User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 11,680.00 11,710.00
SGD 9,344.70 9,384.65
JPY 112.44 113.07
MYR 3,695.44 3,734.69
CNY 1,898.40 1,909.05
THB 364.39 364.39
HKD 1,506.80 1,511.25
EUR 15,382.55 15,446.75
AUD 10,912.65 10,965.35
GBP 19,358.45 19,432.85
Last update: 29 Agt 2014 09:00 WIB
Kesehatan & Keluarga
Minggu, 21 Apr 2013 11:12 WIB - http://mdn.biz.id/n/24921/ - Dibaca: 1,018 kali
Mengembangkan Kreativitas Anak Berkebutuhan Khusus Melalui Seni
Mengembangkan Kreativitas Anak
Di mata umum, mereka memang tidak sempurna. Memiliki banyak kekurangan yang biasanya dibilang tidak normal, sehingga mereka kerap disingkirkan bahkan oleh orang-orang terdekatnya yakni keluarga dan orangtuanya. Tapi mereka tetaplah manusia yang membutuhkan perhatian khusus. Mereka juga memiliki bakat dan ingin diakui oleh lingkungannya.

Banyak orangtua yang menutup diri kala menyadari anaknya memiliki kebutuhan khusus. Malu salah satu alasan hingga mereka terkesan mengabaikan anaknya, atau barangkali mereka tidak tahu bagaimana cara menghadapi anaknya hingga bingung harus berbuat apa. Namun hal itu tampaknya mulai terkikis. Banyak orangtua mulai bisa menerima amanah yang diberikan Tuhan padanya, sehingga mereka lebih terbuka atas apa yang diterimanya.

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya para orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus merespon positif acara Dies Natalis Psikologi USU ke-14 yang bertemakan "Cinta untuk Anakku, Cinta untuk Anak Spesial".

Dalam hal ini Dra. Elvi Anderiani Yusuf Msi selaku psikolog yang juga Kepala Departement Perkembangan Fakultas Psikologi USU dan Pimpinan Aliva Konsultan mengatakan, dalam usia yang menjelang 14 tahun, Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara telah menjadi salah satu fakultas favorit pilihan dalam melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi.

Fakultas Psikologi USU yang awalnya hanya meluluskan siswa tingkat sarjana, sejak tahun 2006 telah merintis jejak untuk menghasilkan sarjana profesi yang ahli dan spesialis pada bidang masing-masing. Salah satu spesialis atau biasa disebut kekhususan adalah di bidang Psikologi Perkembangan dan Kekhususan Klinis anak, yang memfokuskan diri pada keahlian di bidang perkembangan manusia sepanjang rentang kehidupannya, serta perkembangan anak secara khusus.

Perkembangan dalam hal ini tidak saja perkembangan yang normal namun juga anak dengan gangguan perkembangan. Ada berbagai gangguan perkembangan yang dapat diderita anak baik fisik, intelektual, perilaku, emosi dan sosial. Anak-anak dengan gangguan perkembangan tersebut sering disebut dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) atau Anak Spesial.

"Berdasarkan berbagai hasil penelitian, jumlah anak yang mengalami gangguan perkembangan semakin meningkat. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data dari Direktur Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Mudjito (7/5/2012), jumlah yang terdata mencapai 1.544.184 anak Spesial," katanya di sela-sela berlangsungnya acara Dies Natalis Psikologi USU ke-14 yang digelar, Jumat (12/4), di Fakultas Psikologi USU, Jalan Dr. Mansyur Medan.

Selain itu, lanjutnya, terjadi juga booming anak penyandang autis yang di awal tahun 1990an. Di antara 100.000 anak yang lahir, terdapat 1 anak penyandang autis. "Menurut salah seorang praktisi ahli autis, Dr Adriana Ginanjar, saat ini meningkat menjadi 1 banding 150," tuturnya menjelaskan.

Dengan kenyataan itu, tambahnya, timbul keprihatinan karena kondisi ini tidak disertai dengan semakin meningkatnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap anak-anak spesial ini. Masih banyak keluarga, guru dan masyarakat yang "menolak" keberadaan mereka.

Mereka diasingkan, sulit untuk diterima di sekolah dan selalu menjadi pusat perhatian jika berada di lingkungan sosial yang belum memahami kondisi mereka. Mereka sering disebut anak cacat, anak yang bodoh, anak yang aneh, dan gila. Mereka juga sering dianggap sebagai anak yang tidak punya masa depan.

"Suatu kondisi yang sangat tidak kondusif bagi perkembangan anak, juga anggota keluarganya karena menimbulkan rasa pesimis terhadap kehidupannya. Orangtua dengan Anak Spesial pun juga kerap mengalami kebingungan, selain dihadapkan pada pertanyaan bagaimana cara yang tepat dalam mengasuh dan mendidik anak-anak tersebut, juga harus berhadapan dengan reaksi anggota keluarga dan masyarakat terhadap kehadiran anak yang special," ucapnya lagi.
Penyesuaian di dalam keluarga merupakan dasar yang penting bagi perkembangan kesehatan mental dan kebahagiaan anak dan keluarga.

Mereka merupakan bagian dari keluarga dan masyarakat kita, serta bagian dari the next generation yang perlu dipersiapkan melalui pola pengasuhan, penanganan, dan pendidikan yang tepat agar dengan keterbatasan yang mereka miliki tetap adaptif, diterima, serta bermanfaat di lingkungannya.

Adapun tujuan umum dari acara ini adalah memperingati dan merayakan Dies Natalis Fakultas Psikologi USU 2013, dan memperkenalkan peran Psikologi Perkembangan untuk kesejahteraan masyarakat, khususnya komunitas yang terkait dengan Anak Spesial.

Sementara tujuan khususnya adalah memberi pemahaman kepada guru, orangtua, dan spesial sebagai upaya agar mereka dapat diperlakukan dan dididik dengan benar guna mengoptimalkan perkembangannya.

Dengan begitu kita bisa menciptakan generasi muda yang berkualitas sesuai dengan potensi yang dimilikinya, serta memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang anak.

"Kegiatan ini diharapkan dapat membuka wawasan masyarakat mengenai keberadaan Anak Berkebutuhan Khusus, sehingga dapat menerima mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Masyarakat juga mampu memperlakukan mereka dengan baik dan benar," jelasnya. (sri mahyuni)
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook