verifikasi data lapangan.

Melihat upaya ini, tentu keberhasilan kopi Sumut bisa saja tak hanya sekedar di atas kertas. Meski saat ini harganya terbilang stabil dikisaran US$ 1,26 per pound.

Memang belum ada sentimen baru yang terbentuk di pasar yang berpotensi mengerek harga kopi. Sentimen yang berkembang terakhir adalah adanya serangan penyakit pada tanaman kopi yang sempat terjadi di Honduras. "Begitupun, pelaku pasar tidak terlalu mengkhawatirkan masalah tersebut," kata ekonom Sumut Gunawan Benjamin.

Justru persediaan kopi di Kolombia yang cenderung mengalami peningkatan menjadi kekhawatiran baru pelaku pasar. Karena sangat berpotensi mengganggu harga kopi.

Tapi di tengah kondisi ini, pertumbuhan ekspor kopi yang mengalami kenaikan dinilai mampu mengimbangi sisi persediaan sehingga harga kopi dunia relatif masih terjaga.

Sumut sendiri, tahun 2016 membukukan nilai ekspor kopi senilai US$ 348,52 juta dengan volume 73.173 ton. Sementara di tahun ini, untuk periode Januari-April 2017, nilai ekspornya telah mencapai US$ 123,751 juta dengan volume 25.253 ton.

Dibandingkan periode yang sama tahun 2016, ada kenaikan dari sisi nilai yakni US$ 119,48 juta dan volume 25.695 ton.

Negara tujuan ekspor kopi Sumut dengan nilai tertinggi periode Januari-April 2017 adalah negeri Paman Sam Amerika Serikat senilai US$ 69,31 juta, kemudian Jerman senilai US$ 9,02 juta, Jepang senilai US$ 7,85 juta, Kanada senilai US$ 7,69 juta dan Korea Selatan senilai US$ 4,28 juta. (elvidaris simamora)
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
Automatic Gate Kualitas Eropa Automatic Gate Merek NICE
Pemasangan Sectional Door, hubungi kami sekarang juga. Sectional door kami merupakan produk buatan eropa.
BERITA TERKAIT
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!