User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini Hari Ini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 12,020.00 12,050.00
SGD 9,470.50 9,510.80
JPY 110.58 111.17
MYR 3,682.36 3,721.97
CNY 1,951.50 1,964.75
THB 367.61 371.79
HKD 1,550.50 1,554.95
EUR 15,450.55 15,514.45
AUD 10,763.95 10,816.15
GBP 19,543.35 19,617.45
Last update: 18 Sep 2014 09:00 WIB
Foto Galleri
Foto Galleri
Minggu, 06 April 2014
Melihat Masa Lalu Melalui Candi Bahal
Candi Bahal, Biaro Bahal, atau Candi Portibi adalah kompleks candi Buddha aliran Vajrayana yang terletak di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Portibi, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yaitu sekitar 3 jam perjalanan dari Padangsidempuan atau berjarak sekitar 400 km dari Kota Medan. Candi ini terbuat dari bahan bata merah dan diduga berasal dari sekitar abad ke-11 dan dikaitkan dengan Kerajaan Pannai, salah satu pelabuhan di pesisir Selat Malaka yang ditaklukan dan menjadi bagian dari mandala Sriwijaya. Candi ini diberi nama berdasarkan nama desa tempat bangunan ini berdiri. Selain itu nama Portibi dalam bahasa Batak berarti 'dunia' atau 'bumi' istilah serapan yang berasal dari bahasa sansekerta: Pertiwi (dewi Bumi). Arsitektur bangunan candi ini hampir serupa dengan Candi Jabung yang ada Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Tidak ada catatan resmi yang bisa dipakai sebagai pegangan. Candi-candi yang kemudian lebih dikenal sebagai candi Bahal tersebut diperkirakan sezaman pembangunannya dengan candi Muara Takus di Riau, yakni sekitar abad XII.

Para peneliti mengungkapkan, candi-candi di desa Bahal adalah tiga di antara 26 runtuhan candi yang tersebar seluas 1.500 km2 di kawasan Padang Lawas, Tapanuli Selatan. Dari tiadanya situs patung Buddha di sekitar candi, pernah ada dugaan bahwa candi Bahal atau yang biasa disebut warga lokal sebagai “biaro”, tidak dibangun oleh umat Buddha. Memang, satu-satunya ornamen yang tertinggal sebagai simbol-simbol pemujaan adalah patung singa dan pahatan-pahatan aneh di dinding candi.

Di desa Bahal, terdapat tiga situs candi yang saat ini sudah dipugar. Selanjutnya ketiga candi itu diberi nama candi Bahal 1, Bahal 2, dan Bahal 3. Tempat-tempat ibadah itu berdiri di tepian sungai Batang Pane. Dari berbagai teori yang berkembang, kemungkinan sungai Batang Pane pernah menjadi lalu lintas perdagangan.

Artinya, sungai Batang Pane dulunya adalah sebuah sungai yang besar sehingga bisa dilewati perahu-perahu pedagang. Perkiraan seperti ini bisa jadi benar dengan asumsi dulunya hutan di hulu sungai masih bagus dan mampu menyediakan persediaan air yang cukup. Kalau sekarang debitnya kecil, dangkal dan mustahil jadi sarana transportasi, itu mungkin karena hutan sudah dibabat para penjarah.
(Oleh : Johnny Siahaan – Toba Photographer Club)
Candi Sipamutung
Candi Sipamutung
Candi Bahal
Candi Tandihat
Candi Tandihat
Candi Bahal
Partisipasi Menggunakan Facebook