Aceh Bisnis Selasa, 14 Feb 2012 07:02 WIB
MedanBisnis – Banda Aceh. Sejumlah daerah di Aceh akan memfokuskan diri pada pembangunan bidang industri pertanian, dengan cara mengoptimalkan berbagai fasilitas yang ada. Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Bireuen, misalnya, sangat menyadari bahwa sebuah daerah akan maju bila industri bisa hidup, karena itu pemerintah terus berupaya membenahi fasilitas yang sudah dimiliki.
“Ini penting sekali, sebab kemajuan sebuah daerah ditentukan adanya industri di daerah tersebut," kata Bupati Bireuen, Drs Nurdin Abdul Rahman, kepada wartawan, Senin (13/2).
Menurut Nurdin, tidak ada sebuah kawasan akan maju tanpa ada aktivitas ekonomi yang dipelopori kegiatan industri. Untuk itulah, selama ini Pemkab Bireuen bersama jajarannya terus berusaha menghidupkan fasilitas yang sebelumnya telah ada.
Rencana mereka, pabrik biodiesel bantuan Departemen Sosial di masa Menteri Bachtiar Chamsyah, yang ditempatkan di Gampong Beunyot Juli, diubah menjadi pabrik kopra putih. “Fasilitasnya sedang dilengkapi, nantinya di dekat pabrik itu juga akan dibangun industri sabut kelapa,” ujarnya.
Ditanya kenapa harus mengubah pabrik hasil bantuan Depsos itu, Nurdin mengatakan untuk menghidupkan pabrik tersebut mereka membutuhkan lahan seluas 30.000 hektare. Selain itu, katanya, dengan kondisi mesin pabrik sekarang, tidak lagi memungkinkan dilakukan pengolahan biji jarak karena biaya produksi lebih besar daripada keuntungan yang didapat.
Selain dilakukan redisain pabrik biodiesel yang bertempat di Gampong Beunyot Juli itu, pemerintah daerah juga terus meningkatkan industri pertanian atau perkebunan lainnya semacam kelapa sawit.
Menurut pengakuan Nurdin, atas kerja keras pihaknya melobi para pengusaha lokal, akhirnya telah berdiri sebuah pabrik kelapa sawit di kawasan Geurugok.
Awalnya pembangunan pabrik itu direncanakan di Bate Geulungku, namun akibat mahalnya biaya pembebasan tanah, terpaksa dipindah ke Gandapura.
"Memang tanah di Bate Geulungku itu milik pemda. Tapi masyarakat tetap bersikeras pemda harus membayar ganti rugi Rp 20.000 per meter. Jadi terpaksa lokasi pembangunan dipindahkan ke Geurugok yang harga pembebasan lahannya jauh lebih rendah dari pada Bate Geulungku," ungkapnya.
Pidie Jaya Selain itu, Pemkab Bireuen terus mengupayakan optimalisasi lahan produktif dengan tanaman kakao. Rencana awal akan didirikan pabriknya di Bireuen, namun karena Pidie Jaya lebih dulu membangun industri tersebut, akhirnya Bireuen lebih memilih menjadi kawasan sentra kakao yang kemudian mampu menjadi pemasok utama untuk pabrik yang ada di Pidie Jaya.
Menurut Nurdin, pihaknya juga sedang merencanakan pembangunan industri pengolahan ikan. Untuk merealisasikan niat tersebut, Nurdin telah membangun komunikasi dengan ahli teknologi di Kepulauan Bitung.
“Telah kami hubungi dan mereka berkomitmen untuk membantu mewujudkan daerah ini sebagai sentra pengolahan ikan segar di kawasan barat Indonesia,” ungkapnya. (ht anwar ibr riwat)
|
|
|
| Baca Juga |
|
|
| |
|
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
| |
|
Baca e-paper Harian Medan Bisnis
Jumat, 18 Mei 2012
|
| |
| Stock Exchange |
|
| Nama Bursa |
Nilai |
|
Perubahan |
| DJIA |
12,551.00 |
 |
-23.00 |
| JSX |
3,980.50 |
 |
-65.15 |
| NASDAQ |
2,874.04 |
 |
-19.72 |
| NIKKEI |
8,876.59 |
 |
75.42 |
| Last update: 18 Mei 2012 06:00 WIB |
|
| |
 |
| Jenis |
Lokasi |
Harga (Rp) |
| CPO |
Rotterdam,MEDAN |
8,737 Rp/Kg |
| Karet TSR 20 |
SINGAPURA, Palembang |
30,587 Rp/Kg |
| Kopi Arabika |
New York, Medan |
0 Rp/Kg |
| Kopi Robusta |
LONDON, Lampung |
18,883 Rp/Kg |
| Last update: 18 Mei 2012 06:00 WIB |
|
| |
 |
| Jenis Emas |
Harga (Rp) |
| 24 Karat |
Rp. 469,000 |
| 22 Karat |
Rp. 466,000 |
| 18 Karat [75 %] |
Rp. 351,750 |
| 17 Karat [70 %] |
Rp. 328,300 |
| Last Update: 18 Mei 2012 06:00 WIB |
|
| |
 |
| Mata Uang |
Jual |
Beli |
| USD |
9,490.00 |
9,265.00 |
| SGD |
7,499.30 |
7,286.30 |
| HKD |
1,225.10 |
1,189.60 |
| GBP |
15,155.65 |
14,787.35 |
| AUD |
9,423.75 |
9,153.65 |
| JPY |
118.86 |
114.70 |
| Last update: 18 Mei 2012 06:00 WIB |
|
| |

Oleh. Tony, SH, M.Kn
|

Oleh. Dr. Surya Hartanto
|

Oleh. Rudy Rachman, MBA
|

Oleh. Darmin, SE, MBA
|
|
 |
|