User ID Password  
HOME   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
Berita Terkini Hari Ini
BERITA TERKINI SELENGKAPNYA
E-paper
Foto Berita
Efek Pencetak Laba (RPH)
UNTR 825 3.75%
BRAM 800 12.9%
UNVR 800 1.94%
Last update: 24 Jan 2017
Efek Pencetak Rugi (RPH)
PTBA -400 -3.42%
ITMG -325 -2.15%
BLTZ -200 -2.5%
Last update: 24 Jan 2017
Volume Terbesar
ENRG 5,616,708,096
MYRX 1,236,487,936
BUMI 1,192,319,872
Last update: 24 Jan 2017
Transaksi Tertinggi
BUMI 561,502,486,528
TLKM 444,253,732,864
ENRG 338,556,157,952
Last update: 24 Jan 2017
Efek Teraktif
ENRG 25,121 Freq
BUMI 13,346 Freq
LMAS 12,454 Freq
Last update: 24 Jan 2017
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 13,263.00 13,397.00
SGD 9,361.90 9,457.82
JPY 11,750.69 11,877.83
MYR 2,989.86 3,022.11
CNY 1,940.99 1,960.60
THB 376.68 380.70
HKD 1,709.83 1,727.13
EUR 14,273.64 14,423.21
AUD 10,078.55 10,193.78
GBP 16,633.13 16,803.86
Last update: 24 Jan 2017 11:03 WIB
Wacana
Senin, 09 Jan 2017 07:08 WIB - http://mdn.biz.id/n/277238/ - Dibaca: 431 kali
Isi dan Bungkus Debat Kawasan Danau Toba
MENGHADIRKAN debat konseptual terkait wacana pembangunan kawasan Danau Toba menjadi relevan di tengah hiruk-pikuk pembangunan kawasan Danau itu saat ini. Saya ingin merangkum perdebatan yang ada secara umum pada tiga pandangan klasik - namun tetap relevan - terkait pembangunan kawasan Danau Toba yang tersebar di publik, media resmi dan media sosial.
Pandangan pertama adalah segala wacana yang berakar pada teori modernisasi. Teori ini berpandangan bahwa kehidupan masyarakat itu linear menuju suatu kondisi yang terus menerus bertumbuh dan meningkat secara ekonomi, seperti perkembangan yang terjadi di Eropa Barat. Para penganut modernisasi percaya bahwa tidak ada pilihan lain selain mengikuti perkembangan sebagaimana terjadi pada model industrialisasi Eropa Barat yang dianggap berhasil itu.

Salah satu pendukung gagasan modernisasi, WW Rostow (1960) yang menulis teori pertumbuhan linear masyarakat dunia, menyatakan bahwa masyarakat bertumbuh secara linear dari masyarakat tradisional, pra tinggal landas, tinggal landas, hingga masyarakat dewasa dan konsumsi yang tinggi dan stabil sebagai puncak peradaban. Dengan segala variannya, modernisasi ini menjadi gagasan mainstream yang dianut para pengambil kebijakan, teknokrat, politisi dan akademisi di dunia. Secara hemat dapat disebutkan pemikiran ini merajai para pelaku penting rencana pembangunan kawasan Danau Toba.

Para pendukung gagasan ini melihat pembangunan sebagai kosntruksi benda-benda mati. Ungkapan yang biasa kita dengar adalah, kita sudah lama diabaikan, sekarang saatnya peta kemiskinan ini dibangun.

Nanti rakyat akan mendapatkan keuntungan juga, dengan menjadi pelaku pramuwisata, pemandu, pengaman, dan lain-lain yang menghasilkan uang lebih cepat daripada bertani. "Ayo percepat pembangunan jalan tol, nanti saya bisa bangun rest area".

"Ayo ikut bangun guest house, ayo libatkan rakyat untuk buat penginapan-penginapan, ayo bangun hotel, dan ayo beli tanah". Para pihak yang tergiur dengan uang yang diangin-anginkan sebanyak 21 triliun rupiah itu berada di kotak ini.

Pandangan kedua adalah segala wacana yang berakar pada teori pembangunan manusia. Pandangan-pandangan yang berakar pada teori ini melihat pembangunan oke tetap dilaksanakan, tetapi dengan memperhatikan dan mengutamakan subjeknya yakni manusia, atau masyarakat sekitar wilayah yang akan dibangun.

