User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia Yang Lebih Baik
 
Ex. Mudik
 
Berita Terkini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 11,550.00 11,600.00
SGD 9,298.70 9,355.70
JPY 113.36 114.20
MYR 3,625.59 3,665.51
CNY 1,861.30 1,878.25
THB 361.65 365.75
HKD 1,489.90 1,497.25
EUR 15,550.95 15,642.65
AUD 10,855.85 10,937.75
GBP 19,615.45 19,724.75
Last update: 26 Jul 2014 09:00 WIB
Aceh Bisnis
Rabu, 06 Feb 2013 08:46 WIB - http://mdn.biz.id/n/11182/ - Dibaca: 770 kali
Kopi Gayo Merambah Dunia
Aceh Tengah dan Bener Meriah Sentra Kopi Arabika
Kopi Gayo
Dua kabupaten di wilayah tengah Provinsi Aceh, Aceh Tengah dan Bener Meriah, merupakan daerah dataran tinggi dengan ketinggian tempat sekitar 1.200 meter dari permukaan laut (dpl). Dengan ketinggian tempat tersebut, suhunya bisa mencapai sekitar 14 derajat Celcius, bahkan di sebahagian tempat bisa lebih dingin.
Pegunungan dan perbukitan hijau, serta sebagian lagi kawasan hutan yang memiliki pepohonan besar, adalah pemandangan khas daerah tersebut. Walau sebagian kawasan hutan telah banyak dirambah, serta sebagian lagi alih fungsi untuk lahan pertanian dan perkebunan.

Berbicara soal perkebunan, banyak lahan di kawasan Gayo yang ditanami kopi. Aceh Tengah dan Bener Meriah adalah daerah utama penghasil kopi arabika di Provinsi Aceh. Ketinggian tempatnya cocok untuk bertanam kopi, selain jenis arabika juga robusta.

Data Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Aceh Tengah, jumlah petani kopi di daerah tersebut 34.476 kepala keluarga. Bisa dibayangkan, jika satu keluarga diasumsikan ada empat orang, maka 137.904 orang yang menggantungkan hidupnya pada kebun kopi. Jumlah itu hampir 90% dari total jumlah penduduk Aceh Tengah yang mencapai 200.000 jiwa lebih. Sementara dari luas lahan, sekitar 48.599 hektare dari luas wilayah 4.318,39 km2 adalah kebun kopi.

Bukan hanya petani, tapi guru, polisi, TNI, pedagang dan pegawai negeri umumnya berkebun kopi sebagai mata pencaharian tambahan.

Banyak kalangan menilai kopi arabika yang dihasilkan dari ketinggian dari 1.000 meter dpl adalah kopi terbaik dengan cita rasa luar biasa. Dan memang benar, kopi Gayo yang telah mengantongi sertifikat Indeks Geografis (IG) memiliki nilai jual tinggi, tercatat sebesar 80% merupakan komoditas ekspor dengan tujuan negara-negara di Eropa dan Amerika. Akan halnya pasar dalam negeri, pun belum bisa dipenuhi oleh produksi dari daerah dataran tinggi Gayo.

Nah, mengacu pada fakta-fakta tersebut di atas, sudah barang tentu pemikiran kita menyimpulkan petani kopi di Gayo adalah golongan masyarakat sejahtera. Yang hidup bersenang-senang menikmati hasil penjualan biji kopi berkualitas ekspor.

Nyatanya, nasib petani kopi di sana tak seberuntung itu. Faktanya pula, harga kopi di dataran tinggi Gayo selama ini ditentukan eksportir dari Medan, petani belum bisa menentukan harga jual yang layak bagi kopinya.

Bisa dibayangkan bagaimana kecewanya, ketika petani harus bersusah payah memetik kopi dengan tangan sendiri melawan udara dingin, berjalan kaki memikul gelondongan kopi dalam karung menelusuri jalan terjal berbukit-bukit dan membawanya ke daerah perdagangan, lalu menerima harga tak sebanding dengan kesusahan tersebut.

Itu sedikit dari beragam kisah petani kopi di dataran tinggi Gayo, sentra penghasil kopi arabika di Provinsi Aceh, yang nama besarnya sudah melanglang ke berbagai negara. Bersambung
(wen rahman)

BERITA TERKAIT
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook