User ID Password  
HOME   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini Hari Ini
BERITA TERKINI SELENGKAPNYA
E-paper
Foto Berita
Efek Pencetak Laba (RPH)
TPIA 1,025 4.09%
PLIN 680 16.19%
MAPB 630 25%
Last update: 22 Jun 2017
Efek Pencetak Rugi (RPH)
ITMG -550 -3.08%
RDTX -325 -4.71%
INTP -250 -1.34%
Last update: 22 Jun 2017
Volume Terbesar
MYRX 765,811,584
IIKP 237,799,504
BUMI 234,360,992
Last update: 22 Jun 2017
Transaksi Tertinggi
BMRI 445,433,070,000
ASII 406,870,680,000
BBRI 393,311,260,000
Last update: 22 Jun 2017
Efek Teraktif
HOKI 9,692 Freq
PGAS 7,631 Freq
HOKI-W 7,008 Freq
Last update: 22 Jun 2017
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 13,252.00 13,386.00
SGD 9,540.68 9,640.62
JPY 11,938.74 12,062.72
MYR 3,092.65 3,126.84
CNY 1,943.19 1,962.84
THB 390.22 394.40
HKD 1,699.04 1,716.31
EUR 14,798.51 14,950.82
AUD 9,997.31 10,105.09
GBP 16,781.01 16,954.71
Last update: 23 Jun 2017 11:05 WIB
Berita Terkini
Senin, 19 Jun 2017 15:52 WIB - http://mdn.biz.id/n/305719/ - Dibaca: 186 kali
FAO Sebut Beras RI Mahal, Ini Kata Kementan
MedanBisnis - Jakarta. Indonesia Representative Assistant Food and Agriculture Organization (FAO), Ageng Herianto, mengatakan harga beras di Indonesia mahal. Kementerian Pertanian (Kementan) menilai pernyataan itu kurang cermat.

Ageng dinilai tidak cermat membandingkan harga beras di Indonesia dengan harga beras di negara-negara Asia, seperti Thailand, Vietnam, Kamboja, Myanmar, Pakistan, India, dan Srilanka. Di mana harga beras di Indonesia dinilai lebih mahal dibandingkan negara-negara Asia lainnya.

Menurutnya, harga beras di Indonesia berkisar rata-rata US$ 0,79 atau Rp 10.499. Sementara di Kamboja yakni US$ 0,42/kg, Thailand US$0,33/kg, Vietnam US$ 0,31/kg, Myanmar US$ 0,28/kg, Bangladesh US$ 0,46/kg, India US$ 0,48/kg, Pakistan US$ 0,42/kg, dan Sri Lanka US$ 0,50/kg.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Agung Hendriadi, menyebutkan pernyataan tersebut kurang tepat. Karena harga yang dibandingkan tidak disertai dengan kejelasan jenis beras dan kategori pasar sebagai variabel pembanding.

Sebagaimana diketahui bahwa jenis beras sangat bervariasi dimulai dari beras jenis yang termurah sampai dengan beras premium. Begitu juga harga beras sangat bervariasi menurut kategori pasar, antara harga di tingkat produsen, harga di tingkat grosir, dan harga di tingkat eceran.

Ketidakcermatan Ageng dalam membandingkan harga beras karena tidak menyebutkan jenis beras dan kategori pasarnya. Sebaiknya, harus hati-hati dalam membandingkan harga tersebut dan yang lebih penting menggunakan variabel pembanding yang sama. Sebagai contoh, harga beras rerata di Indonesia (termurah-premium) tingkat pengecer dibandingkan dengan harga beras di negara lain dengan basis harga ekspor (export price). Ini jelas tidak tepat untuk dibandingkan dan tidak bisa diambil kesimpulan.

Di Indonesia saja, sesuai dengan SNI no 6128: 2015 terdapat 1 premium dan 3 medium, yang dibedakan atas dasar persentase beras kepala, beras pecah, foreign material dan derajat sosoh. Agung menjelaskan, situasi perberasan di pasar Indonesia. Kenyataannya kelas beras tersebut berkembang lagi menjadi 2 premium dan 2 medium. Sama halnya kondisi tersebut terjadi di negara lain, seperti Thailand, Vietnam, dan India. Oleh karena itu, sangat mustahil membandingkan harga dengan kualitas yang sama pada negara yang berbeda.

"Kelas medium 1 di Indonesia kualitasnya berbeda dengan kelas medium 1 di India," kata Agung dalam keterangan tertulisnya, Senin (19/6).

Kekurangtepatan pernyataan Ageng juga terkait dengan harga beras di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) (April 2017), di tingkat grosir, harga terendah Rp 7.300/ kg (US$ 0.54/kg) hingga tertinggi Rp 9.325/kg (US$ 0.69/kg).

"Angka ini berbeda jauh di bawah angka yang disebutkan oleh Ageng yaitu rata-rata US$ 0,79 atau Rp 10.499," tegas Agung.

Selanjutnya, Agung menjelaskan, dalam dua tahun terakhir ini Kementan terus berupaya menjalankan dua upaya untuk meningkatkan produksi dan mengendalikan harga. Upaya peningkatan produksi antara lain melalui subsidi pupuk dan benih, bantuan alat dan mesin pertanian serta infrastruktur pertanian yang ditujukan untuk peningkatan produksi, juga untuk menekan biaya produksi. Dengan demikian, harga beras tidak akan memberatkan konsumen.

Dalam upaya mengendalikan harga baik di tingkat produsen maupun tingkat konsumen, pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) beras. HET beras yakni Rp 7.300 per kg untuk kelas medium di tingkat produsen. Sampai dengan saat ini, harga tersebut masih terkendali di tingkat grosir hingga eceran.

Dua upaya tersebut terbukti hingga saat ini pasokan aman hingga 2,2 juta ton dan harga terkendali. Bahkan sesuai HET selama Ramadan hingga Lebaran, dan ini baru pertama kali terjadi di Indonesia. (dtf)

Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
Automatic Gate Kualitas Eropa Automatic Gate Merek NICE
Pemasangan Sectional Door, hubungi kami sekarang juga. Sectional door kami merupakan produk buatan eropa.
BERITA TERKAIT
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!