Pekerja menggoreng keripik singkong kayu di home industri milik Fitiani di Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat.
(misnoadi)
Sabtu, 14 Des 2019 13:01 WIB  •  Dilihat 471 kali  •  http://www.mdn.biz.id/o/95645/
Home Industri Keripik Ubi Menjamur di Langkat, Laba Bisa Rp 10 Juta/Bulan
Medanbisnisdaily.com-Langkat. Usaha home industri keripik ubi kini menjamur di Kabupaten Langkat. Warga yang awalnya kebanyakan hanya ambil untung dari menjajakan keripik ubi siap edar yang diproduksi home industri keripik singkong milik Mas Hendro yang dikenal dengan merek Keripik Cinta, maupun Keripik Rindu milik Lilik, kini membuka home industri sendiri. Untungnya ternyata lebih besar, bisa hingga Rp 10 juta/bulan.

iketahui, produksi Keripik Cinta milik Mas Hendro pangsa pasarnya sudah meluas hingga ke mancanegara. Usahanya pun melejit hingga menampung 50 orang lebih pekerja, mulai dari pengupas dan menggoreng ubi, sekuriti hingga petugas parkir. Tak heran jika banyak masyarakat yang tergiur membuat home industri keripik singkong. Di pinggiran jalan lintas Sumatra (Jalinsum), mulai Kecamatan Gebang hingga ke Kecamatan Wampu, terlihat puluhan lokasi usaha ini. Paling menjamur, usaha keripik singkong ini di belahan desa di Kecamatan Hinai dan di Kelurahan Pekan Gebang.

"Kami sekarang tidak lagi mengandalkan keripik siap edar dari pengusaha keripik yang ada, meski masih ada beberapa kawan yang mengambil keripik siap edar untuk dijual keliling di pemukiman di Medan, Binjai, Berastagi dan Aceh. Sekarang menjamur usaha buat keripik. Beli atau tanam ubi sendiri, goreng sendiri, kemasi sendiri dan kami jual sendiri keliling di pelosok Medan maupun Binjai." ungkap Tiar dan Suratmi, yang mengelola home industri keripik singkong di Kelurahan Air Tawar Dalam, Kelurahan Pekan Gebang, Langkat, Sabtu (14/12/2019).

Diungkapkan mereka, sebelum membuka home industri keripik singkong, mereka membuat opak kukus dan opak getuk, tetapi penghasilannya tipis, hanya Rp 80.000 - Rp 100.000/hari. Apalagi musim penghujan, usaha mereka macet.

"Mengubah nasib, berhenti buat opak, ambil keripik tempat Mas Hendro dan di Keripik Rimbun, kami jual dengan berjalan kaki ke Medan. Hasil penjualan bisa bergaji Rp 150.000 - Rp 200.000/hari. Dari itulah mulanya usaha keripik yang kami tekuni. Karena, kami sudah punya pelanggan/konsumen sendiri, makanya kami buat keripik sendiri, dengan goreng sendiri, jual sendiri. Alhamdulillah, perubahan ekonomi keluarga nampak meningkat, setiap bulan bisa berpenghasilan Rp 7 juta - Rp 10 juta," beber mereka.

Ditemui terpisah, Fitrianti (25), pengelola home industri keripik singkong dengan merek dagang Keripik Rimbun di pinggiran Jalinsum Lingkungan 2 Air Tawar Luar, Kecamatan Gebang, Langkat, mengaku, semula hanya pekerja di Keripik Cinta milik Mas Hendro. Bersama suaminya, kini memiliki home industri keripik singkong sendiri.

"Setelah tidak bekerja pada Mas Hendro, kami merintis usaha ini, industri keripik kami juga kami pasok kepada Mas Hendro, sesuai pesanan, jika dia kekurangan. Dan banyak juga dari Air Tawar yang mengambil keripik di sini untuk dijual keliling oleh mereka," aku Fitriani.

Reporter
MISNOADI
Editor
SASLI PRANOTO SIMARMATA
Sumber: AirVisual.com
Reaksi Anda
Senang
14.83%
Bangga
13.56%
Lucu
14.83%
Terkejut
13.56%
Sedih
14.83%
Takut
14.83%
Marah
13.56%
 
Berita Terkait
Minggu, 29 Des 2019 12:04 WIB
Rabu, 11 Des 2019 11:41 WIB
Fokus Berita
Komentar Anda