User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
Ex. BBM
 
Berita Terkini Hari Ini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 12,070.00 12,100.00
SGD 9,476.30 9,516.45
JPY 111.56 112.17
MYR 370,318.00 374,280.00
CNY 1,969.90 1,983.65
THB 37,248.00 37,670.00
HKD 1,555.80 1,560.65
EUR 15,361.55 15,425.15
AUD 10,703.75 10,754.55
GBP 19,458.05 19,531.95
Last update: 30 Okt 2014 09:00 WIB
Agribisnis
Senin, 20 Jan 2014 08:54 WIB - http://mdn.biz.id/n/74103/ - Dibaca: 783 kali
Lahan Sempit Juga Bisa Bertanam
Jambu air
Keterbatasan pekarangan tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk tidak menanam tanaman buah. Apalagi, tanaman buah tersebut bisa menghasilkan dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Jambu air misalnya. Tampaknya sepele, namun jika mengetahui bagaimana prospek bisnisnya, mungkin Anda juga tidak akan percaya. Seperti yang dilakukan Ahwat, dari 78 batang tanaman Jambu airnya ia bisa memanen sekira 60 - 70 ton per bulan.
Dengan harga jual berkisar Rp 18.000 - Rp 50.000 per kg maka keuntungan yang diperoleh Ahwat sungguh luar biasa. Setidaknya Ahwat bisa mengantongi uang sekira Rp 108 juta per bulan. Dan, itu baru dari perhitungan harga jual jambu terendah yakni Rp 18.000 per kg dengan produksi 60 ton. Belum lagi jika harganya mencapai Rp 50.000 per kg. Luar biasa nilai rupiah yang bisa dikantongi Ahwat hanya dari bertanam jambu air.

Sayang, masih banyak investor yang belum melirik peluang tersebut. Investor masih tertarik dengan komoditas perkebunan semisal sawit yang dianggap memiliki masa depan cerah. Padahal, komoditas hortikultura juga tak kalah hebatnya bila digeluti secara profesional.

Seperti yang diungkapkan Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kota Medan, Sonny Batubara. Kepada MedanBisnis, Sabtu (11/1) di lokasi pembibitan jambu air milik Ahwat di kawasan Titi Kuning, Medan, ia mengatakan, sebagian besar masyarakat masih belum memanfaatkan pekarangannya secara maksimal.



Umumnya pekarangan tidak dijadikan sebagai lahan bertanam komoditas yang bisa menghasilkan manfaat ekonomis. Padahal, seandainya saja pekarangan tersebut bisa ditanami dengan tanaman buah, misalnya, akan sangat menguntungkan secara ekonomis. Begitu juga dengan sisi keindahan pekarangan, semakin semarak jika tanamannya berbuah.

"Tapi kan selama ini pekarangan tidak dijadikan sebagai taman buah. Padahal, kalau itu dilakukan, akan memberikan keuntungan ganda kepada si pemiliknya," katanya.

Pemanfaatan pekarangan untuk taman buah bukannya tidak ada contoh. Seperti yang dilakukan Ahwat, di mana ia menjadikan atap rukonya sebagai lahan untuk lokasi pembibitan 4 jenis jambu air bernilai ekonomis tinggi. "Ini bisa dilakukan, meskipun tidak punya halaman yang luas," katanya.

Apalagi, kata Sonny, sebenarnya ada sangat banyak jenis buah yang bernilai ekonomis tinggi yang kurang dilirik masyarakat, seperti mangga arom manis, jambu air dan lain sebagainya. Jambu air misalnya, banyak yang tidak mengetahui prospeknya sehingga menganggap remeh.

"Kalau saja masyarakat mengenal buah-buahan yang bernilai tinggi, mereka akan menanamnya. Sayangnya, belum banyak masyarakat yang serius mengembangkan jambu air, dan cenderung memilih perkebunan," katanya.

Padahal, semua orang bisa melihat perkembangan pasar buah yang semakin menjamur di mana-mana. Hal tersebut menunjukkan bahwa pasar buah sangat prospektif.

Perkembangan tersebut seharusnya ditangkap sebagai peluang untuk menaikkan pamor buah lokal sehingga penanaman tanaman buah lokal merupakan keharusan.

Ia menyayangkan banyaknya buah impor yang masuk ke tanah air padahal Indonesia, khususnya Sumatera Utara (Sumut) sangat kaya dengan keragaman buah-buahan.

Seharusnya, buah lokal bisa merajai di daerahnya sendiri. Bukannya buah impor yang mendominasi karena minimnya produksi lokal. "Kita jangan sampai kalah dengan serbuan buah impor yang terus berlangsung," katanya.

Apalagi, lanjut Sonny, selama ini ada tren di mana buah yang laku di pasaran jika sudah ada masuk buah serupa dari Thailand. "Kita di Sumatera Utara punya banyak jenis ragam buah, harusnya tidak boleh tergeser di pasar sendiri. Jadi, kita harus bisa berbuat yang penting bagaimana produk-produk pertanian kita bisa maju. Kalau soal pasar, menurut saya saat ini semakin terbuka lebar, apalagi dalam waktu yang tidak lama lagi, akan ada pasar bebas. Kalau kita tidak punya persiapan, kita bisa kalah dengan buah impor yang akan semakin banyak masuk ke sini," katanya.

Untuk itu, di samping adanya gerakan dari masyarakat yang mulai sadar dengan potensinya, tinggal dari pemerintah untuk memberikan dukungan yang nyata kepada petani. Pasalnya, sudah menjadi kewajiban dari pemerintah untuk memberikan pendampingan dan pembinaan kepada masyarakat, khususnya petani sehingga dapat meraih kesejahteraannya dari pertaniannya.

"Kita tidak menemukan adanya pengembangan buah yang serius dikerjakan pemerintah. Karena itu kita sangat menyayangkan dan mengajak kepada pemerintah untuk lebih serius membantu petani," ungkapnya.

Begitu juga dengan petani, menurut Sonny, harus yakin bahwa buah yang dihasilkannya akan tetap bisa diserap pasar karena permintaan yang tidak ada habisnya bahkan cenderung terus bertambah.

Salah satunya bisa dilihat dari perkembangan pasar buah. "Manfaatkan lah pekarangan dengan tanaman buah, bisa sebagai penghasil buahnya, bisa juga untuk pembibitan, sama-sama menguntungkan. Dari situ akan bisa menopang ekonomi keluarga," katanya.

Nova Indrawan, seorang pelaku agribisnis mengatakan hal yang sama. Menurutnya, tanaman buah khususnya jambu air memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan. Apalagi, terdapat beberapa jenis buah jambu air yang memiliki nilai ekonomis tinggi, seperti king, tong sam sie, salju dan petrok.

"Kalau dengan kisaran harga mulai Rp18.000 sampai Rp50.000 per kg. Sedangkan dari satu batang saja bisa menghasilkan lebih dari 20 kg, maka bisa dihitung keuntungannya. Apalagi kalau yang ditanam cukup banyak, sedangkan hanya dari 1 batang saja sangat menguntungkan," katanya. (dewantoro)
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
BERITA TERKAIT
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook