User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini Hari Ini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 12,105.00 12,130.00
SGD 9,310.80 9,346.00
JPY 102.58 103.24
MYR 3,606.02 3,644.55
CNY 1,967.00 1,981.20
THB 368.90 373.08
HKD 1,560.10 1,564.25
EUR 14,981.15 15,037.65
AUD 10,508.35 10,555.65
GBP 18,939.55 19,004.15
Last update: 24 Nov 2014 09:00 WIB
Hukum
Sabtu, 02 Feb 2013 08:57 WIB - http://mdn.biz.id/n/10480/ - Dibaca: 1,757 kali
PT SSSS Diingatkan Penuhi Gugatan Karyawan
P Tampubolon
MedanBisnis - Medan. Direktur PT Sumatera Sarana Sekar Sakti (SSSS) yang bergerak di bidang pengangkutan, dr Lilik Mutiara, diingatkan supaya memenuhi gugatan Rp 101 juta yang diajukan salah satu karyawannya, P Tampubolon (65), warga Jalan Helvetia Raya No 17 Medan, melalui Pengadilan Hubungan Industrial Medan, Kamis (31/1/2013).
Hal itu dinyatakan Martin Luther King Bangun selaku Ketua DPC Federasi Serikat Pekerja Transport Indonesia-Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (F.SPTI-K.SPSI) Deliserdang.

Bahkan, menurutnya, sebagaimana isi anjuran kesimpulan bipartit yang digagas Disnaker Medan sangat tepat dr Lilik Mutiara memberi pesangon Rp 101 juta kepada P Tampubolon yang merupakan salah satu anggota DPC F.SPTI-K.SPSI Deliserdang itu.

Apalagi, katanya, P Tampubolon tidak memungkinkan lagi menjalankan pekerjaannya sebagai sopir pengangkutan di perusahaan itu karena usianya yang sudah lanjut. Selain itu, menurut Martin, yang diminta P Tampubolon haknya sesuai Kepmen 13 dan bukan permintaan yang tidak masuk akal.

Sebelumnya, P Tampubolon melalui kuasanya Horrinson Tambubolon menggugat di Pengadilan Hubungan Industrial Medan dengan perkara No. 78/G/2012/PHI/Medan, dikarenakan pihak PT SSSS tidak menjalankan isi anjuran Disnaker Medan dalam kesimpulan bipartit agar membayar hak karyawannya itu sebesar Rp 101 Juta.

Sebaliknya, pihak PT SSSS hanya akan memberi pesangon seadanya setelah dipotong utang P Tampubolon. Padahal, menurut P Tampubolon, upah rit (pembayaran setiap pengantaran) langsung dipotong sewaktu tiba di lokasi pengantaran barang akibat adanya penyusutan CPO yang dibawa dikarenakan faktor alam seperti memuai terkena panas, bukan karena kesalahan sopir yang ditandai dengan rusaknya segel penutup tangki.

Kenyataan itu membuat P Tampubolon merasa heran dari mana asalnya "utang siluman" tersebut. "Setelah dipotong "utang siluman" itu saya hanya menerima sekitar Rp 10 juta. Apa wajar uang itu untuk pensiun saya di masa tua meski telah bekerja di perusahaan sejak tahun 1987 hingga 2011?" kata P Tampubolon.

Sedangkan dr Lilik Mutiara, ketika dikonfirmasi wartawan tentang keengganan PT SSSS memberikan pesangon kepada karyawannya itu hanya menjawab singkat. "Saya sedang di rumah sakit, coba Bapak hubungi saja Jenny Lingkaran," ujarnya.

Namun, wartawan tidak berhasil menghubungi Jenny Lingkaran dan hanya mendapat jawaban dari salah seorang bagian personalia bernama Ros, yang berhasil dihubungi melalui telepon seluler. "Siapa bilang kita tidak izinkan bapak itu untuk pensiun. Soal pesangon kan sudah di PHI, biar pengadilan saja yang menyelesaikan," katanya. ()
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook