User ID Password  
Home   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini Hari Ini
E-paper
Foto Berita
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 12,165.00 12,185.00
SGD 9,362.00 9,392.70
JPY 103.23 103.85
MYR 3,613.80 3,653.51
CNY 1,977.60 1,989.75
THB 368.65 373.16
HKD 1,568.50 1,572.05
EUR 15,194.15 15,244.75
AUD 10,407.15 10,449.95
GBP 19,192.75 19,249.95
Last update: 27 Nov 2014 09:00 WIB
Ekonomi Dunia
Sabtu, 29 Jun 2013 06:19 WIB - http://mdn.biz.id/n/37458/ - Dibaca: 300 kali
Produksi Anjlok 50%
Petani Cabai Terpukul Cuaca Ekstrem
MedanBisnis - Jakarta. Para petani cabai di dalam negeri terpukul cuaca ekstrem yang melanda Indonesia sejak Juni 2013 lalu. Curah hujan dan cuaca panas tak menentu berdampak pada menurunnya produksi cabai lokal karena serangan hama patek yang membuat busuk cabai.
Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia Dadi Sudiana mengatakan sejak awal Juni produksi cabai di sentra-sentra cabai seperti di Banyuwangi, Jember, Lumajang dan Kediri menurun hingga 50%.

Penurunan produksi ini secara otomatis mengganggu suplai dan berimbas pada lonjakan harga di pasar,misalnya cabai rawit sempat tembus Rp 50.000/Kg di Jakarta dari normal Rp 20.000/Kg"Sekitar 50%, tolong yang dibantu itu petaninya," katanya di Jakarta, Jumat (28/6).

Dadi menjelaskan saat cuaca ekstrem produksi cabai petani lokal turun drastis dari setiap hektare 10-12 ton kini hanya 3-5 ton saja. Dampaknya biaya produksi per kg akan semakin membengkak.

Investasi satu hektare kebun cabai mencapai Rp 65 juta, saat produksi mencapai 12 ton maka harga per kg cabai bisa murah namun ketika hanya 3-5 ton harganya akan naik tajam
Saat harga cabai berlimpah karena tak ada gangguan produksi, harga cabai di petani hanya Rp 4.000/kg, kemudian saat produksi turun harganya kian melambung menjadi Rp 12.000-20.000/kg.

"Sepanjang iklimnya ekstrem begini sulit memprediksi, sekarang masih hujan, ke depannya kemaraunya bagaimana?" katanya.

Dia juga mengkritik pemerintah soal kebijakan impor cabai dari China dan Vietnam karena hanya untuk menyelesaikan masalah sesaat dan menguntungkan importir saja.

Permasalahan utama agar produksi cabai petani tak terganggu cuaca ekstrem dengan bantuan informasi BMKG yang tepat dan teknologi pertanian cabai yang tepat guna, justru belum menyentuh petani.

Dadi mengatakan pemerintah keterlaluan kalau tetap melakukan impor cabai hingga 9.000 ton pada semester II-2013 suatu keputusan pemerintah yang keterlaluan.

Menurutnya, kebijakan impor cabai saat harga di dalam negeri melonjak karena produksi cabai petani lokal terganggu cuaca tak menyelesaikan masalah mendasar pertanian di Indonesia. "Ini bukan menyelesaikan masalah tapi melanggengkan masalah petaninya tetap menderita," katanya.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Bachrul Chairi mengakui pada semester II-2013, pemerintah siap mengimpor cabai 9.000 ton dari negara China dan Vietnam. Izin impor sudah diberikan kepada 3 importir yang telah mendapat Surat Persetujuan Impor (SPI).

"Semester pertama sudah cukup namun untuk semester ke-2 nanti memang dialokasikan sekitar 9.000-an ton untuk cabai untuk masuk di akhir tahun setelah panen di Indonesia. (dtf)
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
BERITA TERKAIT
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!
Partisipasi Menggunakan Facebook