Gagasan ini membicarakan bagaimana kondisi kesehatan masyarakat, kondisi lingkungan hidup dan tingkat pendidikan warga yang perlu disiapkan untuk menyongsong pembangunan itu.

Ungkapan yang sering kita dengar bagi orang orang ini adalah; masyarakat lokal harus jadi pelaku utama, masyarakat lokal jangan sampai terpinggirkan. Juga, tidak lupa, peran perempuan harus diutamakan.

Gagasan Amartya Sen ini banyak dipakai oleh lembaga lembaga internasional termasuk lembaga swadaya masyarakat. Para pihak yang royo-royo melakukan seminar, workshop, diskusi terfokus dan pertemuan-pertemuan umum lainnya di kantor pemerintah hingga hotel mewah termasuk pada kelompok ini. Pandangan ini cukup menguasai media-media sosial kelas menengah yang ingin eksis- eksisan.

Kelompok-kelompok ini berbicara tentang perlunya free prior and informed consent, yakni memastikan warga lokal ditanyakan terkait persetujuan atau ketidaksetujuan terkait pembangunan. Supaya Danau Toba menarik, ayo kita bersihkan eceng gondok dan jika perlu kerambah juga dibersihkan, supaya mata investor dan wisatawan enak memandang Danau Toba.

Perlunya pelibatan kelompok-kelompok masyarakat dan adat dalam pengambilan keputusan-keputusan pembangunan. Pandangan ini sesungguhnya masih satu rumah dengan modernisasi, tetapi hanya mengubah sedikit arah dan cara pembangunan itu dilakukan. Kalau pembangunan ini dilakukan, kita harus mempertimbangkan perasaan masyarakat lokal.

Pandangan ketiga adalah kritik pembangunan, atau apa yang disebut Andre Gunder Frank sebagai dependencia theory. Pandangan ini secara kritis melacak agenda ekonomi politik dibalik agenda pembangunan itu sendiri. Pandangan ini sejak awal mempertanyakan basis pikiran pembangunan yang disodorkan oleh para penganut modernisasi. Pandangan ini juga secara jeli mempertanyakan siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan dari agenda pembangunan.

Pandangan ini mencurigai, bahwa agenda pembangunan, katakanlah seperti investasi besar besaran kawasan Danau Toba sebenarnya adalah agenda memperlambat krisis kapital di lokasi lain.

Bertumpuknya kapital disatu lokasi akan menimbulkan krisis besar kalau tidak segera dilemparkan kewilayah baru. Gagasan ini membebaskan - dan meragukan - bahwa syarat-syarat yang ditempuh untuk menjadi manusia yang seutuhnya dengan cara menciptakan agenda pembangunan.

Gagasan ini konsisten menguliti isi dan tidak terjebak pada bungkus. Tujuan dari kritik ini adalah menyediakan gagasan pembebasan.

Menurut gagasan ini, agenda pembebasan manusia dan masyarakat tidak mungkin dilakukan dengan jalan modernisasi dan penyediaan jalan tol untuk kapitalisme.

Karena natur kapitalisme adalah akumulatif tanpa moral, maka mustahil menggantungkan harapan keadilan pada sistem ini. Oleh karena itu kapitalisme harus dihentikan atau dijinakkan. Tugas negaralah untuk menjinakkan kapitalisme itu.

Jika negara masih hanya berpihak kepada akumulasi modal, maka satu satunya jalan menjinakkan keserakahan itu adalah manusia manusia sadar terorganisir kuat, juga kelompok kelompok sosial yang tidak menjadikan rakyat sebagai komoditi, yang tidak menjadikan rakyat sebagai tumpangan sementara melancarkan kepentingan-kepentingan organisasi, tetapi yang menjadikan rakyat mandiri dan kuat.

(Oleh: Saurlin Siagian MA) Penulis dosen sosiologi pembangunan UDA Medan
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
Informasi pemasangan barrier gate, jual barrier gate dan Barrier Gate Otomatis, hubungi NICE Automatic Gate sekarang juga! Terima kasih!
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!