Senin, 25 Mar 2019 11:17 WIB  •  Dibaca: 4,878 kali
BI: Tekanan ke Rupiah Mereda
MedanBisnis - Yogyakarta. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat masih mengalami pergerakan. Bank Indonesia (BI) menilai gejolak nilai tukar akan menurun hingga akhir 2019 ini.
Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI, Nanang Hendarsah mengungkapkan, hal ini juga dipengaruhi oleh kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve yang akan menahan bunga acuan pada tingkat 2,25%-2,5% sepanjang tahun ini.

Nanang menyebut, BI saat ini memiliki alat untuk memperkuat nilai tukar mata uang Garuda agar sesuai dengan fundamentalnya. Misalnya instrumen domestic non deliverable forward (DNDF) yang disebut mampu memperkuat rupiah. "Kami optimis (volatilitas) bisa di bawah 10%, karena faktor globalnya cukup kondusif," ujar Nanang dalam acara pelatihan wartawan di Hotel Marriott, Yogyakarta, Sabtu (23/3).

Menurut Nanang, bank sentral juga akan terus memberikan ruang untuk penguatan rupiah. Memang, Gubernur BI beberapa kali menyebutkan jika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terlalu murah atau undervalued.

Pada Jumat (22/3) dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) nilai dolar AS tercatat Rp 14.157, melemah jika dibandingkan periode hari sebelumnya di level Rp 14.102.  "BI tentunya akan membiarkan sesuai mekanisme pasar rupiah bisa menguat, karena sebagaimana disebutkan berkali-kali rupiah masih undervalued. Jadi BI akan memberikan ruang kalau rupiah menguat akan dibiarkan menguat," jelasnya.

Nanang menambahkan, di tahun ini kondisi pasar juga akan semakin likuid. Hal ini tentunya dapat mendorong penguatan rupiah.

Dia mencontohkan, ketika rupiah melemah, saat ini eksportir akan langsung muncul untuk menjual valasnya. Hal ini berbeda dengan tahun sebelumnya."Begitu kurs melemah Rp 14.300, tanpa diintervensi pasar mengoreksi sendiri, banyak yang mensuplai, tidak seperti tahun 2018. Pasarnya semakin berimbang," katanya.

Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga 19 Maret 2019 mengalami penguatan.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, nilai tukar rupiah menguat 1,05% secara point to point dan 0,85% secara rerata."Ini didukung aliran masuk modal asing yang besar ke pasar keuangan domestik. Aliran modal asing yang masuk terutama terjadi di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Sedangkan ke pasar saham tercatat ada aliran keluar," katanya. (dtf)
 
Berita Terkait
Kamis, 31 Jan 2019 09:55 WIB
Rabu, 26 Des 2018 12:22 WIB
Sabtu, 24 Nov 2018 11:55 WIB
Selasa, 13 Nov 2018 11:31 WIB
Rabu, 24 Okt 2018 09:31 WIB
Rabu, 10 Okt 2018 11:40 WIB
Rabu, 19 Sep 2018 10:55 WIB
Sabtu, 08 Sep 2018 09:57 WIB
Kamis, 06 Sep 2018 10:26 WIB