User ID Password  
HOME   |   Tentang Kami   |   Pasang Iklan   |   Index Berita   |   Iklan Baris Gratis   |   Hubungi Kami Daftar Menjadi Member   |   Login
Membangun Indonesia yang Lebih Baik
 
 
 
 
Berita Terkini Hari Ini
BERITA TERKINI SELENGKAPNYA
E-paper
Foto Berita
Efek Pencetak Laba (RPH)
GGRM 1,200 1.83%
RDTX 1,100 14.86%
PLIN 760 18.91%
Last update: 30 Mar 2017
Efek Pencetak Rugi (RPH)
AMFG -350 -5%
BBNI -225 -3.41%
SMGR -225 -2.48%
Last update: 30 Mar 2017
Volume Terbesar
SRIL 3,450,991,872
MYRX 2,166,923,520
BKSL 418,262,400
Last update: 30 Mar 2017
Transaksi Tertinggi
SRIL 1,205,523,931,000
BBCA 324,086,035,000
ASII 324,029,582,500
Last update: 30 Mar 2017
Efek Teraktif
SRIL 53,180 Freq
TRAM 10,505 Freq
KBLI 9,623 Freq
Last update: 30 Mar 2017
Kurs Valuta Asing
Mata Uang Beli Jual
USD 13,249.00 13,383.00
SGD 9,486.61 9,588.05
JPY 11,896.38 12,022.10
MYR 2,995.48 3,029.20
CNY 1,923.24 1,942.69
THB 383.92 388.03
HKD 1,704.97 1,722.24
EUR 14,237.38 14,386.73
AUD 10,150.06 10,254.05
GBP 16,481.76 16,649.79
Last update: 30 Mar 2017 11:20 WIB
Headline News
Kamis, 12 Jan 2017 06:20 WIB - http://mdn.biz.id/n/277782/ - Dibaca: 189 kali
Kolom
Deindustrialisasi Sebuah Ancaman
(Medanbisnis/Bersihar Lubis)
Mudah-mudahan prospek harga minyak sawit (CPO) yang cerah tahun ini tidak membuat deindustrialisasi semakin menancapkan kukunya. Maklum, harga CPO pada 2017 diperkirakan akan berada di atas US$700 per ton. Tapi syukur industri hilir sawit malah semakin kuat.
Apalagi pemakaian biodiesel berbahan baku CPO pun kian marak di Eropa dan Amerika. CPO juga lebih mengungguli minyak bunga matahari dan minyak kedelai - dua komoditas Eropa - karena dari sisi harga dan kualitas, CPO lebih ekonomis.

Memang, kini orang lebih suka beralih ke industri komoditas, seperti batu bara, dan nikel yang tidak diolah. Bukan industri barang jadi. Tragisnya, kita mengekspor kakao - yang harganya juga naik - ke Malaysia. Lalu mereka mengolahnya menjadi barang jadi dan memasarkannya ke Indonesia dengan harga yang lebih mahal.

Saya kira, fenomena ini menunjukkan kita masih seperti VOC (kongsi dagang Belanda) di zaman penjajahan kolonial Belanda. Komoditas bahan mentah Indonesia dikirim ke luar negeri. Padahal, zaman sudah berubah. Penjajahan pun sudah dihapuskan oleh sejarah.

Sesungguhnya ini adalah pola perdagangan yang kuno. Sudah semestinya Indonesia bergairah masuk ke industri manufaktur.

Namun pemerintah tampaknya lebih mendorong ekspor komoditas untuk mencetak devisa, mumpung kurs dolar AS lagi menguat. Keran ekspor komoditas dipacu laju. Kita pun khawatir akan membuat industri dalam negeri semakin lemah daya saingnya.

Jika pemerintahan kolonial mengembangkan perdagangan komoditas mentah ke luar negeri, memang sudah merupakan pola dan desain perekonomian yang menguntungkan mereka.

Tampaknya, pertumbuhan industri manufaktur dalam negeri perlu dimarakkan. Bahkan, harus menjadi crash program. Pemerintah harus menciptakan suasana yang kondusif. Selain dukungan kredit perbankan, juga insentif berupa pemotongan pajak impor untuk barang modal berupa mesin industri. Bila perlu juga tax holiday.

Jangan sampai menunggu industri domestik terpuruk, baru mata kita terbuka. Contohlah, ekspor hasil industri hilir sawit yang sudah mencapai 75% dari total ekspor minyak sawit dan turunannya. (Bersihar Lubis)
Iklan Baris Gratis Dilihat lebih dari 15,000 visitor setiap harinya Pasang
Informasi pemasangan barrier gate, jual barrier gate dan Barrier Gate Otomatis, hubungi NICE Automatic Gate sekarang juga! Terima kasih!
KIRIM KOMENTAR
Silakan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar atau
klik daftar untuk menjadi member MedanBisnisDaily.com
KOMENTAR ANDA
Tidak ada komentar pada berita ini!